PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Suhu panas yang belakangan dirasakan warga Palangka Raya dan sejumlah wilayah Kalimantan Tengah bukan tanpa sebab. BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya menyebut kondisi tersebut dipicu oleh minimnya curah hujan dalam beberapa hari terakhir, sehingga sinar matahari lebih leluasa memanaskan permukaan bumi.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Muhammad Ihsan Sidiq, menjelaskan berkurangnya hujan membuat tutupan awan menipis. Akibatnya, radiasi matahari masuk secara maksimal dan berdampak langsung pada peningkatan suhu udara di Kalimantan Tengah.
“Curah hujan yang menurun menyebabkan awan relatif sedikit. Kondisi ini membuat panas matahari lebih optimal mencapai permukaan dan suhu udara pun meningkat,” kata Ihsan, Senin (19/1/2026).
BMKG juga mencatat potensi hujan di Kalimantan Tengah dalam sepekan ke depan masih tergolong rendah. Jika hujan turun, intensitasnya diperkirakan hanya ringan dan terjadi secara lokal atau tidak merata di setiap wilayah.
“Ke depan masih didominasi hujan ringan dengan sebaran yang tidak merata,” ujarnya.
Selain faktor lokal, kondisi cuaca panas ini turut dipengaruhi dinamika atmosfer regional. Salah satunya keberadaan sirkulasi siklonik atau siklon tropis Nokaen di perairan Filipina yang berdampak pada pola cuaca di Kalimantan Tengah.
“Siklon tropis tersebut menarik uap air ke wilayah perairan Filipina, sehingga pasokan uap air ke Kalimantan Tengah berkurang dan intensitas hujan ikut menurun,” jelasnya.
BMKG pun mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak suhu panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Warga disarankan menghindari paparan langsung matahari pada jam-jam terpanas.
“Kami mengimbau masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan saat suhu maksimum, khususnya sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WIB. Gunakan pelindung dari sinar matahari, perbanyak minum, dan jaga kondisi tubuh,” pungkas Ihsan. (adr)


