PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabar baik untuk masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya para pejuang kanker. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doris Sylvanus Palangka Raya kini telah memiliki fasilitas pengobatan kanker yang lengkap, termasuk layanan radioterapi (penyinaran).
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah (Kadinkes) dr. Suyuti Syamsul mengungkapkan fasilitas ini diharapkan mampu memangkas ketergantungan pasien yang selama ini harus dirujuk ke pulau Jawa.
“Saat ini di Doris Sylvanus, peralatan untuk mengobati kanker semakin lengkap. Mulai dari bedah kanker, kemoterapi, hingga radiasi. Bantuan pemerintah pusat untuk onkologi radiasi dan radioterapi ini nilainya mungkin hampir Rp 100 miliar,” ujar Suyuti pada kesempatan menghadiri Hari Kanker Sedunia di RSUD Doris Sylvanus, Rabu (4/2/26).
Layanan radioterapi ini, dikatakan telah beroperasi penuh menerima pasien pertama sejak 5 Januari 2026, setelah sebelumnya mulai dibuka pada 25 Desember 2025.
Keberadaan alat ini menjadi solusi vital mengingat tingginya antrean pasien radiasi di rumah sakit rujukan nasional seperti di Semarang atau Surabaya yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.
“Satu siklus penyinaran itu butuh 25 sampai 30 kali. Dengan adanya alat ini di sini, saat ini belum ada antrean sama sekali untuk radiasi. Mudah-mudahan ini bisa mengurai antrean panjang yang biasanya terjadi karena pasien kita lari ke Jawa semua,” jelasnya.
Suyuti yang juga menjabat sebagai Plt Direktur di Rumah Sakit tersebut juga menegaskan bahwa layanan canggih ini dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat karena telah terintegrasi dengan layanan BPJS Kesehatan.
“Hampir 100 persen pasien kita di pengobatan kanker itu menggunakan BPJS. Kita menyadari kalau tidak menggunakan BPJS, masyarakat akan kesulitan,” tambahnya.
Berdasarkan catatan rumah sakit, terdapat sekitar 4.000 penderita kanker di Kalteng. Guna menangani jumlah tersebut, RSUD Doris Sylvanus telah menyiagakan tujuh orang dokter spesialis.
Meski fasilitas sudah memadai, Suyuti menyoroti masalah utama penanganan kanker di Kalteng adalah rendahnya kesadaran (awareness) masyarakat. Mayoritas pasien datang berobat ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut (stadium 2 atau 3), sehingga proses penyembuhan menjadi lebih panjang dan rumit.
Untuk itu, masyarakat diimbau untuk rutin melakukan deteksi dini, seperti pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) bagi perempuan atau mewaspadai pendarahan tidak wajar.
“Kanker pada dasarnya bisa disembuhkan, dan semakin cepat terdeteksi, semakin bagus. Kalau stadium satu datangnya kan lebih mudah, mungkin cuma perlu operasi. Kampanye dan edukasi ini penting untuk mengingatkan bahwa kanker bisa diobati dan dicegah,” pungkasnya. (her)


