PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia.
Riset terbaru Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya (FISIP UPR) mengungkap, keberhasilan program MBG justru sangat ditentukan oleh kualitas pelaksanaan di sekolah dan keterlibatan aktif guru.
Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 8 Palangka Raya ini menunjukkan, pengalaman siswa sebagai penerima manfaat menjadi tolok ukur utama efektivitas Program Makan Bergizi Gratis. Ketika pembagian makanan berjalan tertib, tepat waktu, dan informasinya jelas, manfaat program jauh lebih dirasakan siswa.
Penelitian tersebut dilaksanakan pada Rabu, 29 Oktober 2025 dengan melibatkan 300 siswa penerima MBG. Para siswa diminta menilai langsung bagaimana pelaksanaan program dalam aktivitas sekolah sehari-hari.
Hasilnya, siswa menilai MBG lebih efektif jika distribusi makanan dilakukan secara konsisten, bersih, dan teratur. Sebaliknya, pelaksanaan yang tidak rapi membuat manfaat program dinilai berkurang.
Riset ini melibatkan 11 peneliti dari Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UPR, yakni Bismar Harris Satriawan, Anyualatha Haridison, M. Doddy Syahirul Alam, Murniyati Yanur, Jhon Retei Alfri Sandi, Yunita Asmawati, Mahardiawan Putra, Purnama Julia Utami, Andi Ilmi Utami Irwan, Dian Iskandar, dan Christian Bernard.
Salah satu peneliti, Bismar Harris Satriawan, menekankan peran strategis guru dan tenaga pendidik dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis di sekolah.
“Guru berada paling dekat dengan siswa. Ketika mereka terlibat langsung mengawasi pembagian makanan, menjaga ketertiban, dan merespons keluhan, program berjalan lebih tertib dan dirasakan lebih adil oleh siswa,” ujar Bismar, Minggu (18/1/26).
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa kualitas pelaksanaan teknis program dan peran guru sama-sama berpengaruh, tetapi tidak saling memperkuat. Artinya, meskipun distribusi makanan sudah berjalan baik, keterlibatan guru tetap memberi dampak tersendiri terhadap pengalaman siswa.
SMP Negeri 8 Palangka Raya dipilih sebagai lokasi penelitian karena menjadi salah satu sekolah dengan penerima Program Makan Bergizi Gratis terbesar di Kota Palangka Raya. Tercatat, sebanyak 1.098 siswa menerima manfaat MBG setiap hari.
Berdasarkan temuan tersebut, Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UPR menilai peningkatan kualitas Program MBG tidak bisa hanya berfokus pada distribusi makanan. Pemerintah daerah perlu memastikan koordinasi yang solid antara sekolah, guru, SPPG, dan dapur MBG sebagai pelaksana di lapangan.
Dengan sinergi yang kuat dan keterlibatan semua pihak, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak berhenti sebagai program administratif, tetapi benar-benar memberi dampak nyata bagi kesehatan dan pengalaman belajar siswa.
Penelitian ini menegaskan, keberhasilan kebijakan publik di lingkungan sekolah sangat bergantung pada praktik di lapangan. Program MBG bukan hanya soal menu, tetapi juga soal tata kelola, peran guru, dan kepuasan siswa sebagai penerima manfaat utama. (her)


