PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Palangka Raya memperingatkan potensi cuaca ekstrem di Kalimantan Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Prakirawan BMKG, Muhammad Ihsan Sidiq, menjelaskan bahwa sirkulasi siklonik terpantau di wilayah Kalimantan bagian utara yang menyebabkan daerah belokan angin serta perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Kalimantan Tengah.

“Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa daerah,” ujarnya saat dikonfirmasi Prokalteng.co melalui WhatsApp, Kamis (6/2/2025).
Menurut ihsan, tingginya kelembapan udara yang cukup basah serta labilitas lokal yang kuat turut mendukung terbentuknya awan hujan. Hal ini meningkatkan potensi curah hujan di berbagai wilayah Kalimantan Tengah. Diantaranya; Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Pulang Pisau, Kapuas, Palangka Raya, Lamandau, Seruyan bagian utara, Barito Utara, Barito Selatan, dan Barito Timur.
Tak hanya itu, Ihsan juga memprediksi bahwa dalam sepekan ke depan, hujan ringan masih berpotensi terjadi secara umum di wilayah Kalimantan Tengah.
“Khusus pada hari ini, intensitas hujan diperkirakan mencapai tingkat sedang. Sementara itu, pada tanggal 9-11 Februari 2025 mendatang, cuaca cenderung berawan. Masyarakat tetap harus waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu,” tambahnya.
Selain hujan lebat, Ihsan juga mengingatkan potensi hujan lokal dengan durasi singkat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Bahkan, angin puting beliung bisa saja terjadi di beberapa daerah.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk berhati-hati terhadap dampak yang bisa ditimbulkan, seperti genangan air, banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang yang dapat membahayakan keselamatan.
Lebih lanjut, ihsan menegaskan bahwa bulan Februari masih termasuk dalam musim hujan di Kalimantan Tengah. Penentuan awal musim kemarau akan dilakukan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari). Jika dalam satu dasarian curah hujan kurang dari 50 milimeter dan kondisi ini berlanjut dalam dua dasarian berikutnya, maka musim kemarau baru bisa dinyatakan telah dimulai.
Masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana, disarankan untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG.
“Langkah antisipasi seperti membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta mengamankan barang-barang dari terpaan angin kencang juga sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko bencana,” jelasnya.
Dengan kondisi cuaca yang cenderung tidak menentu, BMKG mengajak seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan siap menghadapi potensi cuaca ekstrem. Jika terjadi kondisi darurat akibat cuaca buruk, segera laporkan kepada pihak berwenang agar dapat ditangani dengan cepat dan tepat. (ndo/hnd)