PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Tengah (Kaltneg) memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak dan remaja putus sekolah melalui program rehabilitasi sosial di Panti Sosial Bina Remaja (PSBR).
Program ini membekali para penerima manfaat dengan bimbingan sosial serta pelatihan keterampilan praktis, seperti otomotif dan tata busana, guna mendorong kemandirian mereka saat kembali ke lingkungan masyarakat.
Plt Sekretaris Dinsos Kalteng, Alexander Prasetyo, mewakili Kepala Dinsos Kalteng Drs. Akhmad Husain, mengatakan rehabilitasi sosial menjadi salah satu cara pemerintah memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak yang sebelumnya tidak dapat melanjutkan pendidikan.
“Yang kami dorong bukan hanya bagaimana anak-anak ini mendapatkan pembinaan selama berada di panti, tetapi bagaimana mereka memiliki keterampilan yang bisa dibawa ketika kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Harapannya, mereka memiliki kemampuan untuk melanjutkan hidup secara lebih mandiri,” kata Alexander, Rabu (16/9).
Menurutnya, kondisi setiap anak berbeda. Karena itu, pendekatan dalam proses rehabilitasi juga perlu melihat latar belakang, kemampuan, serta minat masing-masing penerima manfaat.
Alexander mengatakan keterampilan yang diberikan diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas selama mengikuti pembinaan.
Anak-anak tersebut perlu memiliki kesempatan untuk mempraktikkan dan mengembangkan kemampuan yang telah diperoleh setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
“Kami ingin keterampilan yang mereka dapatkan benar-benar bisa digunakan. Karena itu, proses pembinaan harus memberikan pengalaman yang dekat dengan kebutuhan mereka dan bisa menjadi bekal ketika mereka kembali ke keluarga maupun masyarakat,” ujarnya.
Program rehabilitasi sosial tersebut juga mencakup pemenuhan kebutuhan dasar dan pendampingan selama anak berada dalam proses pembinaan.
Dalam penyelenggaraan rehabilitasi sosial dasar, pelayanan dapat mencakup pengasuhan, makanan, sandang, kesehatan, bimbingan fisik, mental, spiritual dan sosial, hingga akses terhadap pendidikan dasar.
Bagi Dinsos Kalteng, persoalan anak putus sekolah tidak cukup dilihat dari hilangnya akses terhadap pendidikan formal.
Ada kebutuhan lain yang juga perlu diperhatikan, terutama kemampuan anak untuk kembali berfungsi di lingkungan sosial dan memiliki bekal untuk menentukan langkah berikutnya.
Karena itu, keberadaan PSBR menjadi salah satu ruang pembinaan yang mempertemukan kebutuhan tersebut dengan pelatihan keterampilan.
Anak-anak tidak hanya menjalani rutinitas pembinaan, tetapi juga diarahkan mengenali kemampuan yang bisa dikembangkan.
Alexander menambahkan, dukungan keluarga tetap menjadi bagian penting setelah anak menyelesaikan proses rehabilitasi.
“Setelah selesai mengikuti pembinaan, tentu mereka akan kembali ke keluarga dan lingkungan masing-masing. Karena itu, dukungan keluarga sangat penting agar keterampilan dan perubahan yang sudah dibangun selama di panti tidak berhenti begitu saja,” pungkasnya.(tim).


