PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hebat yang melalap tujuh ruko di Jalan Christoper Mihing, Kota Palangka Raya, Kamis (15/1/2025) siang, meninggalkan duka mendalam bagi Hailani (56). Rumah sekaligus warung sembako miliknya rata dengan tanah, termasuk uang puluhan juta rupiah yang disiapkan untuk biaya umrah sang istri.
Dengan duduk di atas tikar bekas spanduk, Hailani hanya bisa memandangi puing bangunan yang hangus terbakar. Saat api berkobar, rumah dalam kondisi kosong karena ia sedang bekerja, sementara istrinya pergi melayat ke rumah duka.
Hailani menuturkan, ia mengetahui musibah itu dari seorang kenalan yang melintas di lokasi. Saat mendapat kabar, api sudah membesar dan petugas pemadam memenuhi area kebakaran.
“Saya lagi kerja jadi juru parkir. Ada kenalan lewat bilang rumah saya terbakar. Pas saya sampai, apinya sudah besar, mobil pemadam juga banyak, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya saat ditemui Prokalteng.co, Jumat (16/1).
Ia mengaku sempat mengira istrinya berada di rumah saat kejadian. Namun belakangan diketahui sang istri sedang melayat sehingga rumah terkunci dan tidak berpenghuni.
“Rumah kosong dan terkunci. Saya kira istri di rumah, ternyata sedang melayat,” katanya.
Kobaran api menghabiskan seluruh isi rumah dan warung sembako miliknya. Barang dagangan, uang tunai, hingga perhiasan emas tak terselamatkan.
“Uang sekitar Rp30 juta sama emas habis semua. Itu sebenarnya uang yang kami siapkan buat istri umrah,” ungkapnya lirih.
Terkait penyebab kebakaran, Hailani menepis dugaan berasal dari aktivitas memasak. Ia memastikan tidak ada kegiatan dapur sebelum istrinya pergi.
“Istri jarang masak. Biasanya saya belikan makanan pagi. Malam paling cuma rebus air, bikin kopi,” jelasnya.
Pasca kebakaran, rumah tersebut tak lagi bisa ditempati. Untuk sementara, Hailani dan istrinya bertahan di sekitar lokasi dan menumpang di rumah keluarga.
“Sekarang belum bisa ditempati. Siang saya di ruko depan warung, malamnya numpang di rumah keluarga istri,” katanya.
Ia juga menyebut sejumlah tetangga sempat berusaha menyelamatkan barang-barang, namun api cepat membesar.
“Ada tetangga yang sempat keluarkan barang, tapi saya sendiri tidak bisa ambil apa-apa,” ujarnya.
Meski kehilangan hampir seluruh harta benda, Hailani memilih pasrah. Ia mengaku siap menerima bantuan jika ada, namun tidak memaksakan.
“Kalau ada bantuan, saya terima. Kalau tidak ada juga tidak apa-apa. Di sini yang tinggal fakir miskin semua, ini juga jalur hijau,” tutupnya. (jef)


