32.1 C
Jakarta
Sunday, April 6, 2025

Pertumbuhan Ekonomi Domestik Triwulan II dan III Melambat

PALANGKA RAYA – Perlambatan ekonomi global dan penyebaran COVID-19
di dalam negeri berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik yang diprakirakan
akan menurun.

Ekspor 2020 diperkirakan menurun
akibat melambatnya permintaan dunia, terganggunya rantai penawaran global,
serta rendahnya harga komoditas global.

Sementara itu, pembatasan sosial
dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 berdampak pada pendapatan
masyarakat dan produksi sehingga menurunkan prospek permintaan domestik, baik
konsumsi rumah tangga maupun investasi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia
yang melambat diperkirakan terutama terjadi pada triwulan II dan triwulan III 2020
sejalan dengan prospek kontraksi ekonomi global dan juga dampak ekonomi dari
upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di domestik.

“Perekonomian nasional diperkirakan
kembali membaik mulai triwulan IV 2020 dan secara keseluruhan 2020 dapat menuju
2,3% serta akan meningkat lebih tinggi pada 2021,” kata Kepala Tim Advisory dan
Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Yudho
Herlambang, Rabu (3/6/2020).

Baca Juga :  Srikandi PLN Komitmen Wujudkan Woman Empowerment

Selain itu, lanjut Yudo, dampak
pandemi juga berimbas pada rendahnya permintaan domestik. “Konsumsi rumah
tangga diprakirakan tumbuh lebih rendah. Perlambatan konsumsi rumah tangga
disebabkan oleh turunnya pendapatan masyarakat di tengah pembatasan sosial
dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19,” ujarnya.

Kebijakan pembatasan tersebut, jelas
dia, antara lain dalam bentuk social
distancing
dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah,
berdampak pada melambatnya aktivitas ekonomi, termasuk produksi barang dan
jasa.

(Baca juga: Meski Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Kalteng Tertinggi Ketiga
di Kalimantan
)

Hal tersebut berdampak pada
berkurangnya permintaan tenaga kerja sehingga menurunkan pendapatan masyarakat.

Perlambatan ini, imbuh dia, terjadi
hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan yang terdalam di Jawa dan Bali-Nusa
Tenggara.

Baca Juga :  Ketua Mekaar Jadi AgenBRILink, Ibu Muda Ini Buktikan Manfaat UMi

“Hanya dua provinsi yang mencatat
kenaikan pertumbuhan ekonomi, yakni Kalimantan Selatan dan Papua, yang
disebabkan oleh perbaikan kinerja pertambangan,” pungkas dia.

PALANGKA RAYA – Perlambatan ekonomi global dan penyebaran COVID-19
di dalam negeri berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik yang diprakirakan
akan menurun.

Ekspor 2020 diperkirakan menurun
akibat melambatnya permintaan dunia, terganggunya rantai penawaran global,
serta rendahnya harga komoditas global.

Sementara itu, pembatasan sosial
dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 berdampak pada pendapatan
masyarakat dan produksi sehingga menurunkan prospek permintaan domestik, baik
konsumsi rumah tangga maupun investasi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia
yang melambat diperkirakan terutama terjadi pada triwulan II dan triwulan III 2020
sejalan dengan prospek kontraksi ekonomi global dan juga dampak ekonomi dari
upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di domestik.

“Perekonomian nasional diperkirakan
kembali membaik mulai triwulan IV 2020 dan secara keseluruhan 2020 dapat menuju
2,3% serta akan meningkat lebih tinggi pada 2021,” kata Kepala Tim Advisory dan
Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Yudho
Herlambang, Rabu (3/6/2020).

Baca Juga :  Srikandi PLN Komitmen Wujudkan Woman Empowerment

Selain itu, lanjut Yudo, dampak
pandemi juga berimbas pada rendahnya permintaan domestik. “Konsumsi rumah
tangga diprakirakan tumbuh lebih rendah. Perlambatan konsumsi rumah tangga
disebabkan oleh turunnya pendapatan masyarakat di tengah pembatasan sosial
dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19,” ujarnya.

Kebijakan pembatasan tersebut, jelas
dia, antara lain dalam bentuk social
distancing
dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah,
berdampak pada melambatnya aktivitas ekonomi, termasuk produksi barang dan
jasa.

(Baca juga: Meski Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Kalteng Tertinggi Ketiga
di Kalimantan
)

Hal tersebut berdampak pada
berkurangnya permintaan tenaga kerja sehingga menurunkan pendapatan masyarakat.

Perlambatan ini, imbuh dia, terjadi
hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan yang terdalam di Jawa dan Bali-Nusa
Tenggara.

Baca Juga :  Ketua Mekaar Jadi AgenBRILink, Ibu Muda Ini Buktikan Manfaat UMi

“Hanya dua provinsi yang mencatat
kenaikan pertumbuhan ekonomi, yakni Kalimantan Selatan dan Papua, yang
disebabkan oleh perbaikan kinerja pertambangan,” pungkas dia.

Terpopuler

Artikel Terbaru