PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 151 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2025 dengan total luasan terbakar sekitar 47 hektare.
Plt. Kepala BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi mengatakan, meskipun jumlah titik kejadian cukup banyak, kondisi karhutla selama 2025 masih tergolong aman dan terkendali karena sebagian besar terjadi di lahan milik masyarakat dengan skala relatif kecil.
“Dari Januari sampai akhir tahun 2025 tercatat 151 kali kejadian karhutla dengan luasan kurang lebih 47 hektare, dan sebagian besar itu merupakan lahan masyarakat sehingga tidak meluas,” katanya, Jumat (9/1/2026).
Hendrikus menjelaskan, wilayah yang paling sering ditemukan kejadian karhutla berada di Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Jekan Raya, yang dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi daerah rawan kebakaran.
Menurutnya, kondisi karhutla pada 2024 hingga 2025 relatif lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena faktor cuaca yang cenderung “kemarau basah”, sehingga masih disertai hujan dan api tidak sempat menyebar luas.
“Dua tahun terakhir ini lebih terkendali karena masih ada hujan, ditambah kesiapsiagaan tim satgas yang dibantu oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui pembentukan pos lapangan, sehingga kejadian bisa langsung ditangani,” ujarnya.
Dia menegaskan, meskipun banyak titik api, seluruh kejadian dapat dikendalikan dengan cepat melalui respons terpadu di lapangan.
BPBD Kota Palangka Raya juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat dampak karhutla dapat mengganggu berbagai sektor, mulai dari ekonomi, transportasi, pendidikan, hingga kesehatan.
“Buka lahan jangan dengan cara dibakar. Banyak metode lain yang lebih aman, karena dampak karhutla sangat luas dan merugikan masyarakat,” tutupnya. (adr)


