Kasus ISPA di Banjarmasin Capai 47.991, Dinkes Soroti Dampak Kemarau dan Karhutla

PROKALTENG.CO-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin mencatat, 47.991 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Kasus terbanyak berasal dari kelompok dewasa dengan 19.403 kasus. Disusul balita 10.817 kasus, anak 6.462 kasus, lansia 5.850 kasus, dan remaja 5.459 kasus.

Jika dirinci per bulan, kasus ISPA tertinggi terjadi pada Januari dengan 9.933 kasus. Angka tersebut kemudian turun menjadi 7.434 kasus pada Februari dan 6.063 kasus pada Maret.

Pada April, kasus kembali meningkat menjadi 6.701 kasus, lalu turun menjadi 5.152 kasus pada Mei.

Memasuki Juni, kasus naik menjadi 6.432 kasus dan kembali turun tipis pada Juli dengan 6.276 kasus.

Kepala Dinkes Banjarmasin, Yanuar Diansyah, mengatakan peningkatan kasus dalam tiga bulan terakhir cukup terlihat pada kelompok dewasa.

“Fluktuasi dewasa ini naik terus, mungkin karena paling banyak aktivitas yang bekerja, melintasi cuaca panas dan kabut asap,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Electronic money exchangers listing

Menurutnya, kondisi kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terutama terhadap masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Dinkes Banjarmasin pun telah melakukan sejumlah langkah mitigasi menghadapi risiko tersebut.

Salah satunya dengan menerbitkan edaran sistem kewaspadaan dini kepada seluruh puskesmas di Kota Banjarmasin.

“Kemarau dan terjadinya karhutla faktornya itu di orang dewasa. Itu yang menyebabkan peningkatan ISPA di orang dewasa. Maka, kami sudah antisipasi atau mitigasi risiko terhadap kejadian kemarau dan dampak dari karhutla terhadap penyakit ISPA dan diare,” jelasnya.

Baca Juga :  Kebakaran Kembali Meluas Akibat Adanya Angin Kencang

Edukasi kepada masyarakat juga dilakukan melalui media sosial oleh tim promosi kesehatan (promkes), terutama mengenai risiko penyakit serta langkah pencegahannya.

Yanuar mengingatkan masyarakat yang mengalami gejala ISPA agar tidak menunda pemeriksaan.

“Segera masyarakat berobat, jangan sampai tambah parah, agar cepat diselesaikan di tingkat dasar,” imbaunya.

Data Tahunan Perlu Dibaca dengan Catatan

Dinkes juga mencatat kasus ISPA pada 2021 sebanyak 18.186 kasus, kemudian meningkat menjadi 41.120 kasus pada 2022 dan 45.236 kasus pada 2023.

Pada 2024 tercatat 47.356 kasus, sedangkan pada 2025 jumlahnya mencapai 88.803 kasus.

Namun, Yanuar mengatakan lonjakan angka pada 2025 tidak dapat langsung diartikan sebagai peningkatan kasus hampir dua kali lipat. Sebab, terjadi perubahan format aplikasi dan mekanisme pelaporan di tingkat pusat.

Mulai 2025, sistem pelaporan menambahkan kategori remaja, dewasa, dan lansia yang sebelumnya belum tercakup dalam format 2021–2024.

“Kalau dari 2024 sampai 2025 kasus ISPA meningkat sangat banyak, hampir dua kali lipat. Ada format perubahan, terjadi peningkatan kasus ini bukan kasusnya yang melonjak,” terangnya.

Perubahan tersebut, lanjut dia, lebih berkaitan dengan perluasan indikator dan cakupan penemuan kasus sehingga angka yang tercatat menjadi lebih besar.

Baca Juga :  Pacari Lalu Peras Wanita, Anggota BIN Palsu Ini Diringkus Polisi

Diare Capai 6.673 Kasus

Selain ISPA, Dinkes Banjarmasin mencatat 6.673 kasus diare sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Kasus tertinggi terjadi pada Januari dengan 1.570 kasus. Angka tersebut kemudian turun menjadi 895 kasus pada Februari dan 796 kasus pada Maret.

Pada April tercatat 857 kasus, kemudian turun menjadi 783 kasus pada Mei. Kasus kembali meningkat pada Juni menjadi 827 kasus dan Juli mencapai 945 kasus.

Yanuar juga mengingatkan masyarakat tetap menjaga kewaspadaan terhadap kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Saat ini, masyarakat Banjarmasin disebut telah memanfaatkan sekitar 99 persen layanan air bersih.

Namun, kondisi bahan baku air yang mengalami peningkatan kadar garam tetap perlu menjadi perhatian.

“Diare masih rendah, tetapi pada saat ini kualitas bahan baku air ada peningkatan kadar garam yang tinggi, sedikit banyaknya berpengaruh,” katanya.

Menurutnya, persoalan tidak hanya berkaitan dengan cakupan masyarakat yang telah memiliki jaringan air bersih, tetapi juga kualitas air baku yang diolah.

“Bukan masalah berapa jumlah masyarakat yang punya jaringan, tapi air baku yang diolah untuk keperluan rumah tangga yang kadar garamnya meningkat. Masyarakat tetap perlu menjaga kewaspadaan,” pungkasnya.(jpg)

 

PROKALTENG.CO-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin mencatat, 47.991 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Kasus terbanyak berasal dari kelompok dewasa dengan 19.403 kasus. Disusul balita 10.817 kasus, anak 6.462 kasus, lansia 5.850 kasus, dan remaja 5.459 kasus.

Jika dirinci per bulan, kasus ISPA tertinggi terjadi pada Januari dengan 9.933 kasus. Angka tersebut kemudian turun menjadi 7.434 kasus pada Februari dan 6.063 kasus pada Maret.

Electronic money exchangers listing

Pada April, kasus kembali meningkat menjadi 6.701 kasus, lalu turun menjadi 5.152 kasus pada Mei.

Memasuki Juni, kasus naik menjadi 6.432 kasus dan kembali turun tipis pada Juli dengan 6.276 kasus.

Kepala Dinkes Banjarmasin, Yanuar Diansyah, mengatakan peningkatan kasus dalam tiga bulan terakhir cukup terlihat pada kelompok dewasa.

“Fluktuasi dewasa ini naik terus, mungkin karena paling banyak aktivitas yang bekerja, melintasi cuaca panas dan kabut asap,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, kondisi kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terutama terhadap masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Dinkes Banjarmasin pun telah melakukan sejumlah langkah mitigasi menghadapi risiko tersebut.

Salah satunya dengan menerbitkan edaran sistem kewaspadaan dini kepada seluruh puskesmas di Kota Banjarmasin.

“Kemarau dan terjadinya karhutla faktornya itu di orang dewasa. Itu yang menyebabkan peningkatan ISPA di orang dewasa. Maka, kami sudah antisipasi atau mitigasi risiko terhadap kejadian kemarau dan dampak dari karhutla terhadap penyakit ISPA dan diare,” jelasnya.

Baca Juga :  Kebakaran Kembali Meluas Akibat Adanya Angin Kencang

Edukasi kepada masyarakat juga dilakukan melalui media sosial oleh tim promosi kesehatan (promkes), terutama mengenai risiko penyakit serta langkah pencegahannya.

Yanuar mengingatkan masyarakat yang mengalami gejala ISPA agar tidak menunda pemeriksaan.

“Segera masyarakat berobat, jangan sampai tambah parah, agar cepat diselesaikan di tingkat dasar,” imbaunya.

Data Tahunan Perlu Dibaca dengan Catatan

Dinkes juga mencatat kasus ISPA pada 2021 sebanyak 18.186 kasus, kemudian meningkat menjadi 41.120 kasus pada 2022 dan 45.236 kasus pada 2023.

Pada 2024 tercatat 47.356 kasus, sedangkan pada 2025 jumlahnya mencapai 88.803 kasus.

Namun, Yanuar mengatakan lonjakan angka pada 2025 tidak dapat langsung diartikan sebagai peningkatan kasus hampir dua kali lipat. Sebab, terjadi perubahan format aplikasi dan mekanisme pelaporan di tingkat pusat.

Mulai 2025, sistem pelaporan menambahkan kategori remaja, dewasa, dan lansia yang sebelumnya belum tercakup dalam format 2021–2024.

“Kalau dari 2024 sampai 2025 kasus ISPA meningkat sangat banyak, hampir dua kali lipat. Ada format perubahan, terjadi peningkatan kasus ini bukan kasusnya yang melonjak,” terangnya.

Perubahan tersebut, lanjut dia, lebih berkaitan dengan perluasan indikator dan cakupan penemuan kasus sehingga angka yang tercatat menjadi lebih besar.

Baca Juga :  Pacari Lalu Peras Wanita, Anggota BIN Palsu Ini Diringkus Polisi

Diare Capai 6.673 Kasus

Selain ISPA, Dinkes Banjarmasin mencatat 6.673 kasus diare sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Kasus tertinggi terjadi pada Januari dengan 1.570 kasus. Angka tersebut kemudian turun menjadi 895 kasus pada Februari dan 796 kasus pada Maret.

Pada April tercatat 857 kasus, kemudian turun menjadi 783 kasus pada Mei. Kasus kembali meningkat pada Juni menjadi 827 kasus dan Juli mencapai 945 kasus.

Yanuar juga mengingatkan masyarakat tetap menjaga kewaspadaan terhadap kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Saat ini, masyarakat Banjarmasin disebut telah memanfaatkan sekitar 99 persen layanan air bersih.

Namun, kondisi bahan baku air yang mengalami peningkatan kadar garam tetap perlu menjadi perhatian.

“Diare masih rendah, tetapi pada saat ini kualitas bahan baku air ada peningkatan kadar garam yang tinggi, sedikit banyaknya berpengaruh,” katanya.

Menurutnya, persoalan tidak hanya berkaitan dengan cakupan masyarakat yang telah memiliki jaringan air bersih, tetapi juga kualitas air baku yang diolah.

“Bukan masalah berapa jumlah masyarakat yang punya jaringan, tapi air baku yang diolah untuk keperluan rumah tangga yang kadar garamnya meningkat. Masyarakat tetap perlu menjaga kewaspadaan,” pungkasnya.(jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru