30.2 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Curah Hujan Tinggi di Muara Teweh, Menurut BMKG karena Ini Alasannya

MUARA TEWEH-Curah hujan
yang tinggi akhir-akhir ini di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara sudah
diperkirakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dari hasil
analisis dan data satelit, hujan lebat itu terjadi karena adanya Eddy (pusaran
angin) di wilayah Kalimantan Barat.

“Efek yang paling
dominan terjadi di wilayah sekitar Eddy tersebut. Yaitu wilayah Kalteng, khususnya
Muara Teweh,” terang Kepala Stasiun Meteorologi Beringin Muara Teweh, Sudarmono,
kemarin (28/8).

Dikemukakannya,
kejadian efek Eddy sebenarnya sudah diprakirakan BMKG, namun realitanya
melebihi wilayah dan durasi yang diperkirakan. Dari data satelit, jelas
dia, ketika kejadian tersebut berlangsung, terjadi pergerakan awan-awan konvektiv
dari daerah Lautan Pasifik (sebelah utara perairan Papua), mengarah ke kawasan
Kalimantan Barat melewati Kalteng pada lapisan 300-200mb (9000-11.700 meter).

Baca Juga :  Koordinasi Karhutla dengan BNPB

“Perlu diketahui
bahwa di daerah Pasifik tersebut adalah daerah tekanan rendah dan terjadi
siklon tropis. Akibatnya terjadi penumpukan dan perlambatan awan di wilayah
yang dilaluinya yaitu Kalteng sebelah utara termasuk Muara Teweh,” beber
Sudarmono.

Hal itulah yang
menyebabkan durasi hujan dalam waktu kurang lebih tujuh jam beberapa lalu di Muara
Teweh.  Secara umum wilayah perbatasan Kalimantan dan Malaysia adalah
daerah nonmusim. Artinya terjadi hujan sepanjang tahun dikarenakan daerah
tersebut daerah pegunungan dan dekat khatulistiwa (daerah belokan angin /efek
coriolis).  Maka, lanjut dia, ketika terjadi angin baratan (Oktober-April)
daerah tersebut mendapat suplai uap air dari Laut China Selatan, dan ketika
terjadi angin timuran (Mei-September) mendapat suplai uap air dari Lautan
Pasifik bagian barat. 

Sudarmono
mengungkapkan, saat ini angin timuran masih mendominasi hampir di seluruh
wilayah di Indonesia. Angin timuran yang dimaksudkan di sini adalah angin yang
bertiup dari Benua Australia dan daerah timur Benua Australia. Sementara ini,
tambah dia, kondisi suhu muka Laut yang dilalui angin timuran yang menuju pulau
Kalimantan yaitu Laut Jawa, Laut Bali, Laut Flores, Laut Arafuru rata-ratanya
masih dibawah suhu 27 derajat celcius.

Baca Juga :  Sementara, Warga dari Luar Pondok Dilarang Masuk

Artinya potensi penguapan sangat kecil
dan kalaupun terjadi pembentukan awan, hanya awan–awan stratus (datar) bukan
awan-awan konvektiv (awan cumulonimbus/awan hujan yang hebat). Awan-awan
stratus bisa menghasilkan hujan namun hanya bersifat hujan ringan dan
durasinya cukup singkat. “Untuk hujan-hujan yang terjadi saat ini di
wilayah Kalimantan, kejadiannya hampir sama dengan fenomena sebelumnya,”
timpal Sudarmono. (cah)

MUARA TEWEH-Curah hujan
yang tinggi akhir-akhir ini di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara sudah
diperkirakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dari hasil
analisis dan data satelit, hujan lebat itu terjadi karena adanya Eddy (pusaran
angin) di wilayah Kalimantan Barat.

“Efek yang paling
dominan terjadi di wilayah sekitar Eddy tersebut. Yaitu wilayah Kalteng, khususnya
Muara Teweh,” terang Kepala Stasiun Meteorologi Beringin Muara Teweh, Sudarmono,
kemarin (28/8).

Dikemukakannya,
kejadian efek Eddy sebenarnya sudah diprakirakan BMKG, namun realitanya
melebihi wilayah dan durasi yang diperkirakan. Dari data satelit, jelas
dia, ketika kejadian tersebut berlangsung, terjadi pergerakan awan-awan konvektiv
dari daerah Lautan Pasifik (sebelah utara perairan Papua), mengarah ke kawasan
Kalimantan Barat melewati Kalteng pada lapisan 300-200mb (9000-11.700 meter).

Baca Juga :  Koordinasi Karhutla dengan BNPB

“Perlu diketahui
bahwa di daerah Pasifik tersebut adalah daerah tekanan rendah dan terjadi
siklon tropis. Akibatnya terjadi penumpukan dan perlambatan awan di wilayah
yang dilaluinya yaitu Kalteng sebelah utara termasuk Muara Teweh,” beber
Sudarmono.

Hal itulah yang
menyebabkan durasi hujan dalam waktu kurang lebih tujuh jam beberapa lalu di Muara
Teweh.  Secara umum wilayah perbatasan Kalimantan dan Malaysia adalah
daerah nonmusim. Artinya terjadi hujan sepanjang tahun dikarenakan daerah
tersebut daerah pegunungan dan dekat khatulistiwa (daerah belokan angin /efek
coriolis).  Maka, lanjut dia, ketika terjadi angin baratan (Oktober-April)
daerah tersebut mendapat suplai uap air dari Laut China Selatan, dan ketika
terjadi angin timuran (Mei-September) mendapat suplai uap air dari Lautan
Pasifik bagian barat. 

Sudarmono
mengungkapkan, saat ini angin timuran masih mendominasi hampir di seluruh
wilayah di Indonesia. Angin timuran yang dimaksudkan di sini adalah angin yang
bertiup dari Benua Australia dan daerah timur Benua Australia. Sementara ini,
tambah dia, kondisi suhu muka Laut yang dilalui angin timuran yang menuju pulau
Kalimantan yaitu Laut Jawa, Laut Bali, Laut Flores, Laut Arafuru rata-ratanya
masih dibawah suhu 27 derajat celcius.

Baca Juga :  Sementara, Warga dari Luar Pondok Dilarang Masuk

Artinya potensi penguapan sangat kecil
dan kalaupun terjadi pembentukan awan, hanya awan–awan stratus (datar) bukan
awan-awan konvektiv (awan cumulonimbus/awan hujan yang hebat). Awan-awan
stratus bisa menghasilkan hujan namun hanya bersifat hujan ringan dan
durasinya cukup singkat. “Untuk hujan-hujan yang terjadi saat ini di
wilayah Kalimantan, kejadiannya hampir sama dengan fenomena sebelumnya,”
timpal Sudarmono. (cah)

Terpopuler

Artikel Terbaru