29.5 C
Jakarta
Saturday, November 29, 2025

Trio Striker Asing Persebaya Mandul, Investasi Miliaran Belum Berbuah Gol

PROKALTENG.CO – Krisis ketajaman kembali menghantui Persebaya Surabaya. Trio striker asing yang diboyong dengan total nilai pasar Rp 12,61 miliar. Mihailo Perovic, Dejan Tumbas, dan Diego Mauricio belum mampu menjawab ekspektasi di Super League 2025/2026. Alih-alih menjadi mesin gol, performa mereka justru membuat lini depan Green Force makin sorotan.

Hasil imbang 1–1 kontra Bhayangkara Presisi Lampung FC pada pekan ke-14 kian memperjelas masalah. Di era pelatih interim Uston Nawawi, Persebaya masih kesulitan menemukan sentuhan mematikan di depan gawang. Catatan lebih pahitnya lagi, tim ini tak mencetak gol sejak pekan ke-11 saat menjamu Persis Solo di Gelora Bung Tomo.

Performa tidak konsisten dan efek ditinggalnya pelatih kepala membuat arah permainan Persebaya mudah terbaca lawan. Lini serang jadi titik paling disorot karena ketajaman seperti hilang begitu saja.

Gol terakhir dari lini depan terjadi tiga pekan lalu lewat aksi Mihailo Perovic bersama Francisco Rivera. Setelah itu? Trio asing seperti kehilangan taji, bahkan tak mampu memecah kebuntuan meski peluang hadir.

Perovic datang sebagai penyerang utama dengan nilai pasar Rp 4,35 miliar. Namun dua gol dari 12 laga masih jauh dari harapan. Dengan catatan xG 3,43 dan 13 percobaan, efektivitasnya dianggap belum memenuhi standar striker utama.

Baca Juga :  Gustavo Franca Gabung Persija, Siap Jadi Motor Serangan Macan Kemayoran

929 menit bermain, dua keypass, dan akurasi umpan 80 persen turut memunculkan pertanyaan besar: apakah ia benar-benar pemimpin lini depan yang dibutuhkan Persebaya?

Situasi berbeda dialami Dejan Tumbas. Berharga Rp 3,48 miliar, tetapi justru beberapa kali digeser posisi. Era Paul Munster ia bermain sebagai gelandang bertahan, sementara era Eduardo Perez ia dipasang sebagai fullback kiri. Ritmenya ikut kacau.

Electronic money exchangers listing

Dejan sudah tampil 827 menit dalam sepuluh laga tanpa satu gol pun meski punya xG 2,59. Sembilan percobaannya belum menghasilkan ancaman berarti. Kartu merah yang pernah diterimanya ikut memperkeruh keadaan.

Bonek pun ramai mempertanyakan rotasi posisi ini. Banyak yang menilai Dejan tak akan berkembang jika terus dilepas jauh dari peran aslinya sebagai striker.

“Era PM jadi DMF, era Edu malah di fullback. Edu keluar harusnya bisa balik ke CF atau striker,” tulis seorang Bonek di media sosial. Komentar lain menambahkan, “Masih penasaran sama Tumbas kalau dikasih menit penuh di posisi striker.”
Ada juga yang menyindir rotasi tak jelas itu dengan kalimat pendek namun pedas: “Jan rajelas kabeh.”

Baca Juga :  Persela Semakin Dekat Liga 2

Sementara itu, Diego Mauricio, penyerang dengan nilai pasar tertinggi Rp 4,78 miliar, justru minim kontribusi karena jarang dimainkan. Baru dua laga dengan total 33 menit, hanya satu percobaan tanpa gol.
Dengan xG 0,05, Diego bahkan belum menciptakan peluang atau memberikan assist. Publik pun mempertanyakan alasan perekrutannya.

Minimnya kontribusi tiga pemain yang seharusnya menjadi tumpuan membuat Bonek semakin frustrasi. Keluhan muncul di berbagai platform, mulai dari “setelan pasar” hingga sindiran bahwa pemain asing tidak lebih baik dari pemain lokal.

“Rombak–nggak dirombak–hasilnya ya begini-begini saja. Ciri khas ngeyel itu lebih cocok buat arek Suroboyo daripada striker asing,” ungkap seorang suporter. Yang lain memberi komentar singkat, “Sedih sekali.”

Dengan posisi kedelapan dan 17 poin, peluang menembus papan atas masih terbuka. Namun syaratnya jelas: trio Perovic–Dejan–Diego harus segera bangkit.

Pertanyaannya kini, akankah mereka menemukan ketajaman di pekan-pekan berikutnya?Atau justru menambah daftar panjang striker asing yang gagal bersinar dan membuat investasi besar Persebaya terasa sia-sia? Musim masih panjang, peluang masih ada, tapi waktu tak menunggu. Persebaya butuh gol—dan butuhnya sekarang. (jpg)

PROKALTENG.CO – Krisis ketajaman kembali menghantui Persebaya Surabaya. Trio striker asing yang diboyong dengan total nilai pasar Rp 12,61 miliar. Mihailo Perovic, Dejan Tumbas, dan Diego Mauricio belum mampu menjawab ekspektasi di Super League 2025/2026. Alih-alih menjadi mesin gol, performa mereka justru membuat lini depan Green Force makin sorotan.

Hasil imbang 1–1 kontra Bhayangkara Presisi Lampung FC pada pekan ke-14 kian memperjelas masalah. Di era pelatih interim Uston Nawawi, Persebaya masih kesulitan menemukan sentuhan mematikan di depan gawang. Catatan lebih pahitnya lagi, tim ini tak mencetak gol sejak pekan ke-11 saat menjamu Persis Solo di Gelora Bung Tomo.

Performa tidak konsisten dan efek ditinggalnya pelatih kepala membuat arah permainan Persebaya mudah terbaca lawan. Lini serang jadi titik paling disorot karena ketajaman seperti hilang begitu saja.

Electronic money exchangers listing

Gol terakhir dari lini depan terjadi tiga pekan lalu lewat aksi Mihailo Perovic bersama Francisco Rivera. Setelah itu? Trio asing seperti kehilangan taji, bahkan tak mampu memecah kebuntuan meski peluang hadir.

Perovic datang sebagai penyerang utama dengan nilai pasar Rp 4,35 miliar. Namun dua gol dari 12 laga masih jauh dari harapan. Dengan catatan xG 3,43 dan 13 percobaan, efektivitasnya dianggap belum memenuhi standar striker utama.

Baca Juga :  Gustavo Franca Gabung Persija, Siap Jadi Motor Serangan Macan Kemayoran

929 menit bermain, dua keypass, dan akurasi umpan 80 persen turut memunculkan pertanyaan besar: apakah ia benar-benar pemimpin lini depan yang dibutuhkan Persebaya?

Situasi berbeda dialami Dejan Tumbas. Berharga Rp 3,48 miliar, tetapi justru beberapa kali digeser posisi. Era Paul Munster ia bermain sebagai gelandang bertahan, sementara era Eduardo Perez ia dipasang sebagai fullback kiri. Ritmenya ikut kacau.

Dejan sudah tampil 827 menit dalam sepuluh laga tanpa satu gol pun meski punya xG 2,59. Sembilan percobaannya belum menghasilkan ancaman berarti. Kartu merah yang pernah diterimanya ikut memperkeruh keadaan.

Bonek pun ramai mempertanyakan rotasi posisi ini. Banyak yang menilai Dejan tak akan berkembang jika terus dilepas jauh dari peran aslinya sebagai striker.

“Era PM jadi DMF, era Edu malah di fullback. Edu keluar harusnya bisa balik ke CF atau striker,” tulis seorang Bonek di media sosial. Komentar lain menambahkan, “Masih penasaran sama Tumbas kalau dikasih menit penuh di posisi striker.”
Ada juga yang menyindir rotasi tak jelas itu dengan kalimat pendek namun pedas: “Jan rajelas kabeh.”

Baca Juga :  Persela Semakin Dekat Liga 2

Sementara itu, Diego Mauricio, penyerang dengan nilai pasar tertinggi Rp 4,78 miliar, justru minim kontribusi karena jarang dimainkan. Baru dua laga dengan total 33 menit, hanya satu percobaan tanpa gol.
Dengan xG 0,05, Diego bahkan belum menciptakan peluang atau memberikan assist. Publik pun mempertanyakan alasan perekrutannya.

Minimnya kontribusi tiga pemain yang seharusnya menjadi tumpuan membuat Bonek semakin frustrasi. Keluhan muncul di berbagai platform, mulai dari “setelan pasar” hingga sindiran bahwa pemain asing tidak lebih baik dari pemain lokal.

“Rombak–nggak dirombak–hasilnya ya begini-begini saja. Ciri khas ngeyel itu lebih cocok buat arek Suroboyo daripada striker asing,” ungkap seorang suporter. Yang lain memberi komentar singkat, “Sedih sekali.”

Dengan posisi kedelapan dan 17 poin, peluang menembus papan atas masih terbuka. Namun syaratnya jelas: trio Perovic–Dejan–Diego harus segera bangkit.

Pertanyaannya kini, akankah mereka menemukan ketajaman di pekan-pekan berikutnya?Atau justru menambah daftar panjang striker asing yang gagal bersinar dan membuat investasi besar Persebaya terasa sia-sia? Musim masih panjang, peluang masih ada, tapi waktu tak menunggu. Persebaya butuh gol—dan butuhnya sekarang. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru