Tradisi Nyekar di Palangka Raya Tetap Hidup, TPU Ramai Dikunjungi

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bukit Tambak Raja Km. 12 Tjilik Riwut Kota Palangka Raya tampak riuh oleh peziarah yang datang silih berganti.

Wangi bunga tabur dan lantunan doa berbaur di udara, menciptakan suasana damai yang ditemui saat momen perayaan hari besar tiba.

Tradisi ziarah makam atau nyekar di momen Hari Raya tetap menjadi aktivitas yang tak terpisahkan dari masyarakat.

Area pemakaman umum tampak ramai dikunjungi warga yang datang silih berganti untuk memanjatkan doa bagi keluarga yang telah berpulang, sekaligus membawa berkah ekonomi bagi para pedagang bunga tabur setempat.

Hal itu terlihat dari sosok Sigit (42), warga asal daerah Kereng, yang hari itu datang berziarah bersama keluarganya di momen hari raya idulfitri. Langkahnya menyusuri celah antarmakam bukan sekadar rutinitas tanpa makna.

Ia datang untuk mengunjungi peristirahatan terakhir almarhum bapak mertuanya, serta makam para pendahulu keluarganya.

Bagi Sigit, tradisi nyekar ini tak hanya dilakukan pada momen-momen besar. Terkadang, ia menyempatkan diri datang sebulan sekali. Namun, rutinitas ini menyimpang satu tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menabur bunga: pendidikan spiritual bagi anak-anaknya.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Potensi Wisata di Tualan Hulu Sangat Layak Dikemas dan Dijual

“Kalau ziarah itu, selain kirim doa, ya sambil mengajarkan anak-anak ini,” tutur Sigit dalam keterangannya, Sabtu (21/3/26).

Ia sadar bahwa mengajarkan tentang kematian kepada anak-anak bukanlah hal yang mudah, namun pusara keluarga menjadi medium yang paling nyata.

Di depan makam kakek buyut mereka, Sigit menanamkan sebuah pengingat yang akan terus dibawa anak-anaknya hingga dewasa kelak.

“Biar mereka ingat, kalau hidup di dunia ini ya cuma sementara. Nanti, pada akhirnya, akan kembali juga semuanya,” lanjutnya.

Kutipan sederhana dari seorang ayah itu merangkum esensi terdalam dari tradisi ziarah. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, makam menjadi tempat singgah sejenak untuk menengok masa lalu, sekaligus menatap keniscayaan masa depan.

Bagi keluarga, Sigit dan ratusan peziarah lainnya yang hari itu memadati area pemakaman, ziarah bukan sekadar merawat ingatan tentang mereka yang telah tiada.

Baca Juga :  Kanwilkumham Kalteng Kawal Pelaku UMKM Kobar

Lebih dari itu, ziarah adalah sekolah kehidupan sebuah ruang di mana kefanaan dunia diajarkan melalui keheningan pusara.

Pemandangan khusyuk para peziarah ini berjalan beriringan dengan denyut ekonomi warga sekitar. Ratusan peziarah yang silih berganti memadati pemakaman membawa rezeki tersendiri bagi penjual kembang tabur.

Anita (40), salah satu pedagang bunga yang sudah berjualan selama bertahun-tahun di area tersebut, menuturkan bahwa lonjakan pengunjung selalu terasa signifikan saat memasuki musim perayaan agamis seperti hari raya idulfitri ini. Menurutnya, peziarah yang datang membawa latar belakang yang beragam.

“Selalu ramai. Peziarah yang datang banyak juga yang dari jauh-jauh (luar daerah). Apalagi kalau pas momen Hari Raya seperti ini, pasti ada saja yang datang dari jauh,” jelas Anita.

Tradisi ziarah makam ini pun tidak sekadar menjadi ajang merawat ingatan terhadap mereka yang telah tiada, melainkan terus bertahan sebagai ruang refleksi diri bagi peziarah dan roda penggerak ekonomi mikro bagi masyarakat sekitar pemakaman. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bukit Tambak Raja Km. 12 Tjilik Riwut Kota Palangka Raya tampak riuh oleh peziarah yang datang silih berganti.

Wangi bunga tabur dan lantunan doa berbaur di udara, menciptakan suasana damai yang ditemui saat momen perayaan hari besar tiba.

Tradisi ziarah makam atau nyekar di momen Hari Raya tetap menjadi aktivitas yang tak terpisahkan dari masyarakat.

Electronic money exchangers listing

Area pemakaman umum tampak ramai dikunjungi warga yang datang silih berganti untuk memanjatkan doa bagi keluarga yang telah berpulang, sekaligus membawa berkah ekonomi bagi para pedagang bunga tabur setempat.

Hal itu terlihat dari sosok Sigit (42), warga asal daerah Kereng, yang hari itu datang berziarah bersama keluarganya di momen hari raya idulfitri. Langkahnya menyusuri celah antarmakam bukan sekadar rutinitas tanpa makna.

Ia datang untuk mengunjungi peristirahatan terakhir almarhum bapak mertuanya, serta makam para pendahulu keluarganya.

Bagi Sigit, tradisi nyekar ini tak hanya dilakukan pada momen-momen besar. Terkadang, ia menyempatkan diri datang sebulan sekali. Namun, rutinitas ini menyimpang satu tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menabur bunga: pendidikan spiritual bagi anak-anaknya.

Baca Juga :  Potensi Wisata di Tualan Hulu Sangat Layak Dikemas dan Dijual

“Kalau ziarah itu, selain kirim doa, ya sambil mengajarkan anak-anak ini,” tutur Sigit dalam keterangannya, Sabtu (21/3/26).

Ia sadar bahwa mengajarkan tentang kematian kepada anak-anak bukanlah hal yang mudah, namun pusara keluarga menjadi medium yang paling nyata.

Di depan makam kakek buyut mereka, Sigit menanamkan sebuah pengingat yang akan terus dibawa anak-anaknya hingga dewasa kelak.

“Biar mereka ingat, kalau hidup di dunia ini ya cuma sementara. Nanti, pada akhirnya, akan kembali juga semuanya,” lanjutnya.

Kutipan sederhana dari seorang ayah itu merangkum esensi terdalam dari tradisi ziarah. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, makam menjadi tempat singgah sejenak untuk menengok masa lalu, sekaligus menatap keniscayaan masa depan.

Bagi keluarga, Sigit dan ratusan peziarah lainnya yang hari itu memadati area pemakaman, ziarah bukan sekadar merawat ingatan tentang mereka yang telah tiada.

Baca Juga :  Kanwilkumham Kalteng Kawal Pelaku UMKM Kobar

Lebih dari itu, ziarah adalah sekolah kehidupan sebuah ruang di mana kefanaan dunia diajarkan melalui keheningan pusara.

Pemandangan khusyuk para peziarah ini berjalan beriringan dengan denyut ekonomi warga sekitar. Ratusan peziarah yang silih berganti memadati pemakaman membawa rezeki tersendiri bagi penjual kembang tabur.

Anita (40), salah satu pedagang bunga yang sudah berjualan selama bertahun-tahun di area tersebut, menuturkan bahwa lonjakan pengunjung selalu terasa signifikan saat memasuki musim perayaan agamis seperti hari raya idulfitri ini. Menurutnya, peziarah yang datang membawa latar belakang yang beragam.

“Selalu ramai. Peziarah yang datang banyak juga yang dari jauh-jauh (luar daerah). Apalagi kalau pas momen Hari Raya seperti ini, pasti ada saja yang datang dari jauh,” jelas Anita.

Tradisi ziarah makam ini pun tidak sekadar menjadi ajang merawat ingatan terhadap mereka yang telah tiada, melainkan terus bertahan sebagai ruang refleksi diri bagi peziarah dan roda penggerak ekonomi mikro bagi masyarakat sekitar pemakaman. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru