Lebih lanjut, Razak mengingatkan bahwa visi pemimpin daerah yang dikukuhkan harus selalu searah dengan tujuan dasar lahirnya organisasi HMI.
“Nilai-nilai perjuangan KAHMI ini sebetulnya searah, sejajar, dan seirama dengan cita-cita HMI, yakni perwujudan insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam,” imbuhnya.
Sementara itu, tantangan kepemimpinan yang lebih tajam disampaikan oleh Koordinator Presidium MN KAHMI, Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Puteh,
Ia menyoroti pentingnya keahlian tata kelola birokrasi bagi seorang kepala daerah, bukan sekadar insting politik semata.
“Tantangan bangsa kita hari ini adalah tidak banyak manajer. Tidak cukup kita hanya sekadar menjadi politisi,” kata Abdullah Puteh.
Sebab menurutnya, seorang wali kota harus mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah-masalah fundamental yang ada di tengah masyarakat bawah.
“Musuh kita ada di pinggir, yaitu kaum miskin yang harus kita bebaskan, serta desa-desa yang masih tertinggal. Kalau ini selesai, kita tepuk tangan,” jelasnya.
Sebagai penutup, ia secara langsung meminta Fairid Naparin untuk berani mengambil kebijakan inovatif dan meninggalkan warisan (legacy) kepemimpinan yang kuat.
“Tolong Pak Wali, dengan dukungan yang ada, ciptakan sesuatu yang beda dari wali kota-wali kota sebelumnya. Jadikan kepemimpinan ini beda dengan yang lain,” pungkas Puteh.
Dalam acara tersebut, dihadiri langsung oleh jajaran pengurus pusat Majelis Nasional (MN), Majelis Wilayah (MW) KAHMI Kalteng, Pengurus Badan Koordinasi (Badko) HMI Kalteng, Pengurus Cabang HMI Palangka Raya, para kader tingkat komisariat, hingga jajaran Pemerintah Kota Palangka Raya. (her)


