PROKALTENG.CO-Puasa kerap dipersepsikan sebagai ujian fisik yang menguras tenaga. Karena itu, banyak orang mencari “jalan pintas” agar tetap bertenaga sepanjang hari.
Salah satu kebiasaan paling populer adalah minum kopi saat sahur. Logikanya sederhana: kafein = energi. Namun, benarkah strategi ini efektif secara medis?
Dokter dan edukator kesehatan Dr Tirta Mandira Hudhi justru memberikan pandangan yang berbeda—bahkan bertolak belakang dengan keyakinan umum masyarakat.
Kafein Bukan Penyimpan Energi
Dalam penjelasannya, Dr Tirta menegaskan bahwa kafein bukan sumber energi, melainkan stimulan sistem saraf pusat. Efeknya hanya “meminjam kewaspadaan”, bukan menambah cadangan tenaga tubuh.
Kafein bekerja dengan meningkatkan denyut jantung dan aktivitas otak. Dampaknya memang membuat mata lebih segar, tetapi tidak memberi suplai energi berkelanjutan. Lebih dari itu, efek kafein di tubuh rata-rata hanya bertahan 3–4 jam.
Artinya, kopi yang diminum saat sahur akan habis efeknya jauh sebelum siang hari saat rasa lemas dan haus justru mulai muncul.
Efek Diuretik: Masalah Tersembunyi Sahur dengan Kopi
Masalah utama sahur dengan kopi bukan pada energinya, melainkan pada efek diuretik. Kafein merangsang produksi urine. Akibatnya, tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Dalam kondisi puasa—tanpa asupan minum selama belasan jam—hal ini justru berbahaya. Risiko yang muncul antara lain:
- Lebih cepat haus
- Mulut kering
- Konsentrasi menurun
- Lemas di siang hari
Dr Tirta menyebut, sahur dengan kopi kontraproduktif jika tujuan utamanya menjaga stamina.
Risiko Lambung: GERD dan Gastritis Mengintai
Bagi mereka yang memiliki riwayat asam lambung, gastritis, atau GERD, kopi saat sahur bisa menjadi pemicu kekambuhan.
Kafein bersifat asam dan merangsang produksi asam lambung. Ketika diminum dalam kondisi perut kosong, risikonya meningkat tajam:
- Nyeri ulu hati
- Mual
- Sensasi panas di dada
- Mual
- Sensasi panas di dada
- Perut tidak nyaman sepanjang hari
Karena itu, Dr Tirta menyarankan kopi tidak diminum saat sahur, apalagi tanpa makanan pendamping.
Lalu Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi Saat Puasa?
Menurut Dr Tirta, waktu paling aman dan rasional untuk ngopi selama Ramadan adalah:
Setelah berbuka, ketika lambung sudah terisi
Setelah salat Isya atau Tarawih, terutama bagi yang perlu begadang
Pada waktu tersebut, risiko dehidrasi lebih kecil, dan kopi bisa berfungsi sebagai penunjang aktivitas malam tanpa mengganggu puasa keesokan harinya.
Energi Puasa Ditentukan Pola Tidur, Bukan Kopi
Salah satu pesan paling kuat dari Dr Tirta adalah ini: lemas saat puasa lebih sering disebabkan kurang tidur, bukan kurang kopi.
Begadang berlebihan, terutama karena aktivitas non-esensial, membuat tubuh kelelahan secara biologis. Tidak ada kopi yang bisa menggantikan kualitas tidur.
Puasa yang dijalani dengan:
- Tidur cukup
- Sahur seimbang
Tidak makan berlebihan saat berbuka justru membantu tubuh beradaptasi menggunakan lemak sebagai sumber energi.
Puasa dan Manfaat Kardiovaskular
Jika dilakukan dengan benar, puasa memiliki dampak medis positif. Saat tubuh tidak mendapat asupan gula secara terus-menerus, cadangan lemak akan digunakan. Ini berdampak pada:
- Penurunan kolesterol total
- Stabilitas metabolisme
- Penurunan risiko penyakit jantung
Namun, manfaat ini bisa hilang jika pola berbuka dan sahur justru berlebihan dan tidak terkontrol.
Sahur Banyak Tidak Menjamin Tahan Lapar
Dr Tirta juga mengkritik mitos lama: makan sahur dalam porsi besar agar tidak lapar. Lambung memiliki kapasitas terbatas. Memaksakan makan berlebihan justru memicu:
- Mual
- Perut begah
- Refluks asam
Tubuh manusia secara fisiologis mampu bertahan tanpa makan selama beberapa hari, asalkan cairan terpenuhi. Sahur secukupnya jauh lebih efektif daripada “balas dendam” makan.
Alternatif Sahur yang Lebih Cerdas
Daripada kopi, Dr Tirta menyarankan sahur dengan:
- Air putih cukup
- Kurma
- Alpukat
- Protein secukupnya
- Makanan kaya magnesium
Magnesium berperan penting dalam fungsi otot, saraf, dan kualitas tidur. Asupan ini membantu tubuh tetap stabil selama puasa.
Ngopi saat sahur mungkin terasa membantu di awal, tetapi secara medis tidak efektif menjaga energi sepanjang hari. Bahkan, pada sebagian orang, justru memperparah haus, lelah, dan gangguan lambung.
Puasa bukan soal menipu tubuh dengan stimulan, melainkan mengatur ritme hidup: tidur, makan, dan minum secara seimbang. (jpg)


