PALANGKARAYA, PROKALTENG.CO – Baru-baru ini diketahui puluhan hewan ternak babi mati mendadak. Hal itu terjadi di beberapa wilayah desa di Kalimantan Tengah (Kalteng). Sementara untuk kondisi tersebut diduga disebabkan oleh virus African Swine Fever (ASF) dari famili asfarviridae yang merupakan salah satu penyakit pada hewan babi.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangkaraya, drh. Ganjar Priyatno mengungkapkan bahwa kondisi yang sama juga dialami di Kota Palangkaraya. Menurutnya pada bulan Januari 2024, ada sekitar 20 ekor babi dewasa yang ditangani dan dicurigai mengalami gejala ASF.
“Kurang lebih sama ya. Beberapa waktu lalu juga tenaga dokter hewan kita menangani kasus serupa dari permintaan langsung masyarakat yang mengalami gejala suspect ASF. Pada Januari 2024, ada sekitar 20 ekor babi dewasa yang ditangani,” ujar Ganjar, Selasa (6/2) siang.
Dia mengungkapkan bahwa jika melihat kondisi di lapangan, gejala yang terjadi pada ternak dugaan ASF memiliki ciri-ciri seperti nafsu makan menurun. Kemudian ambruk dan tidak mau berdiri. Selain itu, timbul ruam atau kemerahan perdarahan pada kulit.
Lanjutnya, gejala yang paling sering terjadi adalah nafsu makan menurun, kemudian ambruk dan terkadang ada yang mengalami diare. Terkait kondisi hewan ternak yang tersuspect penyakit tersebut, mayoritas dikatakan akan mati.
“Karena masyarakat biasanya kalau baru sakit, biasa mengobati penyakitnya secara tradisional. Nah, kalau sudah sakit sekali, biasanya mereka menghubungi kita, dan petugas kita langsung ke sana. Kalau ASF seperti itu, penanganan paling vitalnya sebenarnya adalah vaksin. Namun, karena vaksin ASF belum ada, itu juga yang menjadi kendala kita dalam penanganan ASF di lapangan,” jelasnya. (ana/hnd)