Hadapi Kemarau Ekstrem, Bapperida Kalteng Gelar Sidang Pleno TKPSDA Evaluasi Kekeringan 2026

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena kemarau ekstrem El Niño 2026 yang melanda Kalimantan Tengah (Kalteng) berdampak serius pada menurunnya tinggi muka air dan kelembaban vegetasi di lahan gambut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida)  Provinsi Kalteng Syahfiri SE memperingatkan bahwa kondisi kekeringan ini memicu kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat merusak ekosistem serta mengancam pasokan air bersih.

Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Komisi dan Sidang Pleno IV Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Mentaya-Katingan dan Jelai-Kendawangan di Palangka Raya, Senin (28/9/2026).

“Ketika curah hujan berkurang dalam waktu yang cukup panjang, kelembaban tanah dan vegetasi menurun sehingga kondisi lingkungan menjadi sangat rentan terhadap kebakaran. Kekeringan ekstrem ini membuat hutan dan lahan gambut kita rentan memicu karhutla yang meluas,” ujar Syahfiri.

Baca Juga :  Potensi Shrimp Estate di Kalteng Meluas, Kotim dan Kobar Jadi Sorotan

Dampak karhutla tidak hanya menimbulkan kabut asap dan gangguan kesehatan masyarakat, tetapi juga memperburuk ketersediaan sumber air baku di wilayah Kalteng maupun Kalimantan Barat. Oleh karena itu, Bapperida Kalteng menekankan pentingnya langkah pencegahan dan penyusunan mitigasi bencana sejak dini, bukan sekadar merespons saat kebakaran terjadi. (hms/nue/kpg)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena kemarau ekstrem El Niño 2026 yang melanda Kalimantan Tengah (Kalteng) berdampak serius pada menurunnya tinggi muka air dan kelembaban vegetasi di lahan gambut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida)  Provinsi Kalteng Syahfiri SE memperingatkan bahwa kondisi kekeringan ini memicu kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat merusak ekosistem serta mengancam pasokan air bersih.

Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Komisi dan Sidang Pleno IV Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Mentaya-Katingan dan Jelai-Kendawangan di Palangka Raya, Senin (28/9/2026).

Electronic money exchangers listing

“Ketika curah hujan berkurang dalam waktu yang cukup panjang, kelembaban tanah dan vegetasi menurun sehingga kondisi lingkungan menjadi sangat rentan terhadap kebakaran. Kekeringan ekstrem ini membuat hutan dan lahan gambut kita rentan memicu karhutla yang meluas,” ujar Syahfiri.

Baca Juga :  Potensi Shrimp Estate di Kalteng Meluas, Kotim dan Kobar Jadi Sorotan

Dampak karhutla tidak hanya menimbulkan kabut asap dan gangguan kesehatan masyarakat, tetapi juga memperburuk ketersediaan sumber air baku di wilayah Kalteng maupun Kalimantan Barat. Oleh karena itu, Bapperida Kalteng menekankan pentingnya langkah pencegahan dan penyusunan mitigasi bencana sejak dini, bukan sekadar merespons saat kebakaran terjadi. (hms/nue/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru