26.2 C
Jakarta
Thursday, May 8, 2025

Cruise Stress

Berubah drastis. Dari
riang-gembira ke duka. Dari bahagia ke gundah-gulana. Berhari-hari pula.
Terutama setiap kali penumpang kapal pesiar ini mendengar suara sirine
ambulans.

Itulah pertanda ada penumpang
kapal yang harus dilarikan ke rumah sakit. Akibat terkena virus corona. Yang
ternyata sudah memasuki kapal pesiar juga.

Maka sejak 4 Februari lalu kapal
Diamond Princess ini harus dikarantina. Dia tidak boleh meninggalkan Daikoku
Pier, pelabuhan khusus kapal pesiar di Yokohama, Jepang. Sang Princess harus
tetap di situ setidaknya sampai tanggal 19 Februari yang akan datang.

Di dalam kapal itu terdapat 3.600
orang. Termasuk 1.045 awak kapal โ€“78 di antaranya asal Indonesia.

Di antara penumpangnyi ada yang
lagi bulan madu. Ada pula yang karena mendapat potongan harga. Lalu ada seorang
novelis Amerika โ€“yang salah satu judul novelnya โ€˜pembunuhan misterius di kapal
pesiarโ€™.

Kapal milik perusahaan Inggris
itu baru saja muter dari Jepang ke arah selatan, lalu balik lagi ke Jepang.
Rutenya: Yokohama-Hongkong-Vietnam-Taiwan-Okinawa-Yokohama.

Total perjalanan: 14 hari.

Tinggi kapal ini 62,4 meter, 17
tingkat โ€“jauh lebih tinggi dari monumen Tugu Pahlawan Surabaya.

Di setiap kota itu Sang Princess
berhenti. Penumpang boleh turun untuk jalan-jalan ke darat. Kadang 6 jam di
sebuah kota. Kadang satu malam penuh. Atau satu hari penuh. Tergantung kota
yang disinggahi.

Waktu di Okinawa bulan lalu saya
melihat ada kapal seperti itu singgah di situ. Penumpangnya turun. Ada yang
jalan-jalan di kota untuk balik lagi bermalam di kapal. Tapi ada pula yang
tidur di hotel โ€“satu hotel dengan saya. Jam 6 pagi mereka balik ke kapal untuk
berangkat lagi.

Kapal Diamond Cruise itu mulai
meninggalkan Yokohama tanggal 20 Januari. Lima hari kemudian singgah di
Hongkong. Para penumpang turun. Termasuk seorang kakek berumur 80 tahun.
Bersama keluarganya.

Mereka itu memang hanya ikut
Diamond Cruise satu etape Yokohama-Hongkong. Tiba di Hongkong tepat pada malam
tahun baru Imlek.

Baca Juga :  Komitmen Wujudkan Predikat Wilayah Bebas Korupsi

Beberapa hari kemudian orang tua
itu sakit panas. Sesak nafas. Langsung dibawa ke rumah sakit. Ia memang orang
Hongkong.

Setelah bertahan baru di Hongkong
Diamond Princess meneruskan perjalanan ke Vietnam, Taiwan dan Okinawa. Tidak
ada yang mengkhawatirkan apa-apa.

Tapi begitu kapal dalam pelayaran
etape terakhir dari Okinawa kembali ke Yokohama petir itu menyambar: orang tua
dulu itu terkena virus corona.

Dari penelusuran di Hongkong
diketahui penumpang tersebut ternyata pernah ke Wuhan. Sebelum Yokohama.

Maka begitu tiba di dekat
pelabuhan Yokohama, Diamond Princess tidak boleh merapat. Harus tetap di tengah
laut. Selama satu malam penuh.

Pelabuhan Yokohama harus
disiapkan dulu. Untuk bisa menerima kapal yang kemungkinan besar membawa virus
corona warisan sang kakek.

Keesokan harinya barulah kapal
boleh mendekat ke pelabuhan. Tapi tetap tidak boleh standar. Penumpang tidak
boleh turun. Lewat intercom diumumkanlah bahwa kapal akan tetap di pelabuhan
itu. Selama 14 hari. Sampai 19 Februari yang akan datang.

Banyak penumpang yang stress.
Banyak juga yang pasrah. โ€œStress hanya akan menurunkan kondisi
badan,โ€ ujar seorang penumpang seperti dikutip media di Jepang.

Dokter Jepang pun masuk ke kapal.
Pemeriksaan dilakukan. Terutama terhadap orang tertentu. Diprioritaskan
memeriksa 10 orang. Yakni yang pernah berhubungan dengan penumpang 80 tahun
yang turun di Hongkong itu.

Besoknya hasilnya diketahui: 10
orang itu terkena corona.

Ditelusuri lagi siapa yang pernah
berhubungan dengan 10 orang itu.

Besoknya lagi, tanggal 7
Februari, diketahui 61 penumpang sudah terkena virus pula.

Tanggal 8 tambah lagi tiga orang.

Tanggal 9 ditemukan lagi 9 orang.

Tanggal 10 ditemukan lebih banyak
lagi: 66 orang โ€“termasuk 11 penumpang asal Amerika.

Setiap hari ada pemberitahuan
baru lewat intercom. Tentang adanya penderita baru virus corona pada hari itu.

Baca Juga :  Beri Jaminan Aspek Kesehatan

Tanpa pengumuman pun penumpang
tahu. Dari dalam kamar mereka bisa mengintip lewat jendela: ada berapa ambulan
yang datang ke dermaga itu.

Setiap ada suara sirine berarti
ada penderita baru yang diturunkan dari kapal.

Mereka pun menebak-nembak:
bagaimana proses penularannya.

Pun ada yang menduga virusnya
menyebar lewat angin di lubang AC. Atau lewat intercom.

Para penumpang dari Amerika โ€“416
orangโ€“ mengira pemerintahnya akan mengirim misi khusus. Untuk membawa mereka
langsung pulang ke Amerika.

Salah satu penumpang dari Amerika
itu gadis berumur 25 tahun. Namanyi: Sawyer. Dia satu kamar dengan saudaranyi
dan kakek-neneknyi.

Dia rajin olahraga. Setiap hari
ke gym di kapal itu. Sawyer juga ikut lomba kaki indah. Yang pesertanya adalah
hanya wanita yang menjadi penumpang kapal.

Sawyer terpilih sebagai pemilik
kaki paling sexy nomor dua di kapal itu.

Dan dia โ€“maksud saya tidak hanya
kakinyaโ€“ dalam keadaan sehat โ€“meski masih harus dibuktikan 12 hari lagi.

Pemerintah Amerika tentu tidak
mengirim Rambo untuk menyelamatkan mereka. Yang datang dari Amerika adalah
penjelasan ilmiah: virus itu tidak bisa menular lewat intercom atau angin AC.

Hanya saja seakan dan semewah
kapal pesiar, penumpang bosan juga hanya di kamar.

Pada hari ketiga, mereka boleh
keluar kamar. Misalnya untuk ke balkon. Tapi mereka diminta tetap waspada. Juga
harus menjaga jarak dari penumpang lain: enam kaki.

Anehnya keluarga kakek 80 tahun
yang menyertainya itu tidak tertular sama sekali. Hasil pemeriksaan terhadap
mereka negatif.

Ini menunjukkan bahwa kondisi
badan seseorang sangat menentukan untuk tertular atau tidak.

Orang yang stres termasuk mudah
ditulari. Kali ini bukan soal penularan virus. Tapi penularan stress di
kalangan ibu-ibu โ€“terutama akibat kenaikan harga bawang putih dan cabe.(Dahlan
Iskan)

 

 

Berubah drastis. Dari
riang-gembira ke duka. Dari bahagia ke gundah-gulana. Berhari-hari pula.
Terutama setiap kali penumpang kapal pesiar ini mendengar suara sirine
ambulans.

Itulah pertanda ada penumpang
kapal yang harus dilarikan ke rumah sakit. Akibat terkena virus corona. Yang
ternyata sudah memasuki kapal pesiar juga.

Maka sejak 4 Februari lalu kapal
Diamond Princess ini harus dikarantina. Dia tidak boleh meninggalkan Daikoku
Pier, pelabuhan khusus kapal pesiar di Yokohama, Jepang. Sang Princess harus
tetap di situ setidaknya sampai tanggal 19 Februari yang akan datang.

Di dalam kapal itu terdapat 3.600
orang. Termasuk 1.045 awak kapal โ€“78 di antaranya asal Indonesia.

Di antara penumpangnyi ada yang
lagi bulan madu. Ada pula yang karena mendapat potongan harga. Lalu ada seorang
novelis Amerika โ€“yang salah satu judul novelnya โ€˜pembunuhan misterius di kapal
pesiarโ€™.

Kapal milik perusahaan Inggris
itu baru saja muter dari Jepang ke arah selatan, lalu balik lagi ke Jepang.
Rutenya: Yokohama-Hongkong-Vietnam-Taiwan-Okinawa-Yokohama.

Total perjalanan: 14 hari.

Tinggi kapal ini 62,4 meter, 17
tingkat โ€“jauh lebih tinggi dari monumen Tugu Pahlawan Surabaya.

Di setiap kota itu Sang Princess
berhenti. Penumpang boleh turun untuk jalan-jalan ke darat. Kadang 6 jam di
sebuah kota. Kadang satu malam penuh. Atau satu hari penuh. Tergantung kota
yang disinggahi.

Waktu di Okinawa bulan lalu saya
melihat ada kapal seperti itu singgah di situ. Penumpangnya turun. Ada yang
jalan-jalan di kota untuk balik lagi bermalam di kapal. Tapi ada pula yang
tidur di hotel โ€“satu hotel dengan saya. Jam 6 pagi mereka balik ke kapal untuk
berangkat lagi.

Kapal Diamond Cruise itu mulai
meninggalkan Yokohama tanggal 20 Januari. Lima hari kemudian singgah di
Hongkong. Para penumpang turun. Termasuk seorang kakek berumur 80 tahun.
Bersama keluarganya.

Mereka itu memang hanya ikut
Diamond Cruise satu etape Yokohama-Hongkong. Tiba di Hongkong tepat pada malam
tahun baru Imlek.

Baca Juga :  Komitmen Wujudkan Predikat Wilayah Bebas Korupsi

Beberapa hari kemudian orang tua
itu sakit panas. Sesak nafas. Langsung dibawa ke rumah sakit. Ia memang orang
Hongkong.

Setelah bertahan baru di Hongkong
Diamond Princess meneruskan perjalanan ke Vietnam, Taiwan dan Okinawa. Tidak
ada yang mengkhawatirkan apa-apa.

Tapi begitu kapal dalam pelayaran
etape terakhir dari Okinawa kembali ke Yokohama petir itu menyambar: orang tua
dulu itu terkena virus corona.

Dari penelusuran di Hongkong
diketahui penumpang tersebut ternyata pernah ke Wuhan. Sebelum Yokohama.

Maka begitu tiba di dekat
pelabuhan Yokohama, Diamond Princess tidak boleh merapat. Harus tetap di tengah
laut. Selama satu malam penuh.

Pelabuhan Yokohama harus
disiapkan dulu. Untuk bisa menerima kapal yang kemungkinan besar membawa virus
corona warisan sang kakek.

Keesokan harinya barulah kapal
boleh mendekat ke pelabuhan. Tapi tetap tidak boleh standar. Penumpang tidak
boleh turun. Lewat intercom diumumkanlah bahwa kapal akan tetap di pelabuhan
itu. Selama 14 hari. Sampai 19 Februari yang akan datang.

Banyak penumpang yang stress.
Banyak juga yang pasrah. โ€œStress hanya akan menurunkan kondisi
badan,โ€ ujar seorang penumpang seperti dikutip media di Jepang.

Dokter Jepang pun masuk ke kapal.
Pemeriksaan dilakukan. Terutama terhadap orang tertentu. Diprioritaskan
memeriksa 10 orang. Yakni yang pernah berhubungan dengan penumpang 80 tahun
yang turun di Hongkong itu.

Besoknya hasilnya diketahui: 10
orang itu terkena corona.

Ditelusuri lagi siapa yang pernah
berhubungan dengan 10 orang itu.

Besoknya lagi, tanggal 7
Februari, diketahui 61 penumpang sudah terkena virus pula.

Tanggal 8 tambah lagi tiga orang.

Tanggal 9 ditemukan lagi 9 orang.

Tanggal 10 ditemukan lebih banyak
lagi: 66 orang โ€“termasuk 11 penumpang asal Amerika.

Setiap hari ada pemberitahuan
baru lewat intercom. Tentang adanya penderita baru virus corona pada hari itu.

Baca Juga :  Beri Jaminan Aspek Kesehatan

Tanpa pengumuman pun penumpang
tahu. Dari dalam kamar mereka bisa mengintip lewat jendela: ada berapa ambulan
yang datang ke dermaga itu.

Setiap ada suara sirine berarti
ada penderita baru yang diturunkan dari kapal.

Mereka pun menebak-nembak:
bagaimana proses penularannya.

Pun ada yang menduga virusnya
menyebar lewat angin di lubang AC. Atau lewat intercom.

Para penumpang dari Amerika โ€“416
orangโ€“ mengira pemerintahnya akan mengirim misi khusus. Untuk membawa mereka
langsung pulang ke Amerika.

Salah satu penumpang dari Amerika
itu gadis berumur 25 tahun. Namanyi: Sawyer. Dia satu kamar dengan saudaranyi
dan kakek-neneknyi.

Dia rajin olahraga. Setiap hari
ke gym di kapal itu. Sawyer juga ikut lomba kaki indah. Yang pesertanya adalah
hanya wanita yang menjadi penumpang kapal.

Sawyer terpilih sebagai pemilik
kaki paling sexy nomor dua di kapal itu.

Dan dia โ€“maksud saya tidak hanya
kakinyaโ€“ dalam keadaan sehat โ€“meski masih harus dibuktikan 12 hari lagi.

Pemerintah Amerika tentu tidak
mengirim Rambo untuk menyelamatkan mereka. Yang datang dari Amerika adalah
penjelasan ilmiah: virus itu tidak bisa menular lewat intercom atau angin AC.

Hanya saja seakan dan semewah
kapal pesiar, penumpang bosan juga hanya di kamar.

Pada hari ketiga, mereka boleh
keluar kamar. Misalnya untuk ke balkon. Tapi mereka diminta tetap waspada. Juga
harus menjaga jarak dari penumpang lain: enam kaki.

Anehnya keluarga kakek 80 tahun
yang menyertainya itu tidak tertular sama sekali. Hasil pemeriksaan terhadap
mereka negatif.

Ini menunjukkan bahwa kondisi
badan seseorang sangat menentukan untuk tertular atau tidak.

Orang yang stres termasuk mudah
ditulari. Kali ini bukan soal penularan virus. Tapi penularan stress di
kalangan ibu-ibu โ€“terutama akibat kenaikan harga bawang putih dan cabe.(Dahlan
Iskan)

 

 

Terpopuler

Artikel Terbaru