25.8 C
Jakarta
Saturday, January 24, 2026

Kasus Bupati Pati, Pengamat Nilai Komitmen Antikorupsi Dijalankan Tegas

PROKALTENG.CO – Pengamat Politik dari Politika Research & Consulting (PRC) Nurul Fata mengapresiasi kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam memberantas korupsi, khususnya di tingkat daerah.

Menurutnya, penindakan terhadap kepala daerah tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya komitmen untuk memperkuat pemberantasan korupsi dan tata kelola pemerintahan yang bersih.

Namun demikian, tantangan kebijakan utama pemerintah ke depan adalah membangun ekosistem pencegahan korupsi yang efektif di daerah.

“Tanpa perbaikan struktural, mulai dari sistem insentif kepala daerah yang adil dan berbasis kinerja, reformasi birokrasi daerah, mekanisme audit yang kuat dan independen, hingga transparansi serta akuntabilitas anggaran, kasus korupsi kepala daerah akan terus berulang,” ujarnya, Selasa (20/1).

Baca Juga :  KPK Singgung Tujuh Pemerintah Daerah di Kalteng Alami Penurunan Indeks SPI

Baginya, berulangnya kasus korupsi atau apapun praktek yang merugikan rakyat yang dilakukan kepala daerah menunjukkan lemahnya political will dalam menerapkan prinsip good governance.

Ia mencontohkan kasus Bupati Pati, Sudewo, yang juga merupakan kader Partai Gerindra dan ditangkap KPK.

“Ini menunjukkan bahwa komitmen pemberantasan korupsi dijalankan tanpa pandang bulu. Secara politik, hal ini menjadi sinyal kuat bahwa partai penguasa maupun Presiden tidak memberikan perlindungan terhadap kader yang terlibat praktik koruptif,” tegasanya.

Electronic money exchangers listing

“Jika komitmen ini tidak benar-benar dijalankan, sangat mungkin kekuasaan yang dimiliki Gerindra digunakan untuk melindungi kader sendiri, namun hal itu tidak terjadi,” sambungnya.

Dari perspektif politik, lanjut Fata langkah tegas ini berpotensi meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah pusat dalam agenda pemberantasan korupsi.

Baca Juga :  Petugas Bawa Koper ke Ruang Tipidkor Terkait OTT KPK di Kalsel

Sebaliknya, penangkapan kepala daerah secara beruntun dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap pemerintahan daerah, khususnya di daerah yang kepala daerahnya bersamalah.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memupuk apatisme politik, karena publik cenderung menyamaratakan bahwa seluruh pejabat publik tidak berbeda satu sama lain,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurutnya kasus ini harus menjadi pelajaran penting bagi kepala daerah lain, terutama kader Gerindra, bahwa tidak ada perlindungan politik bagi praktik-praktik yang merugikan rakyat.

“Penegakan hukum yang konsisten justru menjadi fondasi utama untuk memulihkan kepercayaan publik dan memperkuat demokrasi lokal,” pungkasnya. (hfz)

PROKALTENG.CO – Pengamat Politik dari Politika Research & Consulting (PRC) Nurul Fata mengapresiasi kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam memberantas korupsi, khususnya di tingkat daerah.

Menurutnya, penindakan terhadap kepala daerah tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya komitmen untuk memperkuat pemberantasan korupsi dan tata kelola pemerintahan yang bersih.

Namun demikian, tantangan kebijakan utama pemerintah ke depan adalah membangun ekosistem pencegahan korupsi yang efektif di daerah.

Electronic money exchangers listing

“Tanpa perbaikan struktural, mulai dari sistem insentif kepala daerah yang adil dan berbasis kinerja, reformasi birokrasi daerah, mekanisme audit yang kuat dan independen, hingga transparansi serta akuntabilitas anggaran, kasus korupsi kepala daerah akan terus berulang,” ujarnya, Selasa (20/1).

Baca Juga :  KPK Singgung Tujuh Pemerintah Daerah di Kalteng Alami Penurunan Indeks SPI

Baginya, berulangnya kasus korupsi atau apapun praktek yang merugikan rakyat yang dilakukan kepala daerah menunjukkan lemahnya political will dalam menerapkan prinsip good governance.

Ia mencontohkan kasus Bupati Pati, Sudewo, yang juga merupakan kader Partai Gerindra dan ditangkap KPK.

“Ini menunjukkan bahwa komitmen pemberantasan korupsi dijalankan tanpa pandang bulu. Secara politik, hal ini menjadi sinyal kuat bahwa partai penguasa maupun Presiden tidak memberikan perlindungan terhadap kader yang terlibat praktik koruptif,” tegasanya.

“Jika komitmen ini tidak benar-benar dijalankan, sangat mungkin kekuasaan yang dimiliki Gerindra digunakan untuk melindungi kader sendiri, namun hal itu tidak terjadi,” sambungnya.

Dari perspektif politik, lanjut Fata langkah tegas ini berpotensi meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah pusat dalam agenda pemberantasan korupsi.

Baca Juga :  Petugas Bawa Koper ke Ruang Tipidkor Terkait OTT KPK di Kalsel

Sebaliknya, penangkapan kepala daerah secara beruntun dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap pemerintahan daerah, khususnya di daerah yang kepala daerahnya bersamalah.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memupuk apatisme politik, karena publik cenderung menyamaratakan bahwa seluruh pejabat publik tidak berbeda satu sama lain,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurutnya kasus ini harus menjadi pelajaran penting bagi kepala daerah lain, terutama kader Gerindra, bahwa tidak ada perlindungan politik bagi praktik-praktik yang merugikan rakyat.

“Penegakan hukum yang konsisten justru menjadi fondasi utama untuk memulihkan kepercayaan publik dan memperkuat demokrasi lokal,” pungkasnya. (hfz)

Terpopuler

Artikel Terbaru