PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Aktivitas balap liar di Kota Palangka Raya disebut semakin marak selama berlangsungnya pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Andiyatna. Melalui Kasatlantas Polresta Palangka Raya Kompol Hermanto. Mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian kepolisian dalam pemantauan aktivitas balap liar di wilayah Kota Palangka Raya.
Menurutnya, sebelum PJJ berlangsung, aktivitas anak-anak sekolah relatif terbatas karena mereka harus mengikuti pembelajaran pada pagi hari. Kondisi berbeda terjadi ketika kegiatan belajar dilakukan dari rumah.
“Dulu sebelum karhutla, anak-anak sekolah masuk pagi, jadi tidak bisa begadang. Setelah ada PJJ, akhirnya balapan menjelang subuh,” kata Hermanto pada Kamis (1/10/2026).
Ia mengatakan, aktivitas balap liar kini bahkan semakin sering ditemukan. Sebab, sebagian anak merasa tidak memiliki kewajiban masuk sekolah pada pagi hari.
“Sekarang sudah mau setiap hari setelah PJJ, karena mereka merasa tidak masuk sekolah,” ujarnya.
Dari hasil pemantauan kepolisian, pelaku balap liar tidak hanya berasal dari kalangan pelajar SMA. Polisi juga menemukan pelajar SMP, mahasiswa, pelajar sekolah swasta hingga anak yang sudah putus sekolah.
“Paling banyak kami temukan SMA, ada juga yang SMP, ada juga mahasiswa, swasta, putus sekolah,” ungkapnya.
Selain faktor waktu, Hermanto juga menyoroti kondisi pengawasan orang tua. Menurutnya, terdapat anak-anak yang orang tuanya sedang berada di luar daerah sehingga pengawasan terhadap aktivitas mereka menjadi lebih terbatas.
“Ada anak-anak yang orang tuanya tidak ada di tempat, orang tua di daerah, sehingga pengawasan kurang,” jelasnya.
Hermanto mengatakan, selama kondisi karhutla pihaknya sebenarnya telah melakukan pemantauan terhadap aktivitas balap liar dan berencana mengajak sejumlah bengkel untuk berdiskusi.
Kini, kepolisian telah memiliki data terkait bengkel yang akan diajak berkomunikasi. Menurutnya, keterlibatan pihak bengkel penting karena mereka dianggap dapat membantu menyampaikan imbauan kepada anak-anak yang terlibat dalam aktivitas balap liar.
“Selama karhutla, pemantauan kami sudah mau memanggil bengkel jauh-jauh hari. Belum punya data, sekarang punya data, semakin marak,” tuturnya.
Kepolisian berharap persoalan balap liar tidak hanya diselesaikan melalui penindakan. Masukan dari pihak bengkel dan para pelaku juga diperlukan untuk mengetahui alasan aktivitas tersebut terus dilakukan.
Di sisi lain, aktivitas balap liar yang berlangsung di jalan raya dinilai membahayakan, baik bagi pelaku maupun pengguna jalan lainnya.
“Balap liar membahayakan diri pelaku dan pengendara. Tentunya masyarakat merasa terganggu dengan balapan liar, yang lewat takut tertabrak,” pungkasnya. (jef)


