PROKALTENG.CO-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang tak hanya membahas kepemimpinan organisasi. Masa depan NU hingga 2050 juga mulai dirancang melalui Peta Jalan NU Digdaya 2050, yang memuat lima tahapan strategis, mulai dari transformasi organisasi hingga membangun ekosistem peradaban.
Nahdlatul Ulama (NU) menyusun langkah jangka panjang untuk menghadapi perubahan dalam 25 tahun mendatang. Hal ini dibahas dalam sidang Komisi Program Muktamar ke-35 NU di Gedung Institut Agama Islam Bani Fattah, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Dokumen strategis ini menjadi acuan untuk menentukan arah pengembangan organisasi sekaligus menjawab tantangan yang muncul saat NU memasuki abad kedua.
Ketua Komisi Program Muktamar ke-35 NU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa peta jalan tersebut bukan gagasan yang baru muncul dalam Muktamar ke-35. Rencana itu merupakan amanah yang telah dirumuskan dan disahkan pada Muktamar ke-34 NU di Lampung.
Menurut Alissa, penyusunan peta jalan dilakukan dengan melihat kondisi internal NU sekaligus perkembangan dunia yang terus berubah.
“Peta Jalan NU adalah mandat yang telah dipersiapkan dan disahkan di Muktamar ke-34 NU. Sehingga, itulah yang membuat kita pada hari ini pembahasan terkait peta jalan NU para komisi program ini,” ujar Alissa.
Ia mengatakan NU membutuhkan arah strategis yang dapat menjadi panduan bersama. Dengan demikian, organisasi memiliki target yang jelas dalam merespons perubahan sekaligus membangun kekuatan hingga 2050.
Dari kerangka tersebut, NU menempatkan NU Digdaya 2050 sebagai visi jangka panjang yang akan ditempuh melalui lima fase utama.
Lima Fase Menuju NU Digdaya 2050
- 2026-2030: Transformasi Jam’iyah
Periode awal difokuskan pada pembenahan internal. NU akan memperkuat organisasi, sistem kerja, dan budaya kelembagaan sebagai fondasi untuk membangun jam’iyah yang lebih adaptif terhadap perubahan.
- 2031-2035: Akselerasi Transformasi
Setelah fondasi terbentuk, tahap berikutnya diarahkan untuk mempercepat penerapan hasil transformasi. Penguatan kapasitas organisasi, inovasi, serta perluasan program menjadi bagian penting dalam fase ini.
- 2036-2040: Kemandirian Jam’iyah
Memasuki fase ketiga, NU menargetkan peningkatan kemandirian organisasi. Pengelolaan sumber daya, pelaksanaan program, hingga proses pengambilan keputusan diharapkan semakin kuat dan tidak bergantung pada pihak luar.
- 2041-2045: Kepemimpinan Etik
Fase keempat diarahkan untuk memperkuat posisi NU sebagai salah satu rujukan kepemimpinan yang berlandaskan nilai dan etika. Peran tersebut tidak hanya ditujukan di tingkat nasional, tetapi juga dalam ruang internasional.
- 2046-2050: Ekosistem Peradaban
Tahap terakhir menjadi target jangka panjang Peta Jalan NU. Organisasi diarahkan membangun ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan, dengan menghubungkan nilai, kelembagaan, serta praktik sosial untuk mendukung terbentuknya peradaban yang maju.
Peta Jalan NU Jadi Acuan PCNU
Alissa menilai keberadaan peta jalan tersebut juga penting bagi struktur NU di daerah. Salah satunya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang diharapkan dapat menggunakan kerangka tersebut sebagai panduan dalam menyusun program.
Dengan target yang telah dibagi berdasarkan tahapan waktu, program di tingkat daerah diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri atau terlepas dari arah besar organisasi.
“Harapan kita bila punya peta jalan dengan kejelasan, maka semua PCNU tidak perlu bingung mikir terus kita harus bikin program apa. Sehingga tinggal merujuk pada 5 langkah yang telah dirumuskan,” kata Alissa.
Pembahasan Peta Jalan NU Digdaya 2050 menjadi salah satu agenda strategis dalam Muktamar ke-35 NU.
Rencana tersebut tidak hanya berbicara mengenai program organisasi dalam waktu dekat, tetapi juga menyiapkan arah perjalanan NU hingga 2050.
Lima fase yang dirancang mulai dari transformasi, akselerasi, kemandirian, kepemimpinan etik, hingga ekosistem peradaban diharapkan menjadi kerangka bersama bagi NU dalam menghadapi perubahan zaman selama 25 tahun ke depan.(jpg)


