Karhutla Kalteng Meningkat, Palangka Raya Catat Kasus Terbanyak

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus menunjukkan peningkatan selama musim kemarau 2026 berdasarkan data Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Provinsi Kalteng hingga 4 Juli 2026.

“Data ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan terus kami lakukan secara terpadu bersama seluruh stakeholder,” ujar Kepala Pelaksana Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, Kamis (9/7/2026).

Data posko mencatat 353 kejadian karhutla, 2.074 titik panas (hotspot), serta 527,30 hektare lahan terbakar berdasarkan laporan lapangan dari kabupaten dan kota.

“Pencegahan merupakan langkah paling efektif agar target mewujudkan Kalteng bebas kabut asap pada tahun 2026 dapat tercapai,” katanya.

Baca Juga :  Pemprov Kalteng Kucurkan Rp 150 Miliar per Kabupaten, Bukan Tunai tapi Program

Sementara itu, hasil analisis citra satelit menunjukkan luas area terdampak karhutla mencapai 2.915,11 hektare atau jauh lebih besar dibandingkan hasil pendataan lapangan.

“Pemadaman di Tumbang Nusa masih terus dilakukan secara terpadu. Seluruh personel gabungan dikerahkan untuk mencegah api meluas, terutama di kawasan lahan gambut yang cukup sulit dipadamkan,” ungkap Toyib.

Berdasarkan jumlah kejadian, Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan kasus karhutla tertinggi, yakni 153 kejadian atau sekitar 43 persen dari total kejadian di Kalteng. Disusul Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebanyak 57 kejadian dan Kabupaten Barito Utara 45 kejadian.

Electronic money exchangers listing

“Seluruh personel gabungan dikerahkan untuk memastikan kebakaran tidak meluas ke area yang lebih luas,” tambahnya.

Dari sisi luas lahan terbakar, Kabupaten Kotim menjadi daerah paling terdampak dengan 133,2 hektare, diikuti Kabupaten Sukamara 124,4 hektare, sedangkan Kota Palangka Raya mencapai 81,56 hektare.

Baca Juga :  Pemprov Kalteng Sambut Baik Rencana Pembangunan Makodam Kalteng

“Ancaman karhutla tahun ini harus dihadapi dengan kolaborasi seluruh pihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat,” tegas Toyib.

Sementara berdasarkan indikator titik panas, Kabupaten Katingan mencatat hotspot terbanyak sebanyak 305 titik, diikuti Kabupaten Kapuas 272 titik dan Kabupaten Kotim 271 titik.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Pemprov Kalteng telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla mulai 26 Mei hingga 31 Oktober 2026 serta mengaktifkan berbagai langkah penanganan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca, patroli udara, dan persiapan water bombing.

“Selain penanganan di lapangan, kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena pencegahan tetap menjadi kunci utama pengendalian karhutla,” pungkasnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus menunjukkan peningkatan selama musim kemarau 2026 berdasarkan data Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Provinsi Kalteng hingga 4 Juli 2026.

“Data ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan terus kami lakukan secara terpadu bersama seluruh stakeholder,” ujar Kepala Pelaksana Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, Kamis (9/7/2026).

Data posko mencatat 353 kejadian karhutla, 2.074 titik panas (hotspot), serta 527,30 hektare lahan terbakar berdasarkan laporan lapangan dari kabupaten dan kota.

Electronic money exchangers listing

“Pencegahan merupakan langkah paling efektif agar target mewujudkan Kalteng bebas kabut asap pada tahun 2026 dapat tercapai,” katanya.

Baca Juga :  Pemprov Kalteng Kucurkan Rp 150 Miliar per Kabupaten, Bukan Tunai tapi Program

Sementara itu, hasil analisis citra satelit menunjukkan luas area terdampak karhutla mencapai 2.915,11 hektare atau jauh lebih besar dibandingkan hasil pendataan lapangan.

“Pemadaman di Tumbang Nusa masih terus dilakukan secara terpadu. Seluruh personel gabungan dikerahkan untuk mencegah api meluas, terutama di kawasan lahan gambut yang cukup sulit dipadamkan,” ungkap Toyib.

Berdasarkan jumlah kejadian, Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan kasus karhutla tertinggi, yakni 153 kejadian atau sekitar 43 persen dari total kejadian di Kalteng. Disusul Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebanyak 57 kejadian dan Kabupaten Barito Utara 45 kejadian.

“Seluruh personel gabungan dikerahkan untuk memastikan kebakaran tidak meluas ke area yang lebih luas,” tambahnya.

Dari sisi luas lahan terbakar, Kabupaten Kotim menjadi daerah paling terdampak dengan 133,2 hektare, diikuti Kabupaten Sukamara 124,4 hektare, sedangkan Kota Palangka Raya mencapai 81,56 hektare.

Baca Juga :  Pemprov Kalteng Sambut Baik Rencana Pembangunan Makodam Kalteng

“Ancaman karhutla tahun ini harus dihadapi dengan kolaborasi seluruh pihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat,” tegas Toyib.

Sementara berdasarkan indikator titik panas, Kabupaten Katingan mencatat hotspot terbanyak sebanyak 305 titik, diikuti Kabupaten Kapuas 272 titik dan Kabupaten Kotim 271 titik.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Pemprov Kalteng telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla mulai 26 Mei hingga 31 Oktober 2026 serta mengaktifkan berbagai langkah penanganan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca, patroli udara, dan persiapan water bombing.

“Selain penanganan di lapangan, kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena pencegahan tetap menjadi kunci utama pengendalian karhutla,” pungkasnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru