PROKALTENG.CO-Pencarian pendaki Gunung Slamet asal Magelang yang dilaporkan hilang sejak akhir Desember 2025 akhirnya berakhir.
Korban bernama Syafiq Ridhan Ali Razani (18) ditemukan meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026) setelah lebih dari dua pekan pencarian.
Syafiq ditemukan di lereng puncak selatan Gunung Slamet, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden.
Penemuan ini menunjukkan bahwa meskipun pendapatan meningkat, konsumsi tidak meningkat sebanding, yang menjadi dasar untuk memprediksi aktivitas ekonomi.
Syafiq Ridhan Ali Razani, siswa kelas XII SMAN 5 Kota Magelang, mendaki Gunung Slamet bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran, warga Secang, Kabupaten Magelang, pada Sabtu (27/12/2025).
Keduanya melakukan pendakian melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Kakak kandung Syafiq, Naufal Hisyam (24), mengatakan adiknya sempat berpamitan kepada keluarga dengan menyebut tujuan pendakian Gunung Sumbing.
Namun keluarga baru mengetahui Syafiq berada di Gunung Slamet setelah menerima foto dari basecamp.
“Awalnya bilangnya mau ke Gunung Sumbing. Tiba-tiba mengirim foto dari basecamp Slamet,” ujar Naufal.
Syafiq juga menyampaikan kepada keluarga bahwa pendakian dilakukan secara tektok dan akan turun pada Minggu sore.
Namun hingga Minggu malam, keluarga tidak menerima kabar apa pun.
Setelah dilakukan pengecekan, KTP dan sepeda motor Syafiq diketahui masih berada di basecamp Dipajaya, namun posisi korban masih belum diketahui.
Ia kemudian dievakuasi oleh tim SAR gabungan dan tiba di basecamp sekitar pukul 20.00–21.00 WIB untuk mendapatkan perawatan medis.
Setelah mendapatkan perawatan, kondisi Himawan membaik.
Namun keterangan yang disampaikannya masih belum konsisten dan diduga dipengaruhi kelelahan atau trauma.
Berdasarkan dugaan sementara, Syafiq dan Himawan terpisah di sekitar Pos 5 ketika Himawan mengalami kram kaki.
Sesuai keterangan yang diungkap, dalam kondisi tersebut, Syafiq berinisiatif turun untuk mencari bantuan untuk Himawan.
Naufal juga menyampaikan adanya informasi dari pendaki lain yang sempat bertemu Syafiq di sekitar Pos 3.
Dua pendaki perempuan mengaku sempat mengikuti Syafiq turun melalui jalur kanan karena dianggap lebih aman saat hujan.
Namun di tengah perjalanan, jejak Syafiq tiba-tiba menghilang.
Sementara, jalur yang dilalui diketahui bukan jalur resmi dan ternyata merupakan jalur yang salah.
Setelah laporan kehilangan diterima, operasi pencarian dilakukan oleh tim SAR gabungan.
Pada Rabu (7/1/2026), operasi SAR resmi ditutup setelah dua pekan pencarian tidak membuahkan hasil.
“Operasi SAR satu pendaki yang tersesat di Gunung Slamet lewat Dipajaya telah resmi ditutup dan dialihkan ke pemantauan.”
Dua hari setelahnya, pencarian terhadap Syafiq Ali dilanjutkan oleh relawan secara mandiri sejak Jumat (9/1/2026) melalui jalur Bambangan Purbalingga dan Baturraden Banyumas. Upaya relawan akhirnya membuahkan hasil.
Syafiq Ridhan Ali Razani ditemukan meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026) di lereng selatan Gunung Slamet, dekat area Gunung Malang dan Baturraden.
Syafiq Ridhan Ali Razani (18), pendaki yang hilang di Gunung Slamet, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Korban ditemukan setelah 17 hari pencarian.
“Kami sampaikan bahwa survivor atas nama Ali Syafiq telah diketemukan dalam kondisi MD (meninggal dunia),” kata Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno dalam rekaman video yang diterima Rabu (14/1/2026).
Syafiq ditemukan di jalur punggungan Gunung Malang dekat area Batu Watu Langgar pada pukul 10.22 WIB.
Ia ditemukan dalam pencarian tahap II.
“Survivor ditemukan sekitar pukul 10.22 WIB di jalur punggungan Gunung Malang, tepatnya di sekitar area Batu Watu Langgar. Penemuan ini merupakan hasil pencarian hari ke-17, dengan tim SAR tahap dua yang baru melakukan pencarian selama dua hari,” ujarnya.
Menurutnya, tim SAR tahap dua sudah dua hari melakukan pencarian dan akhirnya mendapatkan survivor di jalur punggungan Gunung Malang dekat area Batu Watu Langgar.
“Alhamdulillah berkat kerja sama semua pihak yang ikut bergabung dalam sar gabungan yang ada, baik dari tim Wanadri, Mayapada, UPL, MPA Unsoed, Wikupala, ABGI, Mapala Batik, Mapala Kanpas, Komunitas RAPI, alhamdulillah didampingi oleh semua pihak yang alhamdulillah hari ini hadir dari Forkopimda maupun Forkopimcam Kecamatan Pulosari,” jelasnya.
Dengan ditemukannya Syafiq Ali, usaha pencarian oleh relawan dinyatakan berhasil dan dilanjutkan dengan upaya evakuasi jenazah untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
Titik terang soal hilangnya pendaki muda asal Magelang, Syafiq Ridhan Ali Razan (18), akhirnya terungkap.
Korban ditemukan meninggal di kawasan Gunung Slamet melalui jalur Gunung Malang.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban kemungkinan sudah meninggal sekitar 15 hari sebelum ditemukan, tanpa tanda kekerasan atau penganiayaan.
Jenazah Syafiq dievakuasi oleh tim SAR gabungan melalui jalur Gunung Malang dan tiba di rumah sakit pada pukul 15.50 WIB, Kamis (15/1/2026).
Wakapolres Purbalingga, Kompol Agus Amjat Purnomo, menyampaikan rasa duka atas meninggalnya korban.
Ia memastikan pihak kepolisian akan mengawal proses pemulangan jenazah hingga ke rumah duka di Magelang.
“Kami mengucapkan belasungkawa yang tulus atas meninggalnya almarhum. Kami juga siap mengawal jenazah sampai ke rumah duka dan menyerahkannya langsung kepada keluarga,” ujar Kompol Kamis (15/1/2026).
Dia menjelaskan, dari pihak rumah sakit telah dilakukan visum luar terhadap jenazah.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada tanda penganiayaan atau kekerasan.
“Dari hasil visum luar, tidak ditemukan tanda penganiayaan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan keluarga, dan keluarga telah membuat pernyataan untuk tidak dilakukan otopsi atau pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Dengan kesepakatan tersebut, Polres Purbalingga telah secara resmi menyerahkan jenazah almarhum kepada keluarga untuk dimakamkan.
Sementara itu, dr. Gunawan, salah satu dokter forensik RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, yang melakukan visum terhadap Syafiq, memaparkan hasil pemeriksaan secara rinci.
“Hari ini kami melakukan visum luar. Dari identifikasi awal, korban berjenis kelamin laki-laki,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari kepala hingga ujung kaki, kondisi jenazah sudah mengalami proses pembusukan lanjut.
“Dari pemeriksaan kepala tidak ditemukan jejak atau tanda kekerasan. Begitu juga di leher, dada, maupun perut, tidak ditemukan tanda penganiayaan atau kekerasan,” ujarnya.
Namun, saat melakukan pemeriksaan pada anggota gerak, tim medis menemukan luka pada bagian paha kiri.
Di bagian bawah kaki kiri ditemukan luka dengan ukuran sekitar 6 cm x 5 cm.
Di area luka tersebut terdapat tanda-tanda patah tulang pada paha kiri.
Secara visual terlihat adanya perubahan bentuk atau deformitas jika dibandingkan dengan kaki kanan, serta saat diraba terasa ada tanda patah tulang.
Mengenai perkiraan waktu kematian, dr Gunawan menyebutkan bahwa korban diperkirakan sudah meninggal dunia sekitar 15 hari sebelum pemeriksaan dilakukan.
“Perkirakan waktu kematian sekitar 15 hari, didasarkan pada kondisi jenazah dan keberadaan belatung,” katanya.
Meskipun ditemukan patah tulang, dr. Gunawan menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat memastikan penyebab kematian, apakah
karena jatuh atau sebab lainnya, karena pemeriksaan yang dilakukan hanya berupa pemeriksaan luar saja.
“Untuk penyebab pasti kami tidak bisa menyimpulkan, karena ini hanya pemeriksaan luar. Namun dari hasil visum luar ini memang tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan,” tegasnya.
Dengan hasil tersebut, proses penanganan jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan telah memasuki tahap akhir.
Jenazah kini telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Fakta terbaru mengenai proses evakuasi dan hasil pemeriksaan medis mulai terungkap. Berikut detailnya:
Evakuasi diubah ke jalur Purbalingga
Pada awalnya, rencana evakuasi jenazah Syafiq adalah melalui jalur Basecamp Dipajaya, Pemalang, sesuai jalur pendakian awal korban.
Namun karena medan yang sulit, tim SAR memutuskan mengalihkan jalur evakuasi ke Gunung Malang, Purbalingga.
Menurut Unit Siaga SAR (USS) Basarnas Pemalang, Handika, keputusan itu diambil karena jalur Gunung Malang lebih aman dan lebih dekat dari posisi regu penyelamat.
“Awalnya survivor akan dibawa turun melalui jalur Dipajaya, tapi setelah koordinasi, tim di atas memutuskan mengalihkan evakuasi ke jalur Gunung Malang,” kata Handika.
Proses evakuasi dilakukan dengan tantangan besar karena medan yang licin dan curam.
Meski begitu, tim berhasil membawa jenazah Syafiq sampai ke Gunung Malang pada pukul 14.25 WIB.
Jenazah dibawa ke RS Purbalingga untuk pemeriksaan
Setelah sampai di bawah, jenazah Syafiq langsung diserahkan kepada tim Polres Purbalingga untuk identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut Kapolsek Pulosari, Iptu Bambang, jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Gutomo Purbalingga untuk dilakukan autopsi luar.
“Dari pos Gunung Malang, jenazah diidentifikasi terlebih dahulu. Lalu dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan medis sesuai prosedur hukum,” ujar Bambang.
Kedatangan jenazah disambut dengan rasa sedih oleh warga Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, yang turut mendukung pencarian sejak awal.
Ayah Syafiq Ali Tegar dan menerima kepergian putranya
Ayah mendiang, Dhani Rusman, menerima kepulangan jenazah putranya dengan penuh keikhlasan.
Dalam pernyataannya, ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pencarian, mulai dari tim SAR, aparat, hingga masyarakat.
“Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semua ini tentu atas izin-Nya dan bantuan semua pihak, dari tim SAR hingga masyarakat luas,” ujar Dhani.
Dhani juga menyampaikan terima kasih kepada Himawan, rekan mendaki Syafiq yang selamat.
Dalam video yang viral di media sosial, Dhani memeluk Himawan sambil berkata, “Ke depannya karena Mas Himawan adalah sahabat Ali, maka kami pun akan menganggap Mas Himawan sebagai anak kami. Jangan sungkan ya, jangan malu, nanti tetap main ke rumah dan nanti anggap rumah sendiri,” ujar Dhani.
Korban meninggal sekitar 15 hari sebelum ditemukan.
Pemeriksaan medis dilakukan di RSUD Goeteng Taroenadibrata, Purbalingga oleh dokter Gunawan.
Hasil pemeriksaan luar menunjukkan bahwa tubuh korban sudah dihinggapi belatung, tetapi tidak terdapat tanda-tanda kekerasan.
“Dari kepala hingga anggota gerak, tidak ditemukan luka atau tanda-tanda kecelakaan,” jelas dokter Gunawan.
Berdasarkan perkembangan belatung dan kondisi jenazah, diperkirakan korban meninggal sekitar dua minggu sebelum ditemukan.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa Syafiq meninggal akibat hipotermia setelah terpisah dari temannya saat mendaki.
Selain itu, pakaian korban ditemukan tidak lengkap, yang merupakan ciri khas penderita hipotermia berat.
Penderita hipotermia biasanya mengalami paradoxical undressing, yaitu dorongan untuk melepas pakaian meski sebenarnya sedang merasa dingin dan kehilangan kesadaran.
Setelah pemeriksaan medis, jenazah Syafiq dibawa pulang ke rumah duka di Magelang dan tiba pada malam hari kamis.
Peti jenazah tiba di Masjid Baiturrosyidin Perum Depkes Kota Magelang sekitar pukul 20.26 WIB dan langsung disalatkan oleh keluarga, kerabat, serta masyarakat setempat. (fal/jpg)


