29.4 C
Jakarta
Thursday, April 3, 2025

Telan Dana Rp 55 Milar Lebih, Jembatan Buntung 14 Tahun Mangkrak

SUKAMARA – Nama jembatan buntung tentu
sudah tidak asing lagi terdengar di kalangan masyarakat Kabupaten Sukamara.
Julukan tersebut disematkan warga pada jembatan yang menghubungkan Provinsi
Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Barat yang dibangun menyeberangi Sungai
Jelai.

Kebetulan batas kedua provinsi
itu dipisahkan Sungai Jelai. Di seberang ada Kabupaten Ketapang (Kalbar), dan
seberangnya lagi Kabupaten Sukamara (Kalteng).

Dinamakan jembatan buntung karena
pembangunannya mangkarak sejak 14 tahun lalu. Sehinga warga menyebutnya
jembatan buntung atau putus. Padahal keberadaan jembatan tersebut sangat
dibutuhkan warga sebagai akses penghubung Sukamara dengan Ketapang, sehingga tidak lagi harus memutar
jauh.

Pembangunan jembatan tersebut
atas kesepakatan Gubernur Kalteng dan Kalbar saat itu, termasuk bupati dan ketua
DPRD, baik Sukamara maupun Ketapang.

Namun dalam perjalanannya,
pembangunan jembatan dari Sukamara sudah rampung untuk wilayah Kalimantan
Tengah. Tapi pembangunan jembatan dari arah Ketapang tidak ada kepastian.
Sehingga pembangunan Jembatan Jelai itu terhenti di tengah sungai.

Baca Juga :  Bupati Ajak Seluruh Investor di Bartim Ikut Berkurban

Mangkraknya pembangunan jembatan
menyisakan pertanyaan besar terkait komitmen Pemprov Kalbar dalam hal
pembangunan jembatan tersebut. Mengingat pembangunan jembatan disepakati dengan
perjanjian kerja sama (MoU) antara kedua belah pihak.

Bupati Sukamara H Windu Subagio
bahkan sempat beberapa kali menyinggung terhentinya pembangunan jembatan
tersebut. Mengingat anggaran yang sudah dikeluarkan Pemprov Kalteng dan
Kabupaten Sukamara untuk pembangunan tersebut jumlahnya tidak sedikit. Yakni Rp
55 Miliar lebih.

“Ada jembatan yang dibangun di Sungai
Jelai, yang MoU-nya disepakati sejak tahun 2005 hingga sekarang sudah 14 tahun.
Saat ini diberi nama jembatan buntung oleh warga karena jembatan tidak
rampung,” kata Windu Subagio saat meresmikan Jembatan Sungai Mapam yang juga
menjadi akses penghubung antardesa di Sukamara beberapa waktu lalu.

Padahal, menurut bupati,
pembangunan jembatan saat ini sudah sampai seberang Sungai Jelai, atau sudah
masuk ke wilayah Kabupaten Ketapang, Kalbar. Tetapi karena komitmen, hingga
kini jembatan tersebut belum bisa diteruskan pembangunannya.

Baca Juga :  Dibantu 6.000 Bibit Ikan, Warga Berharap Bisa Dibantu Buat Keramba

“Seharusnya jika kita mengacu
pada perjanjian kerja sama mestinya sudah lama rampung. Karena MoU sudah
ditandatangani oleh dua gubernur, yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
saat itu, dua bupati dan dua ketua DPRD. Namun belum selesai hingga saat ini,”
jelasnya.

Meskipun demikian, Pemkab
Sukamara dan Pemprov Kalteng terus mendorong agar upaya pembangunan jembatan
penghubung tersebut bisa kembali berlanjut. Dengan mengedepankan kepentingan
masyarakat luas, khususnya warga Kalteng dan Kalbar.

“Saya berharap jembatan dapat terhubung
dan terkoneksi antardaerah secepatnya. Kami juga menyambut baik, karena kemarin
juga sudah ada MoU kembali anatara gubernur Kalteng dengan gubernur Kalbar
terkait pembangunan jembatan, jalan penghubung tersebut,” ungkapnya.

Bupati menambahkan, melalui
komitmen kerja sama yang baru diharapkan dapat kembali ditindaklanjuti terkait
konektivitas jalan dan jembatan antara Kalteng dengan Kalbar. Sehingga
manfaatnya bisa dirasakan secepatnya oleh masyarakat kedua provinsi. (lan/ens/ctk/nto)

SUKAMARA – Nama jembatan buntung tentu
sudah tidak asing lagi terdengar di kalangan masyarakat Kabupaten Sukamara.
Julukan tersebut disematkan warga pada jembatan yang menghubungkan Provinsi
Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Barat yang dibangun menyeberangi Sungai
Jelai.

Kebetulan batas kedua provinsi
itu dipisahkan Sungai Jelai. Di seberang ada Kabupaten Ketapang (Kalbar), dan
seberangnya lagi Kabupaten Sukamara (Kalteng).

Dinamakan jembatan buntung karena
pembangunannya mangkarak sejak 14 tahun lalu. Sehinga warga menyebutnya
jembatan buntung atau putus. Padahal keberadaan jembatan tersebut sangat
dibutuhkan warga sebagai akses penghubung Sukamara dengan Ketapang, sehingga tidak lagi harus memutar
jauh.

Pembangunan jembatan tersebut
atas kesepakatan Gubernur Kalteng dan Kalbar saat itu, termasuk bupati dan ketua
DPRD, baik Sukamara maupun Ketapang.

Namun dalam perjalanannya,
pembangunan jembatan dari Sukamara sudah rampung untuk wilayah Kalimantan
Tengah. Tapi pembangunan jembatan dari arah Ketapang tidak ada kepastian.
Sehingga pembangunan Jembatan Jelai itu terhenti di tengah sungai.

Baca Juga :  Bupati Ajak Seluruh Investor di Bartim Ikut Berkurban

Mangkraknya pembangunan jembatan
menyisakan pertanyaan besar terkait komitmen Pemprov Kalbar dalam hal
pembangunan jembatan tersebut. Mengingat pembangunan jembatan disepakati dengan
perjanjian kerja sama (MoU) antara kedua belah pihak.

Bupati Sukamara H Windu Subagio
bahkan sempat beberapa kali menyinggung terhentinya pembangunan jembatan
tersebut. Mengingat anggaran yang sudah dikeluarkan Pemprov Kalteng dan
Kabupaten Sukamara untuk pembangunan tersebut jumlahnya tidak sedikit. Yakni Rp
55 Miliar lebih.

“Ada jembatan yang dibangun di Sungai
Jelai, yang MoU-nya disepakati sejak tahun 2005 hingga sekarang sudah 14 tahun.
Saat ini diberi nama jembatan buntung oleh warga karena jembatan tidak
rampung,” kata Windu Subagio saat meresmikan Jembatan Sungai Mapam yang juga
menjadi akses penghubung antardesa di Sukamara beberapa waktu lalu.

Padahal, menurut bupati,
pembangunan jembatan saat ini sudah sampai seberang Sungai Jelai, atau sudah
masuk ke wilayah Kabupaten Ketapang, Kalbar. Tetapi karena komitmen, hingga
kini jembatan tersebut belum bisa diteruskan pembangunannya.

Baca Juga :  Dibantu 6.000 Bibit Ikan, Warga Berharap Bisa Dibantu Buat Keramba

“Seharusnya jika kita mengacu
pada perjanjian kerja sama mestinya sudah lama rampung. Karena MoU sudah
ditandatangani oleh dua gubernur, yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
saat itu, dua bupati dan dua ketua DPRD. Namun belum selesai hingga saat ini,”
jelasnya.

Meskipun demikian, Pemkab
Sukamara dan Pemprov Kalteng terus mendorong agar upaya pembangunan jembatan
penghubung tersebut bisa kembali berlanjut. Dengan mengedepankan kepentingan
masyarakat luas, khususnya warga Kalteng dan Kalbar.

“Saya berharap jembatan dapat terhubung
dan terkoneksi antardaerah secepatnya. Kami juga menyambut baik, karena kemarin
juga sudah ada MoU kembali anatara gubernur Kalteng dengan gubernur Kalbar
terkait pembangunan jembatan, jalan penghubung tersebut,” ungkapnya.

Bupati menambahkan, melalui
komitmen kerja sama yang baru diharapkan dapat kembali ditindaklanjuti terkait
konektivitas jalan dan jembatan antara Kalteng dengan Kalbar. Sehingga
manfaatnya bisa dirasakan secepatnya oleh masyarakat kedua provinsi. (lan/ens/ctk/nto)

Terpopuler

Artikel Terbaru