PROKALTENG.CO– Tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan kembali mengguncang Nigeria Barat. Kelompok militan bersenjata, Lakurawa, melancarkan serangan brutal ke dua desa terpencil, Woro dan Nuku, di Negara Bagian Kwara pada Selasa 3 Februari 2026 malam hari. Aksi keji ini menelan sedikitnya 162 korban jiwa, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Anggota parlemen setempat, Mohammed Omar Bio, mengonfirmasi bahwa para pelaku berafiliasi dengan kelompok teroris IS (Islamic State). Rekaman visual dari lokasi kejadian yang disiarkan televisi lokal memperlihatkan pemandangan mencekam; tumpukan jenazah bersimbah darah tergeletak di tanah, beberapa di antaranya ditemukan dalam kondisi tangan terikat.
Bahkan, organisasi hak asasi manusia Amnesty International menyebut angka kematian bisa jauh lebih tinggi, yakni melebihi 170 orang. Selain membantai warga secara membabi buta, para pelaku juga membakar rumah-rumah penduduk dan menjarah toko-toko sebelum melarikan diri ke arah perbatasan Benin.
“Kegagalan keamanan yang membiarkan serangan ini terjadi sungguh tidak bisa diterima,” tulis pernyataan resmi Amnesty International. Mereka mengungkapkan bahwa warga desa sebenarnya sudah menerima surat “peringatan” dari para pelaku sejak lima bulan lalu, namun antisipasi keamanan dinilai sangat lemah.
Gubernur Negara Bagian Kwara, AbdulRahman AbdulRazaq, mengutuk keras serangan tersebut. Ia menyebut aksi ini sebagai bentuk keputusasaan para sel teroris karena tertekan oleh operasi militer yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. Namun, lokasi desa yang berada sekitar delapan jam perjalanan dari ibu kota negara bagian membuat bantuan logistik dan medis dari Palang Merah sempat terhambat.
Situasi di Nigeria semakin kompleks karena selain menghadapi pemberontakan IS dan Boko Haram di wilayah timur laut, negara ini juga berjuang melawan maraknya aksi penculikan demi tebusan di wilayah barat laut.
Tekanan internasional kini mengarah ke Nigeria, terutama setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras terkait perlindungan warga sipil. Saat ini, militer Amerika Serikat dikabarkan telah mengirim tim kecil perwira militer untuk membantu penanganan krisis keamanan yang terus memburuk di negara berpenduduk terbanyak di Afrika tersebut. (fin)

