alexametrics
23.5 C
Palangkaraya
Sunday, August 14, 2022

Ruang Isolasi Penuh, RSUP M Djamil Tolak Pasien Rujukan Covid-19

Masyarakat
Sumbar begitu reaktif terhadap pandemi Covid-19. Dampaknya, setiap ada pasien
yang mengeluhkan sakit seperti indikasi korona, mereka langsung memeriksakan
diri ke rumah sakit (RS). Pihak RS pun begitu cepat merujuk ke pasien
tersebut ke RS rujukan.

Sayangnya RS rujukan untuk korona hanya dua di Sumbar. Yakni
RSUP M Djamil Padang dan RS Achmad Mochtar Bukittinggi. Sementara pasien
rujukan dari dari berbagai kabupaten/kota.

Atas kondisi seperti itu, Direktur RSUP M Djamil Padang Dovy
Djanas mendorong RS satelit dan RS sekitar M. Djamil dan RS Achmad Mochtar
difungsikan untuk menerima pasien rujukan korona. Pasalnya, ruang isolasi di
RSUP M Djamil Padang RS Achmad Mochtar sudah penuh.

“RSAM Bukittinggi sudah aktif, sekarang ada empat orang pasien.
RSUD Pariaman sudah aktif merawat satu pasien,” ujar Dovy seperti dilansir Padek.co
(Jawa Pos Group)
, Sabtu (21/3).

Baca Juga :  Viral Bocah 8 Tahun Dibegal, 3 Pelaku Ternyata Berstatus Pelajar

Adapun RS satelit dan di sekitar rujukan di Sumbar adalah RS
Unand, RSUD Rasyidin, RS Bhayangkara, dan Rumah Sakit Tentara dr. Reksodiwiryo
Padang. Sayannya RS tersebut belum dilengkapi dengan ruang isolasi dan
memiliki alat pelindung diri (APD).

Untuk di RSUP M Djamil, kata Dovy, stok masker dan APD sangat
menipis. “Kami sangat membutuhkan masker APD,” ungkapnya.

Dalam menangani pasien covid-19, RS harus dilengkapi juga dengan
thermal scan. RSUP M Djamil sangat memerlukan alat itu minimal 10 unit. “Kami
pesan, tapi masih lama datangnya. Belum pasti kapan mau datangnya,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Feri Mulyani mengungkapkan,
kondisi saat ini hampir semua rumah sakit di Kota Padang mengeluh tidak adanya
APD. Sementara RS rujukan satu-satunya di Padang adalah RSUP M Djamil dan ruang
isolasinya penuh.

Baca Juga :  KPK Kembali Lakukan OTT Kepala Daerah

“Ke mana pasien yang suspect Covid-19 harus dirawat? Dalam dua
hari ini terjadi tolak-tolakan pasien (karena tak ada ruang isolasi dan APD,
red) hingga akhirnya pasien tetap dirawat di M Djamil, setelah melalui jalur
yang panjang. Mohon saran dan pendapat bagaimana jika semua RS tidak ada APD di
mana pasien harus di rawat?” ungkap Feri.(jpc)

 

Masyarakat
Sumbar begitu reaktif terhadap pandemi Covid-19. Dampaknya, setiap ada pasien
yang mengeluhkan sakit seperti indikasi korona, mereka langsung memeriksakan
diri ke rumah sakit (RS). Pihak RS pun begitu cepat merujuk ke pasien
tersebut ke RS rujukan.

Sayangnya RS rujukan untuk korona hanya dua di Sumbar. Yakni
RSUP M Djamil Padang dan RS Achmad Mochtar Bukittinggi. Sementara pasien
rujukan dari dari berbagai kabupaten/kota.

Atas kondisi seperti itu, Direktur RSUP M Djamil Padang Dovy
Djanas mendorong RS satelit dan RS sekitar M. Djamil dan RS Achmad Mochtar
difungsikan untuk menerima pasien rujukan korona. Pasalnya, ruang isolasi di
RSUP M Djamil Padang RS Achmad Mochtar sudah penuh.

“RSAM Bukittinggi sudah aktif, sekarang ada empat orang pasien.
RSUD Pariaman sudah aktif merawat satu pasien,” ujar Dovy seperti dilansir Padek.co
(Jawa Pos Group)
, Sabtu (21/3).

Baca Juga :  KPAI: Agar Pelajar Tak Turun ke Jalan, Demo Saja di Depan Sekolah

Adapun RS satelit dan di sekitar rujukan di Sumbar adalah RS
Unand, RSUD Rasyidin, RS Bhayangkara, dan Rumah Sakit Tentara dr. Reksodiwiryo
Padang. Sayannya RS tersebut belum dilengkapi dengan ruang isolasi dan
memiliki alat pelindung diri (APD).

Untuk di RSUP M Djamil, kata Dovy, stok masker dan APD sangat
menipis. “Kami sangat membutuhkan masker APD,” ungkapnya.

Dalam menangani pasien covid-19, RS harus dilengkapi juga dengan
thermal scan. RSUP M Djamil sangat memerlukan alat itu minimal 10 unit. “Kami
pesan, tapi masih lama datangnya. Belum pasti kapan mau datangnya,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Feri Mulyani mengungkapkan,
kondisi saat ini hampir semua rumah sakit di Kota Padang mengeluh tidak adanya
APD. Sementara RS rujukan satu-satunya di Padang adalah RSUP M Djamil dan ruang
isolasinya penuh.

Baca Juga :  Tak Ada Cuti Bersama Lebaran, Hanya Libur 2 Hari Saat Hari Raya

“Ke mana pasien yang suspect Covid-19 harus dirawat? Dalam dua
hari ini terjadi tolak-tolakan pasien (karena tak ada ruang isolasi dan APD,
red) hingga akhirnya pasien tetap dirawat di M Djamil, setelah melalui jalur
yang panjang. Mohon saran dan pendapat bagaimana jika semua RS tidak ada APD di
mana pasien harus di rawat?” ungkap Feri.(jpc)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/