32.9 C
Jakarta
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Rebound Ekonomi Kalimantan Tengah

PADA awal Agustus 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka pertumbuhan ekonomi terbaru (triwulan II tahun 2021). Data ini sangat ditunggu banyak pihak untuk mengetahui kemajuan perekonomian di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda. Pada triwulan II 2021 ekonomi Kalteng tumbuh sebesar 5,56 persen dibanding tahun 2020 (y-on-y) dan 2,92 persen terhadap triwulan I 2021 (q-to-q).

Meskipun di bawah rata-rata nasional (7,07 persen) dan masih dibayang-bayangi Covid-19, angka pertumbuhan tersebut cukup menggembirakan. Ini adalah pertama kali perekonomian Kalteng mengalami pertumbuhan positif sejak triwulan II 2020.

Dalam kondisi normal, pertumbuhan 5,56 persen tentu menggembirakan. Namun, dalam kondisi tidak normal seperti sekarang ini, angka pertumbuhan tersebut tidak boleh membuat kita terlena.

Salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi Kalteng yang tinggi dan berbalik arah (rebound) pada triwulan II 2021 adalah karena low base effect. Perekonomian Kalteng pada Triwulan II 2020 berada pada level terendah selama tahun 2020. Karena basis tahun sebelumnya rendah, peningkatan aktivitas yang sedikit saja akan memberi dampak yang besar.

Pola pertumbuhan ekonomi y-on-y Kalteng lebih fluktuatif dibanding rata-rata nasional. Setelah terkoreksi 3,17 persen pada triwulan II 2020, perekonomian Kalteng mengalami perbaikan pada dua triwulan berikutnya, yaitu -3,14 persen (triwulan III 2020) dan -2,10 persen (teriwulan IV 2020), kemudian turun lagi menjadi -3,12 persen pada triwulan I 2021.

Lapangan usaha penopang ekonomi Kalteng

Secara umum, tidak ada perubahan struktur pada perekonomian Kalteng di triwulan II 2021. Pertanian masih merupakan lapangan usaha dengan kontribusi terbesar yaitu mencapai 22,29 persen, diikuti industri pengolahan 17,48 persen, perdagangan 12,50 persen, konstruksi 8,36 persen, dan pertambangan penggalian 8,15 persen. Kontribusi kelima lapangan usaha tersebut terhadap total PDRB Kalteng mencapai sekitar 70 persen setiap tahun, sehingga goncangan pada salah satu lapangan usaha tersebut berpotensi menggerus perekonomian Kalteng secara keseluruhan.

Baca Juga :  Mencermati Investasi Aset Kripto

Dilihat lebih rinci, hampir semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif, kecuali pertambangan dan penggalian. Lapangan usaha penopang utama ekonomi Kalteng masing-masing tumbuh 1,77 persen (pertanian), 7,66 persen (industri pengolahan), 3,05 persen (perdagangan), 11,25 persen (konstruksi), dan -5,49 persen (pertambangan dan penggalian). Sementara sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari administrasi pemerintahan (1,29 persen), industri pengolahan (1,20 persen), dan konstruksi (0,79 persen).

Tergantung aktivitas ekspor impor

Dari sisi pengeluaran, semua komponen mampu tumbuh positif. Pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan terbesar mencapai 16,74 persen dengan kontribusi sebesar 14,67 persen. Ekspor yang mempunyai kontribusi terbesar (47,96 persen) mengalami pertumbuhan sebesar 7,59 persen. Konsumsi rumah tangga dan PMTB (pembentukan modal tetap bruto) juga tumbuh meskipun tidak terlalu besar yaitu 3,47 persen dan 2,32 persen.

Apabila dicermati lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2021 didorong oleh pertumbuhan ekspor. Dibanding tahun sebelumnya, pertumbuhan nilai ekspor Kalteng pada triwulan II 2021 sangat tinggi mencapai 79,36 persen. Ini dorong membaiknya perekonomian negara-negara tujuan ekspor Kalteng seperti Tiongkok, Jepang, dan India.

Dari sisi lain, impor juga mempunyai porsi yang besar yang menunjukkan barang kebutuhan Kalteng dipasok dari provinsi lain atau luar negeri. Besarnya porsi ekspor dan impor ini menggambarkan perekonomian Kalteng Kalteng sangat tergantung dan ditentukan oleh kondisi perekonomian provinsi lain atau luar negeri.

Baca Juga :  Mempertanyakan Dana Aspirasi

Peran strategis pemerintah

Peranan pemerintah dalam perekonomian di Kalteng sangat strategis, selain sebagai regulator juga sebagai pelaku. Kontribusi konsumsi pemerintah dalam pembentukan PDRB Kalteng mencapai sekitar 14 persen setiap tahun, sedangkan rata-rata nasional hanya sekitar 9 persen. Melalui berbagai pengeluaran rutin, pembangunan, bantuan, subsidi, dan sebagainya, pemerintah dapat menggerakan perekonomian. Penyebab terkoreksinya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2021 selain menurunnya kinerja sektor pertambangan, juga karena pengeluaran pemerintah yang masih tersendat.

Ke depan pemerintah harus bersiap dengan pertumbuhan yang lebih rendah dibanding triwulan II 2021 karena dua kondisi. Pertama, perekonomian Kalteng pada triwulan III 2020 relatif lebih baik dibanding triwulan II 2020, sehingga perlu peningkatan lebih besar agar tumbuh di atas triwulan II 2020. Kedua, kebijakan PPKM Darurat (PPKM level 3-4) yang sudah berjalan hampir dua bulan di Kalteng. Kebijakan ini memang dapat menurunkan angka penularan Covid-19, tetapi pasti akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai penutup, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2021 memang menggembirakan, tetapi tidak boleh membuat kita terlena. Penanganan kesehatan harus tetap menjadi fokus pemerintah. Vaksinasi masal tetap dilakukan dan dipercepat untuk memberi rasa aman masyarakat. Jaminan pengamanan sosial bagi masyarakat yang rentan juga harus dilakukan. Segala bantuan harus benar-benar diterima oleh yang membutuhkan. (*)

(AKHMAD TANTOWI. Statistisi Ahli Madya – BPS Provinsi Kalimantan Tengah)

PADA awal Agustus 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka pertumbuhan ekonomi terbaru (triwulan II tahun 2021). Data ini sangat ditunggu banyak pihak untuk mengetahui kemajuan perekonomian di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda. Pada triwulan II 2021 ekonomi Kalteng tumbuh sebesar 5,56 persen dibanding tahun 2020 (y-on-y) dan 2,92 persen terhadap triwulan I 2021 (q-to-q).

Meskipun di bawah rata-rata nasional (7,07 persen) dan masih dibayang-bayangi Covid-19, angka pertumbuhan tersebut cukup menggembirakan. Ini adalah pertama kali perekonomian Kalteng mengalami pertumbuhan positif sejak triwulan II 2020.

Dalam kondisi normal, pertumbuhan 5,56 persen tentu menggembirakan. Namun, dalam kondisi tidak normal seperti sekarang ini, angka pertumbuhan tersebut tidak boleh membuat kita terlena.

Salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi Kalteng yang tinggi dan berbalik arah (rebound) pada triwulan II 2021 adalah karena low base effect. Perekonomian Kalteng pada Triwulan II 2020 berada pada level terendah selama tahun 2020. Karena basis tahun sebelumnya rendah, peningkatan aktivitas yang sedikit saja akan memberi dampak yang besar.

Pola pertumbuhan ekonomi y-on-y Kalteng lebih fluktuatif dibanding rata-rata nasional. Setelah terkoreksi 3,17 persen pada triwulan II 2020, perekonomian Kalteng mengalami perbaikan pada dua triwulan berikutnya, yaitu -3,14 persen (triwulan III 2020) dan -2,10 persen (teriwulan IV 2020), kemudian turun lagi menjadi -3,12 persen pada triwulan I 2021.

Lapangan usaha penopang ekonomi Kalteng

Secara umum, tidak ada perubahan struktur pada perekonomian Kalteng di triwulan II 2021. Pertanian masih merupakan lapangan usaha dengan kontribusi terbesar yaitu mencapai 22,29 persen, diikuti industri pengolahan 17,48 persen, perdagangan 12,50 persen, konstruksi 8,36 persen, dan pertambangan penggalian 8,15 persen. Kontribusi kelima lapangan usaha tersebut terhadap total PDRB Kalteng mencapai sekitar 70 persen setiap tahun, sehingga goncangan pada salah satu lapangan usaha tersebut berpotensi menggerus perekonomian Kalteng secara keseluruhan.

Baca Juga :  Mencermati Investasi Aset Kripto

Dilihat lebih rinci, hampir semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif, kecuali pertambangan dan penggalian. Lapangan usaha penopang utama ekonomi Kalteng masing-masing tumbuh 1,77 persen (pertanian), 7,66 persen (industri pengolahan), 3,05 persen (perdagangan), 11,25 persen (konstruksi), dan -5,49 persen (pertambangan dan penggalian). Sementara sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari administrasi pemerintahan (1,29 persen), industri pengolahan (1,20 persen), dan konstruksi (0,79 persen).

Tergantung aktivitas ekspor impor

Dari sisi pengeluaran, semua komponen mampu tumbuh positif. Pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan terbesar mencapai 16,74 persen dengan kontribusi sebesar 14,67 persen. Ekspor yang mempunyai kontribusi terbesar (47,96 persen) mengalami pertumbuhan sebesar 7,59 persen. Konsumsi rumah tangga dan PMTB (pembentukan modal tetap bruto) juga tumbuh meskipun tidak terlalu besar yaitu 3,47 persen dan 2,32 persen.

Apabila dicermati lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2021 didorong oleh pertumbuhan ekspor. Dibanding tahun sebelumnya, pertumbuhan nilai ekspor Kalteng pada triwulan II 2021 sangat tinggi mencapai 79,36 persen. Ini dorong membaiknya perekonomian negara-negara tujuan ekspor Kalteng seperti Tiongkok, Jepang, dan India.

Dari sisi lain, impor juga mempunyai porsi yang besar yang menunjukkan barang kebutuhan Kalteng dipasok dari provinsi lain atau luar negeri. Besarnya porsi ekspor dan impor ini menggambarkan perekonomian Kalteng Kalteng sangat tergantung dan ditentukan oleh kondisi perekonomian provinsi lain atau luar negeri.

Baca Juga :  Mempertanyakan Dana Aspirasi

Peran strategis pemerintah

Peranan pemerintah dalam perekonomian di Kalteng sangat strategis, selain sebagai regulator juga sebagai pelaku. Kontribusi konsumsi pemerintah dalam pembentukan PDRB Kalteng mencapai sekitar 14 persen setiap tahun, sedangkan rata-rata nasional hanya sekitar 9 persen. Melalui berbagai pengeluaran rutin, pembangunan, bantuan, subsidi, dan sebagainya, pemerintah dapat menggerakan perekonomian. Penyebab terkoreksinya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2021 selain menurunnya kinerja sektor pertambangan, juga karena pengeluaran pemerintah yang masih tersendat.

Ke depan pemerintah harus bersiap dengan pertumbuhan yang lebih rendah dibanding triwulan II 2021 karena dua kondisi. Pertama, perekonomian Kalteng pada triwulan III 2020 relatif lebih baik dibanding triwulan II 2020, sehingga perlu peningkatan lebih besar agar tumbuh di atas triwulan II 2020. Kedua, kebijakan PPKM Darurat (PPKM level 3-4) yang sudah berjalan hampir dua bulan di Kalteng. Kebijakan ini memang dapat menurunkan angka penularan Covid-19, tetapi pasti akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai penutup, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2021 memang menggembirakan, tetapi tidak boleh membuat kita terlena. Penanganan kesehatan harus tetap menjadi fokus pemerintah. Vaksinasi masal tetap dilakukan dan dipercepat untuk memberi rasa aman masyarakat. Jaminan pengamanan sosial bagi masyarakat yang rentan juga harus dilakukan. Segala bantuan harus benar-benar diterima oleh yang membutuhkan. (*)

(AKHMAD TANTOWI. Statistisi Ahli Madya – BPS Provinsi Kalimantan Tengah)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru