PROKALTENG.CO-Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadikan Venezuela sebagai salah satu target utama kebijakan luar negerinya dengan menuding Presiden Nicolas Maduro sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masuknya ratusan ribu migran Venezuela ke Amerika Serikat.
Trump menyebut arus migrasi tersebut sebagai dampak langsung dari krisis ekonomi dan represi politik di Venezuela. Sejak 2013, hampir delapan juta warga Venezuela diperkirakan telah meninggalkan negaranya. Tanpa menyertakan bukti, Trump juga menuduh Maduro telah “mengosongkan penjara dan rumah sakit jiwa” serta memaksa para penghuninya bermigrasi ke Amerika Serikat.
Selain isu migrasi, Trump menyoroti masuknya narkoba, khususnya fentanyl dan kokain, ke wilayah AS. Ia menetapkan dua kelompok kriminal Venezuela, yakni Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai Organisasi Teroris Asing. Trump bahkan menuding Cartel de los Soles dipimpin langsung oleh Maduro.
Namun, sejumlah analis menilai Cartel de los Soles bukanlah organisasi terstruktur, melainkan istilah yang merujuk pada oknum pejabat korup yang membiarkan jalur transit kokain melalui Venezuela. Meski demikian, Trump tetap menggandakan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro dan menyatakan niatnya menetapkan pemerintahan Venezuela sebagai organisasi teroris.
Maduro dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Ia menilai Amerika Serikat menggunakan dalih “perang melawan narkoba” untuk menggulingkan pemerintahannya dan menguasai cadangan minyak Venezuela yang besar.
Tekanan terhadap Venezuela meningkat sejak Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari lalu. Selain menggandakan hadiah buronan bagi Maduro, AS mulai menargetkan kapal-kapal yang dituding membawa narkoba dari Amerika Selatan. Sejak September, lebih dari 30 serangan dilaporkan terjadi di wilayah Karibia dan Pasifik, menewaskan lebih dari 110 orang.
Pemerintah AS menyatakan tindakan tersebut merupakan bagian dari konflik bersenjata non-internasional melawan jaringan narkoba. Namun, banyak pakar hukum internasional menilai serangan itu tidak menyasar target militer yang sah. Bahkan, mantan jaksa kepala Mahkamah Pidana Internasional menyebut operasi militer AS sebagai serangan sistematis terhadap warga sipil di masa damai.
Trump juga mengaku telah mengizinkan CIA melakukan operasi rahasia di Venezuela serta mengancam serangan darat terhadap apa yang ia sebut sebagai “narco-teroris”. Ia menyatakan salah satu serangan telah dilakukan pada 24 Desember di area dermaga yang dituding sebagai lokasi pemuatan narkoba.
Tekanan ekonomi turut diperketat dengan deklarasi blokade laut total terhadap kapal tanker minyak Venezuela. Minyak merupakan sumber utama pendapatan negara bagi pemerintahan Maduro. Selain itu, AS mengerahkan kekuatan militer besar di Karibia dengan alasan menghentikan aliran fentanyl dan kokain ke wilayahnya.
Meski demikian, para ahli narkotika menyebut Venezuela hanya berperan kecil dalam perdagangan narkoba global dan lebih berfungsi sebagai negara transit. Laporan Badan Pemberantasan Narkoba AS tahun 2020 menyebut hampir 75 persen kokain yang masuk ke AS melalui jalur Pasifik, sementara fentanyl sebagian besar diproduksi di Meksiko dan diselundupkan lewat perbatasan darat selatan AS. Venezuela tidak tercatat sebagai negara asal fentanyl dalam laporan ancaman narkoba nasional AS 2025.
Nicolas Maduro sendiri naik ke tampuk kekuasaan sebagai penerus Presiden Hugo Chávez pada 2013. Selama lebih dari dua dekade, Partai Sosialis Bersatu Venezuela menguasai berbagai lembaga negara. Pada pemilu 2024, Maduro kembali dinyatakan menang meski oposisi mengklaim kandidat mereka, Edmundo González, meraih kemenangan telak.
Pemimpin oposisi utama, María Corina Machado, yang dilarang mencalonkan diri, meraih Hadiah Nobel Perdamaian pada Oktober lalu atas perjuangannya mendorong transisi demokrasi. Machado berencana kembali ke Venezuela meski berisiko ditangkap otoritas setempat yang telah menetapkannya sebagai buronan. (jpg)


