NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — Kabut asap tipis kembali menyelimuti kawasan Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, pada Sabtu siang (3/10/2026). Fenomena ini terjadi akibat maraknya peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang sejumlah desa di sekitarnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jarak pandang di area perkotaan mulai menurun berbarengan dengan munculnya aroma sangit yang cukup menyengat. Jarak pandang yang terbatas ini juga berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan aktivitas warga di luar ruangan.
Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Lamandau, Huda, membenarkan bahwa kabut asap yang melingkupi Kota Nanga Bulik bukanlah berasal dari titik api di dalam kota, melainkan hasil kiriman dari kebakaran lahan di desa tetangga.
“Kabut asap ini kiriman dari Desa Batu Hambawang, Batu Kotam, dan Kondang,” ungkap Huda saat memberikan keterangan mengenai kondisi udara di wilayah perkotaan.
Pekatnya kabut asap tersebut memicu keluhan dari sejumlah warga setempat. Banyak masyarakat mulai merasa terganggu saat beraktivitas di luar rumah, terutama menyangkut kesehatan pernapasan dan kenyamanan mata.
Sebagian warga terpaksa kembali mengencangkan penggunaan masker dan membatasi mobilitas luar ruangan untuk mengantisipasi paparan asap. Warga pun berharap penanganan titik-titik karhutla di desa-desa sekitar dapat segera dituntaskan agar kualitas udara di Nanga Bulik kembali normal. (bib)
NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — Kabut asap tipis kembali menyelimuti kawasan Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, pada Sabtu siang (3/10/2026). Fenomena ini terjadi akibat maraknya peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang sejumlah desa di sekitarnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jarak pandang di area perkotaan mulai menurun berbarengan dengan munculnya aroma sangit yang cukup menyengat. Jarak pandang yang terbatas ini juga berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan aktivitas warga di luar ruangan.
Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Lamandau, Huda, membenarkan bahwa kabut asap yang melingkupi Kota Nanga Bulik bukanlah berasal dari titik api di dalam kota, melainkan hasil kiriman dari kebakaran lahan di desa tetangga.
“Kabut asap ini kiriman dari Desa Batu Hambawang, Batu Kotam, dan Kondang,” ungkap Huda saat memberikan keterangan mengenai kondisi udara di wilayah perkotaan.
Pekatnya kabut asap tersebut memicu keluhan dari sejumlah warga setempat. Banyak masyarakat mulai merasa terganggu saat beraktivitas di luar rumah, terutama menyangkut kesehatan pernapasan dan kenyamanan mata.
Sebagian warga terpaksa kembali mengencangkan penggunaan masker dan membatasi mobilitas luar ruangan untuk mengantisipasi paparan asap. Warga pun berharap penanganan titik-titik karhutla di desa-desa sekitar dapat segera dituntaskan agar kualitas udara di Nanga Bulik kembali normal. (bib)