PROKALTENG.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
menyampaikan peringatan dini cuaca kepada 26 gubernur di Indonesia. Melalui surat
nomor ME.02.04/012/KB/IV/2021, BMKG menyampaikan update informasi peringatan
dini cuaca dampak typhoon surigae dan informasi cuaca ekstrem lainya periode
18-26 April 2021.
Dalam surat yang ditandatangani
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati itu dijelaskan, saat ini sebagian besar
wilayah Indonesia tengah mengalami periode peralihan dari musim hujan ke musim
kemarau (Pancaroba). Pada periode pancaroba ini, cuaca umumnya berubah lebih
dinamis dengan pengaruh faktor dinamika atmosfer lokal dan regional yang cukup signifikan
dapat menyebabkan potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi
singkat yang disertai kilat/petir/angin kencang, potensi puting beliung, bahkan
hujan es.
Dinamika atmosfer yang signifikan
seperti aktifitas badai tropis, pusaran tekanan rendah, belokan angin, atau
gelombang atmosfer ekuatorial tropis saat masih berkontribusi signifikan pada
pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemantauan dan
analisis dalam beberapa hari terakhir, serta prediksi kondisi atmosfer untuk
sepekan ke depan, BMKG menyampaikan
bahwa siklon tropis Surigae yang terbentuk sejak tanggal 14 April 2021
dan merupakan perkembangan dari bibit siklon 94W yang sebelumnya telah
terdeteksi di sekitar perairan Pasifik Barat sebelah utara Papua sejak tanggal
12 April 2021 saat ini masih berada di posisi sekitar 12.1 LU, 129.3 BT
(sekitar 1.060 km sebelah timur laut Tahuna, angin maksimum hingga 205 km/jam,
dan tekanan udara di pusatnya 905 hPa) dengan pergerakan ke arah perairan timur
Filipina.
Saat ini sistem tersebut telah
mengalami peningkatan intensitas dan menjadi Typhoon SURIGAE, hingga tanggal 21
April 2021, Typhoon SURIGAE diprediksikan masih menunjukkan eksistensinya,
walaupun pergerakan sistemnya semakin menjauhi wilayah Indonesia.
Typhoon Surigae secara tidak
langsung membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) dan daerah perlambatan
kecepatan angin (konvergensi) di beberapa wilayah di utara Indonesia bagian
tengah dan timur. Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan
awan hujan dan kecepatan angin (>25 knots atau >46 km/jam) di daerah
tersebut serta gelombang tinggi (>2,5 meter) di sekitar perairan utara
Indonesia bagian tengah dan timur.
Daerah pertemuan dan perlambatan
kecepatan angin (konvergensi) lainnya terpantau memanjang di Sumatera Barat,
dari Jawa bagian barat hingga Sumatera Selatan, dari Sulawesi Selatan hingga
Sulawesi Tengah, dari Papua hingga Papua Barat. Kondisi ini mampu meningkatkan
potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.
“Typhoon Surigae memberikan dampak
tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut di beberapa wilayah
Indonesia dalam 24 jam ke depan berupa Potensi hujan intensitas Sedang-Lebat disertai
kilat/petir serta angin kencang di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Maluku,†kata Dwikorita
Karnawati.
Sedangkan tinggi gelombang 1,25
hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Sulawesi, Perairan utara, Sulawesi,
Perairan selatan Kep. Sangihe, Perairan Kep. Sitaro, Perairan Bitung – Likupang,
Perairan selatan Sulawesi Utara, Laut Maluku, Perairan Kep. Halmahera, Laut Halmahera,
Perairan utara Papua Barat, Perairan Biak hingga Jayapura, Samudra Pasifik utara
Papua; Tinggi Gelombang 2.5-4.0 meter berpeluang terjadi di Perairan utara Kep.
Sangihe, Perairan Kep.Talaud, Samudra Pasifik utara Papua Barat; Tinggi
Gelombang 4.0-6.0 meter berpeluang terjadi di Samudra Pasifik utara Halmahera.
Sementara potensi Cuaca Ekstrem
lainnya seperti angin kencang, puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir,
hujan es, dan lain-lain dalam sepekan ke depan (18-26 April 2021), lanjut dia,
yang dapat berdampak pada terjadinya
potensi banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon
tumbang, dan jalan licin di wilayah Indonesia adalah sebagai berikut:
a) Tanggal 18-20 April 2021 :
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan,
Kep. Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan
Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara,
Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi
Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan
Papua.
b) Tanggal 21-23 April 2021 :
Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Kalimantan Utara,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
c) Tanggal 24-26 April 2021 :
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara,
Sulwesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
Terkait dengan potensi cuaca
ekstrem tersebut di atas, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan
bila sedang melakukan pelayaran di wilayah perairan perairan Papua bagian
utara, Maluku Utara dan Sulawesi utara.
Menghindari daerah rentan
mengalami bencana seperti lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon yang mudah
tumbang, tepi pantai, dan lainnya.
Mewaspadai potensi dampak seperti
banjir/bandang/banjir pesisir, tanah longsor dan banjir bandang terutama di
daerah yang rentan.
Surat tentang peringatan dini
cuaca itu dikirimkan kepada 26 gubernur di Indonesia, yakni Gubernur Aceh, Gubernur
Riau,Gubernur Sumatera Utara, Gubernur Sumatera Barat, Gubernur Jambi, Gubernur
Sumatera Selatan, Gubernur Bengkulu, Gubernur Lampung, Gubernur Banten,
Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Barat, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Jawa
Timur, Gubernur Kalimantan Utara, Gubernur Kalimantan Barat, Gubernur
Kalimantan Selatan, Gubernur Kalimantan Timur, Gubernur Sulawesi Utara, Gubernur
Sulawesi Tengah, Gubernur Sulawesi Barat, Gubernur Sulawesi Tenggara, Gubernur
Gorontalo, Gubernur Maluku Utara, Gubernur Maluku, Gubernur Papua Barat,
Gubernur Papua.