PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Penggunaan kata-kata kasar di kalangan anak-anak di Palangka Raya kian marak dan mulai dianggap lumrah. Fenomena ini memicu kekhawatiran, karena kesantunan berbahasa yang seharusnya ditanamkan sejak dini justru perlahan terkikis.
Maraknya bahasa kasar pada anak tak hanya terjadi di lingkungan pergaulan, tetapi juga dipengaruhi ruang digital seperti media sosial dan gim daring. Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius dari orang tua dan lingkungan sekitar.
Anggota Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalteng, Widiya Kumala Wati, menegaskan bahwa kebiasaan anak menggunakan bahasa kasar merupakan perilaku yang keliru dan tidak boleh dinormalisasi.
“FOMO menggunakan kata-kata kasar itu tidak baik dan tidak seharusnya dianggap wajar, baik di lingkungan pergaulan maupun di ruang digital,” ujar Widiya, Selasa (10/2/2026).
Perempuan yang akrab disapa Yaya itu menjelaskan, kebiasaan berkata kasar pada anak dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pola asuh di rumah, lingkungan pertemanan, hingga paparan konten di media sosial dan gim online. Anak cenderung meniru bahasa yang sering mereka dengar demi merasa diterima di lingkungannya.
“Kalau orang tua atau lingkungan terdekat terbiasa berkata kasar, anak pasti terstimulasi menirunya. Ironisnya, banyak anak belum memahami bahwa kata-kata itu tidak pantas,” jelasnya.
Menurut Yaya, kebiasaan tersebut jika dibiarkan bisa mengikis adab dan membentuk pola komunikasi yang agresif sejak dini. Karena itu, pendampingan orang tua saat anak menggunakan gawai menjadi hal yang sangat krusial.
“Media sosial punya pengaruh besar terhadap perilaku anak, apalagi kalau tidak ada pendampingan dan pemahaman dari orang tua,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan karakter di dalam keluarga menjadi kunci utama untuk mencegah normalisasi bahasa kasar. Hal itu perlu didukung keteladanan orang tua, pendisiplinan dengan konsekuensi positif, serta penguatan nilai-nilai agama.
“Semua butuh proses dan kesabaran. Orang tua jangan lelah menasihati dan memberi pemahaman agar anak tidak terbiasa berkata kasar,” pungkasnya. (jef)


