Psikologi menjelaskan bahwa Gen Z menghadapi kesulitan unik dalam menguasai keterampilan dasar fase dewasa akibat pengaruh teknologi dan perubahan sosial yang drastis.
Kehidupan dewasa Gen Z dibentuk oleh media sosial, pandemi, dan budaya digital yang secara tidak langsung menghambat perkembangan berbagai keterampilan dasar penting.
Banyak dari kesulitan Gen Z ini bukan semata-mata karena kurang usaha, melainkan akibat konteks tumbuh kembang yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (7/6), berikut sebelas keterampilan dasar fase dewasa yang ternyata menjadi kesulitan nyata bagi Gen Z berdasarkan sudut pandang psikologi modern.
- Menetapkan batas waktu layar yang sehat
Penggunaan layar yang berlebihan tidak hanya merusak perkembangan anak, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial dan kesehatan mental generasi muda secara dewasa.
Meski banyak Gen Z sudah menyadari masalah ini, mereka masih berjuang membangun komunitas nyata di luar dunia digital yang sudah sangat mendominasi kehidupan mereka.
- Membangun persahabatan baru di usia dewasa
Riset dari Dartmouth College menemukan bahwa Gen Z secara kolektif kesulitan membangun dan mempertahankan persahabatan baru di kehidupan dewasa mereka.
Hilangnya akses ke ruang komunitas sosial dan konsekuensi teknologi membuat tingkat kesepian, stres, dan isolasi pada generasi ini terus meningkat secara mengkhawatirkan.
- Menjahit atau memperbaiki pakaian sendiri
Meski hobi-hobi tradisional seperti menjahit mulai kembali populer, keterampilan ini tetap sulit dikuasai karena membutuhkan komitmen waktu dan latihan yang konsisten.
Namun seiring nilai-nilai keberlanjutan yang semakin menguat di kalangan Gen Z, keterampilan memperbaiki pakaian semakin dianggap penting dan relevan bagi mereka.
- Berbicara nyaman di telepon
Gen Z cenderung menghindari panggilan telepon dan lebih memilih teks atau media sosial, sebagian besar karena kecemasan sosial dan preferensi kenyamanan digital.
Masuknya generasi ini ke dunia dewasa yang bertepatan dengan pandemi global semakin memperparah rasa cemas yang muncul saat harus berbicara langsung lewat telepon.
- Melakukan perhitungan matematika dasar tanpa kalkulator
Dengan kemudahan teknologi di mana-mana, tidak mengherankan bahwa banyak Gen Z langsung meraih ponsel untuk kalkulasi paling sederhana sekalipun.
Riset dari National Assessment of Educational Progress menunjukkan bahwa nilai matematika rata-rata remaja terus menurun secara konsisten sejak tahun 2020.
- Melakukan percakapan tatap muka di tempat kerja
Lebih dari 60 persen Gen Z saat ini mengalami kecemasan sosial menurut riset dari Harmony Healthcare IT, membuat interaksi langsung terasa sangat menantang.
Isolasi yang panjang selama pandemi dan tumbuh dalam lingkungan digital membuat percakapan tatap muka di tempat kerja terasa sangat sulit untuk dijalani.
- Menangani perbaikan rumah tangga dasar
Kebanyakan Gen Z adalah penyewa, bukan pemilik rumah, sehingga tidak memiliki kesempatan atau kebutuhan untuk mempelajari keterampilan perbaikan rumah sendiri.
Menurut riset dari Harvard Joint Center for Housing Studies, Gen Z mendominasi pasar sewa dan sebagian besar mengandalkan staf pemeliharaan untuk masalah rumah tangga.
- Merencanakan belanja dan mematuhi anggaran
Gen Z lebih banyak berbelanja secara online daripada ke toko fisik, dengan lebih dari 83 persen mengaku berbelanja kebutuhan sehari-hari secara digital dalam tiga bulan terakhir.
Ketergantungan pada kemudahan belanja digital membuat banyak Gen Z kesulitan merencanakan belanja dengan anggaran tetap saat harus berbelanja secara langsung.
- Menggunakan sopan santun dasar dalam situasi sosial
Banyak Gen Z memasuki dunia dewasa di masa yang penuh gejolak, sehingga mereka melewatkan pengalaman sosial tatap muka yang membentuk etika dan tata krama.
Perbedaan norma etika antargenerasi membuat banyak Gen Z merasa kesulitan memenuhi ekspektasi sopan santun yang sudah dianggap wajar oleh generasi sebelumnya.
- Memasak makanan sederhana di rumah
Hampir dua pertiga Gen Z mengaku tidak memiliki keterampilan memasak dasar dan lebih sering makan di luar daripada memasak sendiri di rumah.
Ketergantungan pada makan di luar ini bisa berdampak buruk secara fisik dan finansial, terutama di tengah biaya hidup yang terus meningkat saat ini.
- Membaca peta fisik tanpa bantuan GPS
Karena hampir tidak pernah melepaskan ponsel, ketidakmampuan membaca peta fisik umumnya tidak menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari Gen Z.
Namun jika ponsel tidak tersedia atau sinyal hilang, banyak dari mereka akan benar-benar kebingungan karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.(jpc)


