Kemenangan telak Real Madrid atas Manchester City memberikan banyak pelajaran penting bagi Bayern Munchen. Tim asuhan Vincent Kompany kemungkinan besar akan menghadapi salah satu dari dua raksasa tersebut di perempat final Liga Champions bulan depan.
Pertandingan Real Madrid vs Manchester City memperlihatkan bagaimana strategi yang salah bisa menjadi bumerang, bahkan bagi pelatih sekelas Pep Guardiola. Banyak hal yang bisa dipelajari Bayern Munchen dari duel tersebut, mulai dari pendekatan taktik hingga mentalitas pertandingan di panggung Eropa.
Melansir Bavarian Football, berikut lima hal penting yang patut menjadi perhatian Bayern Munchen setelah laga Real Madrid kontra Manchester City di Liga Champions.
- Pep Guardiola Terlalu Berani
Pep Guardiola memilih pendekatan yang sangat agresif sejak awal pertandingan. Dia menurunkan tidak kurang dari lima pemain menyerang sekaligus. Erling Haaland, Jeremy Doku, Antoine Semenyo, Savinho, dan Bernardo Silva.
Sementara itu, Rodri menjadi satu-satunya gelandang yang mengawal lini tengah. Strategi ini sebenarnya sempat bekerja selama sekitar 15 menit pertama ketika City menekan Madrid secara intens.
Namun masalah muncul ketika tekanan tersebut mulai kehilangan momentum. Madrid dengan cepat membaca ritme permainan City dan mulai melancarkan serangan balik yang mematikan.
Pendekatan menyerang habis-habisan membuat lini belakang City terlalu terbuka. Tanpa perlindungan yang cukup di lini tengah, Madrid dengan mudah menembus tekanan dan menghukum ruang kosong yang ditinggalkan.
- Jangan Pernah Meremehkan Real Madrid
Real Madrid kembali membuktikan reputasi mereka di Liga Champions. Terlepas dari berbagai kondisi yang tidak ideal, tim ini selalu mampu menemukan cara untuk tampil luar biasa di kompetisi Eropa.
Xabi Alonso dipecat? Tanpa Mbappe? Tanpa Bellingham? Tertinggal di La Liga? Apakah Vinicius Jr. sedang tidak dalam performa terbaik?
Semua itu tidak tampak berarti ketika Madrid bermain di Liga Champions. Tidak banyak yang membayangkan mereka bisa unggul 3-0 atas City hanya dalam waktu 45 menit, apalagi dengan hattrick dari Federico Valverde.
Mentalitas inilah yang membuat Madrid sangat berbahaya. Mereka selalu mampu menemukan energi ekstra dalam situasi apa pun.
- Perebutan Lini Tengah Menentukan Segalanya
Pertandingan ini juga kembali menegaskan satu prinsip penting di Liga Champions, siapa yang menguasai lini tengah, dialah yang mengendalikan pertandingan. Madrid tampil dominan di sektor ini berkat penampilan luar biasa Aurelien Tchouameni. Gelandang Prancis itu seperti melakukan pekerjaan tiga pemain sekaligus.
Guardiola melakukan dua kesalahan besar di area ini. Pertama, dia mengandalkan Rodri sendirian untuk mengontrol lini tengah. Kedua, dia berharap pressing agresif cukup untuk menutup ruang.
Kenyataannya tidak demikian. Madrid mampu keluar dari tekanan dengan cepat berkat kualitas umpan dan kecerdasan posisi mereka. Ketika lini tengah City kalah jumlah dan kalah duel, bencana pun tak terhindarkan.
- Trent Alexander-Arnold Menjadi Titik Lemah
Satu hal yang sebenarnya dilakukan dengan tepat oleh Guardiola adalah mengidentifikasi kelemahan di sisi kanan pertahanan Madrid. Bek kanan Trent Alexander-Arnold menjadi sasaran utama serangan City, terutama melalui aksi dribel Jeremy Doku di sisi kiri. Meski tidak menghasilkan gol, sebagian besar peluang berbahaya City lahir dari area tersebut.
Bagi Bayern, ini bisa menjadi celah yang bisa dimanfaatkan. Walau tidak memiliki pemain dengan gaya dribel seperti Doku, kecuali mungkin Jamal Musiala, kombinasi kecepatan dan kekuatan Luis Diaz serta Alphonso Davies bisa menjadi ancaman serius bagi sisi kanan pertahanan Madrid. Tentu saja, semuanya akan sangat bergantung pada kondisi kebugaran Davies.
- Tim yang Lebih Bermasalah Justru Menang
Secara teori, Manchester City sebenarnya terlihat sebagai lawan yang lebih nyaman bagi Bayern. Dalam duel antara guru dan murid, Vincent Kompany mungkin bisa mengandalkan kekuatan skuad dan struktur taktik untuk menantang tim Guardiola.
Namun kemenangan Madrid justru membuat situasi menjadi lebih rumit. Madrid adalah tim dengan mentalitas baja, sangat kuat di lini tengah, dan sangat berbahaya dalam serangan balik.
Mereka juga tidak keberatan kehilangan penguasaan bola selama masih bisa memanfaatkan ruang yang terbuka. Faktor-faktor tersebut membuat Madrid menjadi lawan yang jauh lebih sulit dihadapi.
Bagi Bayern Munchen, hasil ini jelas menjadi pengingat penting. Jika mereka benar-benar bertemu Madrid di perempat final, mereka harus mempersiapkan diri menghadapi tim yang bukan hanya kuat secara taktik, tetapi juga memiliki mentalitas Liga Champions yang hampir tak tertandingi.(jpc)


