PROKALTENG.CO– Kemerdekaan RI kini memasuki usia 81 tahun. Hal ini tidak akan terwujud jika tidak diikuti iman dan hijrah dan tidak bisa hijrah dengan baik tanpa jihad.Hijrah menegakkan kemerdekaan adalah merupakan konsekuensi sebagai orang beriman dan beramal saleh.
Untuk meraih kemerdekaan sejati seorang beriman harus berjuang membebaskan diri dari “penjajahan” kehidupan yaitu belenggu hawa nafsu.
“Hawa nafsu adalah musuh dalam selimut yang kerap menjajah manusia tanpa disadari,” ungkap Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPI PDM) Kapuas, H.Sapto Subagio, Senin (17/8/2026).
Dijelaskan Sapto. Seseorang mungkin merasa bebas melalukan apa saja. Namun jika ia selalu menuruti keinginan maksiat, kesenangan sesaaat seperti melakukan korupsi. Hakikatnya ia adalah tawanan dari nafsunya sendiri.
Belenggu materialisme dan cinta dunia urai Sapto. Terikat oleh rasa takut kehilangan harta, jabatan atau popularitas sering kali membuat manusia mengorbankan prinsip-prinsip keimanan. Ketika hidup hanya didikte oleh materi, manusia menjadi budak dunia.
“Kemerdekaan sejati dicapai saat dunia berada di genggaman tangan, bukan tertanam di dalam hati,”tegas Sapto.
Dikatakan Sapto. Belenggu ketakutan kepada sesama makhluk. Orang yang merdeka secara hakiki hanya takut kepada Allah. Tidak akan menggadaikan akidah dan integritasnya hanya karena takut dicela, diintimidasi, atau ditinggalkan oleh manusia. Rasa takut yang berlebihan kepada sesama manusia adalah penjara psikologis yang mengekang jiwa.
”Mengisi kemerdekaan dengan ketaatan dan keadilan. Kemerdekaan dalam Islam adalah kebebasan untuk memilih jalan ketaatan dan menebarkan kebaikan. Kemerdekaan sejati melahirkan jiwa yang mandiri dan berdikari, menggunakan potensi untuk memaslahatan umat dan bangsa. Adil dan amanah, membebaskan masyarakat dari kezaliman, kebodohan dan kemiskinan,”urainya
Momentum kemerdekaan ini kata Sapto. Bukan sekadar rutinitas. Melainkan ajang muhasabah (evaluasi diri).
”Sudahkah jiwa kita merdeka atau kita masih terjajah oleh hawa nafsu dan kesenanagan dunia. Semoga Allah SWT menyempunakan kemerdekaan bangsa kita, tidak hanya merdeka secara fisik dan bernegara, tetapi juga merdeka secara spiritual dan menjadi negeri yang thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan berada dalam ampunan Tuhan yang maha pengampun, pungkas Sapto”. (ind)


