Pemprov Kalteng Tekankan Sinkronisasi Data untuk Penataan Aset TNI

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyuarakan isu lama soal tumpang tindih lahan kembali mencuat dalam forum resmi tingkat nasional.

Itu disampaikan dalam Rapat Dengan Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Aset TNI Komisi I DPR RI, yang berlangsung di Gedung Nusantara II DPR RI, Selasa (7/4).

Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Tengah (Kalteng) Edy Pratowo didampingi Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng Agustan Saining menyoroti potensi gesekan antara klaim aset TNI dan kawasan hutan di daerah.

Agustan menyampaikan, persoalan ini bukan sekadar administrasi, tapi menyangkut realitas di lapangan yang selama ini rawan memicu konflik.

“Penataan aset itu penting, tapi jangan sampai mengabaikan fakta tata ruang dan status kawasan hutan. Kalau ini dipaksakan tanpa sinkronisasi, konflik bisa muncul lagi,” ucapnya.

Baca Juga :  Jabat Kapolres Barsel, Bangbang Saputra Disambut Potong Pantan dan Pedang Pora

Dia menjelaskan, forum tersebut membahas ambisi besar pemerintah dalam merapikan aset TNI melalui legitimasi lahan dan revitalisasi pangkalan. Namun bagi Kalteng, agenda tersebut menyimpan tantangan serius jika tidak dibarengi dengan keterbukaan data dan kejelasan batas wilayah.

Agustan mengingatkan, pendekatan sektoral tidak lagi relevan untuk menyelesaikan persoalan lahan yang kompleks. Ia mendorong integrasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat yang selama ini terdampak langsung.

Electronic money exchangers listing

“Kalau hanya satu pihak yang jalan, masalah tidak akan selesai. Harus ada keberanian membuka data, duduk bersama, dan memastikan masyarakat tidak jadi korban,” ungkapnya.

Nada serupa juga mengisyaratkan bahwa pemerintah daerah ingin dilibatkan lebih dari sekadar pelengkap dalam proses pengambilan kebijakan. Sebab, dampak dari setiap keputusan pusat akan langsung dirasakan di daerah.

Baca Juga :  Lahirkan Pemimpin Berkualitas di Kalteng

Tak hanya soal konflik, Kalteng juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pertahanan dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks daerah dengan kawasan hutan luas seperti Kalteng, kesalahan kebijakan bisa berdampak panjang, baik secara ekologis maupun sosial.(hfz)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyuarakan isu lama soal tumpang tindih lahan kembali mencuat dalam forum resmi tingkat nasional.

Itu disampaikan dalam Rapat Dengan Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Aset TNI Komisi I DPR RI, yang berlangsung di Gedung Nusantara II DPR RI, Selasa (7/4).

Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Tengah (Kalteng) Edy Pratowo didampingi Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng Agustan Saining menyoroti potensi gesekan antara klaim aset TNI dan kawasan hutan di daerah.

Electronic money exchangers listing

Agustan menyampaikan, persoalan ini bukan sekadar administrasi, tapi menyangkut realitas di lapangan yang selama ini rawan memicu konflik.

“Penataan aset itu penting, tapi jangan sampai mengabaikan fakta tata ruang dan status kawasan hutan. Kalau ini dipaksakan tanpa sinkronisasi, konflik bisa muncul lagi,” ucapnya.

Baca Juga :  Jabat Kapolres Barsel, Bangbang Saputra Disambut Potong Pantan dan Pedang Pora

Dia menjelaskan, forum tersebut membahas ambisi besar pemerintah dalam merapikan aset TNI melalui legitimasi lahan dan revitalisasi pangkalan. Namun bagi Kalteng, agenda tersebut menyimpan tantangan serius jika tidak dibarengi dengan keterbukaan data dan kejelasan batas wilayah.

Agustan mengingatkan, pendekatan sektoral tidak lagi relevan untuk menyelesaikan persoalan lahan yang kompleks. Ia mendorong integrasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat yang selama ini terdampak langsung.

“Kalau hanya satu pihak yang jalan, masalah tidak akan selesai. Harus ada keberanian membuka data, duduk bersama, dan memastikan masyarakat tidak jadi korban,” ungkapnya.

Nada serupa juga mengisyaratkan bahwa pemerintah daerah ingin dilibatkan lebih dari sekadar pelengkap dalam proses pengambilan kebijakan. Sebab, dampak dari setiap keputusan pusat akan langsung dirasakan di daerah.

Baca Juga :  Lahirkan Pemimpin Berkualitas di Kalteng

Tak hanya soal konflik, Kalteng juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pertahanan dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks daerah dengan kawasan hutan luas seperti Kalteng, kesalahan kebijakan bisa berdampak panjang, baik secara ekologis maupun sosial.(hfz)

Terpopuler

Artikel Terbaru