27.3 C
Jakarta
Saturday, February 14, 2026

Nahdlatul Ulama Tunggu Hasil Rukyatul Hilal, Awal Ramadan Ditentukan 17 Februari 2026

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan awal Ramadan 1447 Hijriah akan ditentukan berdasarkan hasil rukyatul hilal pada akhir bulan Sya’ban, yang diperkirakan jatuh pada 17 Februari 2026.

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tetap berpegang pada metode rukyat dalam menetapkan awal bulan hijriah.

“Nanti akan dilihat dulu pada akhir bulan Sya’ban, insya Allah tanggal 17 Februari, apakah hilal terlihat atau tidak. Kalau terlihat, berarti kita mulai puasa. Kalau tidak, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari,” ujarnya saat menghadiri Konferensi Wilayah XIII Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang Lantai I, Kantor Gubernur Kalteng, Sabtu (14/2/2026).

Baca Juga :  Banyak Warga Pulang Kampung, Suasana Sepi dan Lengang Menyelimuti Kota Nanga Bulik

Dia menjelaskan, metode tersebut merupakan bagian dari pandangan fikih yang dianut NU. Yakni dengan melihat secara langsung keberadaan hilal sebagai dasar masuknya bulan baru.

“NU berpegang pada rukyatul hilal, yaitu melihat wujud hilal. Di sini memang ada perbedaan mazhab dan perbedaan pandangan fikih dengan yang menggunakan hisab,” katanya.

Sementara itu, Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki dan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi pedoman organisasi tersebut.

Menanggapi potensi perbedaan awal puasa di tengah masyarakat, Yahya berpendapat bahwa dia tidak pernah melihat perbedaan ini menjadi masalah.

Electronic money exchangers listing

“Saya sudah hidup berpuluh-puluh tahun, selama ini tidak ada apa-apa di antara masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem! BMKG Imbau Masyarakat Selalu Waspada

Dia menekankan. Bahwa perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan bagian dari khazanah pemikiran Islam yang telah berlangsung lama, dan masyarakat diharapkan dapat menyikapinya dengan saling menghormati. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan awal Ramadan 1447 Hijriah akan ditentukan berdasarkan hasil rukyatul hilal pada akhir bulan Sya’ban, yang diperkirakan jatuh pada 17 Februari 2026.

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tetap berpegang pada metode rukyat dalam menetapkan awal bulan hijriah.

“Nanti akan dilihat dulu pada akhir bulan Sya’ban, insya Allah tanggal 17 Februari, apakah hilal terlihat atau tidak. Kalau terlihat, berarti kita mulai puasa. Kalau tidak, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari,” ujarnya saat menghadiri Konferensi Wilayah XIII Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang Lantai I, Kantor Gubernur Kalteng, Sabtu (14/2/2026).

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Banyak Warga Pulang Kampung, Suasana Sepi dan Lengang Menyelimuti Kota Nanga Bulik

Dia menjelaskan, metode tersebut merupakan bagian dari pandangan fikih yang dianut NU. Yakni dengan melihat secara langsung keberadaan hilal sebagai dasar masuknya bulan baru.

“NU berpegang pada rukyatul hilal, yaitu melihat wujud hilal. Di sini memang ada perbedaan mazhab dan perbedaan pandangan fikih dengan yang menggunakan hisab,” katanya.

Sementara itu, Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki dan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi pedoman organisasi tersebut.

Menanggapi potensi perbedaan awal puasa di tengah masyarakat, Yahya berpendapat bahwa dia tidak pernah melihat perbedaan ini menjadi masalah.

“Saya sudah hidup berpuluh-puluh tahun, selama ini tidak ada apa-apa di antara masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem! BMKG Imbau Masyarakat Selalu Waspada

Dia menekankan. Bahwa perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan bagian dari khazanah pemikiran Islam yang telah berlangsung lama, dan masyarakat diharapkan dapat menyikapinya dengan saling menghormati. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru

/