alexametrics
23.8 C
Palangkaraya
Wednesday, August 17, 2022

Soal Pidato Sindiran Surya Paloh, Respons para Elite di PDIP Beragam

Ketua Umum Partai Nasdem
Surya Paloh memberikan sindiran terhadap pihak-pihak yang menanggapi sinis dan
mencurigai pertemuannya dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul
Iman. Bahkan dia menyebut ada partai yang mengaku Pancasilais namun mengajak
memusuhi kawannya.

Menanggapi itu, Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP), Hendrawan Supratikno menanggapi positif. Hendrawan tidak merasa
sindiran itu ditujukan untuk PDIP sebagai partai yang menjunjung nilai
Pancasila.

“Pidato Bang Surya Paloh lebih berisi harapan-harapan tentang
masa depan, harapan tentang perilaku politik yang ideal. Jadi, sifatnya
normatif. Bagus,” ujar Hendrawan kepada wartawan, Sabtu (9/11).

Dia menilai pidato Surya mengingatkan kedewasaan dalam politik
untuk memajukan bangsa. Hal itu senada dengan komitmen PDIP saat kongres di
Bali.

PDIP menilai politik adalah jalan membangun peradaban yang lebih
baik. “Ini harapan kita semua. Tanpa harus menghardik, tanpa harus saling
mencurigai apalagi saling memusuhi,” tegas Hendrawan.

Baca Juga :  Sugianto Sabran-Habib Masih Dinamis, Riban-Ben Mengarah ke Final

Reaksi berbeda ditunjukkan oleh politikus PDIP lainnya, Andreas
Hugo Pareira. Menurut dia sindiran Paloh terlalu berlebihan, karena menyinggung
ideologi partai.

“Reaksi Surya Paloh terhadap sindiran Presiden pun menurut saya
terlalu emosional, membawa diskursus seolah persoalan pelukan ini masuk dalam
wilayah ideologis partai-partai pendukung Jokowi-Ma’ruf,” ucapnya.

Andreas menuturkan, pembentukan kabinet memang tidak bisa
memuaskan semua pihak. Namun, pemerintah dan koalisi tetap solid.

Selain itu, dia menilai tidak ada satu partai pun yang
mengatakan rangkulan Paloh dengan Sohibul Iman memiliki makna ideologis. Di
sisi lain PDIP mengerti dinamika elite partai bagian dari politik pertemanan.

“Menurut saya, tuduhan Surya Paloh soal partai Pancasilais pun
menjadi terlalu emosional dan sama sekali tidak bermakna ideologis,” tukasnya.

Sementara itu, Surya Paloh membantah jika pidatonya terlalu
reaktif maupun emosional. “Nggak juga, nggak mungkin kita reaktif dengan Pak
Jokowi. Artinya memang selalu bagaimana pun menawarkan alternatif
pikiran-pikiran,” ucapnya.

Baca Juga :  PKB Sesalkan Kerumunan Vaksinasi, Pemerintah Diminta Antisipasi

Surya pun memastikan tidak dalam hal menyindir PDIP terkait
partai Pancasilais yang memusuhi kawannya. “PDIP kan sahabat. Kita bersahabat
dengan semuanya. Untuk apa saling menyinggung,” pungkasnya.

Sebelumnya, Surya Paloh dalam pidatonya di pembukaan Kongres II
menyinggung terkait pertemuannya dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera
(PKS) Sohibul Iman. Menurut dia, sekarang mulai muncul intrik-intrik yang
mengundang sinisme dan kecurigaan satu sama lain.

Paloh menilai kondisi seperti ini tidak sehat dalam berbangsa
dan bernegara. Menurutnya, itu membangun diskursus politik picik. “Hubungan
rangkulan dan tali silahturahmi politik dimaknai dengan berbagai macam tafsir
dan kecurigaan,” kata Surya.

“Bangsa ini sudah capek dengan segala intrik yang mengundang
sinisme satu sama lain kecurigaan satu sama lain hingga kita berkujung ke
kawan, ini bangsa model apa seperti ini?” imbuhnya.(jpc)

 

Ketua Umum Partai Nasdem
Surya Paloh memberikan sindiran terhadap pihak-pihak yang menanggapi sinis dan
mencurigai pertemuannya dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul
Iman. Bahkan dia menyebut ada partai yang mengaku Pancasilais namun mengajak
memusuhi kawannya.

Menanggapi itu, Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP), Hendrawan Supratikno menanggapi positif. Hendrawan tidak merasa
sindiran itu ditujukan untuk PDIP sebagai partai yang menjunjung nilai
Pancasila.

“Pidato Bang Surya Paloh lebih berisi harapan-harapan tentang
masa depan, harapan tentang perilaku politik yang ideal. Jadi, sifatnya
normatif. Bagus,” ujar Hendrawan kepada wartawan, Sabtu (9/11).

Dia menilai pidato Surya mengingatkan kedewasaan dalam politik
untuk memajukan bangsa. Hal itu senada dengan komitmen PDIP saat kongres di
Bali.

PDIP menilai politik adalah jalan membangun peradaban yang lebih
baik. “Ini harapan kita semua. Tanpa harus menghardik, tanpa harus saling
mencurigai apalagi saling memusuhi,” tegas Hendrawan.

Baca Juga :  Bahas APBD 2020 Secara Cepat dan Berkualitas

Reaksi berbeda ditunjukkan oleh politikus PDIP lainnya, Andreas
Hugo Pareira. Menurut dia sindiran Paloh terlalu berlebihan, karena menyinggung
ideologi partai.

“Reaksi Surya Paloh terhadap sindiran Presiden pun menurut saya
terlalu emosional, membawa diskursus seolah persoalan pelukan ini masuk dalam
wilayah ideologis partai-partai pendukung Jokowi-Ma’ruf,” ucapnya.

Andreas menuturkan, pembentukan kabinet memang tidak bisa
memuaskan semua pihak. Namun, pemerintah dan koalisi tetap solid.

Selain itu, dia menilai tidak ada satu partai pun yang
mengatakan rangkulan Paloh dengan Sohibul Iman memiliki makna ideologis. Di
sisi lain PDIP mengerti dinamika elite partai bagian dari politik pertemanan.

“Menurut saya, tuduhan Surya Paloh soal partai Pancasilais pun
menjadi terlalu emosional dan sama sekali tidak bermakna ideologis,” tukasnya.

Sementara itu, Surya Paloh membantah jika pidatonya terlalu
reaktif maupun emosional. “Nggak juga, nggak mungkin kita reaktif dengan Pak
Jokowi. Artinya memang selalu bagaimana pun menawarkan alternatif
pikiran-pikiran,” ucapnya.

Baca Juga :  Generasi Muda Perekat Nilai Kebangsaan

Surya pun memastikan tidak dalam hal menyindir PDIP terkait
partai Pancasilais yang memusuhi kawannya. “PDIP kan sahabat. Kita bersahabat
dengan semuanya. Untuk apa saling menyinggung,” pungkasnya.

Sebelumnya, Surya Paloh dalam pidatonya di pembukaan Kongres II
menyinggung terkait pertemuannya dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera
(PKS) Sohibul Iman. Menurut dia, sekarang mulai muncul intrik-intrik yang
mengundang sinisme dan kecurigaan satu sama lain.

Paloh menilai kondisi seperti ini tidak sehat dalam berbangsa
dan bernegara. Menurutnya, itu membangun diskursus politik picik. “Hubungan
rangkulan dan tali silahturahmi politik dimaknai dengan berbagai macam tafsir
dan kecurigaan,” kata Surya.

“Bangsa ini sudah capek dengan segala intrik yang mengundang
sinisme satu sama lain kecurigaan satu sama lain hingga kita berkujung ke
kawan, ini bangsa model apa seperti ini?” imbuhnya.(jpc)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/