25 C
Jakarta
Saturday, July 20, 2024
spot_img

Cegah Virus Demam Babi Afrika, Ini Yang Harus Dilakukan Peternak

PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO – Hingga kini pemerintah belum menemukan vaksin yang terbukti secara klinis untuk mencegah penularan virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

Untuk itu para peternak babi diminta segera melakukan langkah pencegahan secara biosekuriti dengan cara mengosongkan dan memindahkan babi ke kandang baru.

"Selama proses itu kandang juga harus rutin dibersihkan dengan menyemprotkan cairan disinfektan. Hal yang paling penting adalah jangan memasukan babi baru atau isolasi 1 bulan sebelum digabung ke kelompok," kata Kepala UPTD Puskeswan Kota Palangka Raya, Drh Eko Hari Yuwono, Jumat (15/10).

Langkah selanjutnya, jika ada babi yang sakit wajib di isolasi atau dipindahkan ke kandang lain, pakan wajib di masak, keluar masuk barang, alat dan orang ke peternakan atau kandang harus dikontrol.

Baca Juga :  Rutan Terima Bantuan Alkes dari Dinkes, Ini Rinciannya

"Jangan menggunakan air sungai untuk makan atau minum babi dan kebersihan kandang dijaga serta lakukan penyemprotan desinfektan secara rutin," jelasnya.

Meski begitu, ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.

Tanda-tanda Klinis ASF dapat dilihat pada babi apabila mengalami kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum, diare berdarah, berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga serta mengalami memam 41 derajat Celsius, bintik merah dan tidak mau makan.

"Jika ada tetangga atau saudara yang ternak babi dan mengalami gejala itu segera laporakan ke dinas terkait agar segera ditangani dan dilakukan langkah-langkah antisipatif," tutupnya.

Baca Juga :  Generasi Muda Pandai Berniaga dengan Bahasa dan Sastra

PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO – Hingga kini pemerintah belum menemukan vaksin yang terbukti secara klinis untuk mencegah penularan virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

Untuk itu para peternak babi diminta segera melakukan langkah pencegahan secara biosekuriti dengan cara mengosongkan dan memindahkan babi ke kandang baru.

"Selama proses itu kandang juga harus rutin dibersihkan dengan menyemprotkan cairan disinfektan. Hal yang paling penting adalah jangan memasukan babi baru atau isolasi 1 bulan sebelum digabung ke kelompok," kata Kepala UPTD Puskeswan Kota Palangka Raya, Drh Eko Hari Yuwono, Jumat (15/10).

Langkah selanjutnya, jika ada babi yang sakit wajib di isolasi atau dipindahkan ke kandang lain, pakan wajib di masak, keluar masuk barang, alat dan orang ke peternakan atau kandang harus dikontrol.

Baca Juga :  Rutan Terima Bantuan Alkes dari Dinkes, Ini Rinciannya

"Jangan menggunakan air sungai untuk makan atau minum babi dan kebersihan kandang dijaga serta lakukan penyemprotan desinfektan secara rutin," jelasnya.

Meski begitu, ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.

Tanda-tanda Klinis ASF dapat dilihat pada babi apabila mengalami kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum, diare berdarah, berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga serta mengalami memam 41 derajat Celsius, bintik merah dan tidak mau makan.

"Jika ada tetangga atau saudara yang ternak babi dan mengalami gejala itu segera laporakan ke dinas terkait agar segera ditangani dan dilakukan langkah-langkah antisipatif," tutupnya.

Baca Juga :  Generasi Muda Pandai Berniaga dengan Bahasa dan Sastra
spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru