alexametrics
23.8 C
Palangkaraya
Wednesday, August 17, 2022

Cegah Anak Menjadi Pelaku Perundungan, Berkomunikasilah dengan Intens

Perundungan
harus menjadi perhatian penting. Efeknya makin besar. Baik terhadap korban
maupun pelaku. Bagaimana sebaiknya mencegah anak menjadi perundung?

—

PERUNDUNGAN atau
bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang.
Biasanya, pelaku memiliki tingkat empati yang rendah. Selain itu, tidak ada
rasa menyesal setelah pelaku melakukan perundungan.

Konselor
Clara Yanthy Pangaribuan menjelaskan, bibit merundung bisa tumbuh pada anak
usia dini. Mengejek teman, misalnya. Mereka meniru apa yang dilakukan orang
dewasa di depannya. Mereka menganggap bahwa mengejek boleh dilakukan. Misalnya,
ketika berkumpul dengan para orang tua dan anak-anak mereka. Lalu, ada salah
seorang orang tua yang menyebut fisik anak lain berbeda.

’’Eh
kamu, si pendek! Kemudian, semuanya tertawa. Nah, anak yang melihat hal seperti
ini akan berpikir bahwa berkata seperti itu lumrah. Mereka menganggap hal itu
bisa membuat orang lain senang,’’ jelas Clara saat ditemui di id.edu Talk,
Workroom Coffee, Cikini, Jumat (28/2).

Pelaku
perundungan, lanjut dia, bisa dideteksi dari jenis kelamin. Pelaku laki-laki
melakukannya karena iseng dan mencari perhatian. Berbeda dengan perempuan yang
biasa beralasan dendam, sakit hati, dan ketidaksukaan atau cemburu.

Untuk
mencegahnya, orang tua harus menjalin komunikasi intens setiap hari dengan
anak-anak. Terutama ibu. Meski sibuk, ibu harus sempat menanyakan keseharian
anak di sekolah. ’’Bagaimana harinya, perasaannya, dan teman-temannya. Itulah
tiga pertanyaan yang harus rutin ditanyakan,’’ tutur Clara. Dengan begitu, anak
merasa nyaman dan mau terbuka.

Saat
weekend, ayah bisa ikut berperan mendekatkan diri pada anak. Misalnya, saat
menjelang tidur, makan, nonton TV, atau olahraga bareng. ’’Komunikasi intens
antarsuami dan istri juga diperlukan untuk membangun karakter baik pada anak,’’
tegasnya.

Baca Juga :  Intip Kacamata Baca Priyanka Chopra Saat Santai Bersama Keponakan

Sementara
itu, pihak sekolah juga perlu memiliki catatan khusus tentang anak didiknya.
Baik itu prestasi maupun kesalahan anak. Dengan begitu, pihak sekolah bisa
mengidentifikasinya.

Kepala
SDN Kota Bambu 03 Elly Suryana mengakui, perundungan dilakukan siswanya. Namun,
pihaknya tidak serta-merta mengeluarkan si pelaku. Pihaknya mencari tahu alasan
si pelaku melakukan perundungan. Termasuk latar belakang keluarganya. Sebab, dia
menyadari biasanya pelaku perundungan adalah anak-anak yang kurang mendapat
perhatian orang tua. ’’Ada yang orang tuanya pisah karena ekonomi, macem-macem.
Intinya bermasalah,’’ terangnya.

Dia
menyimpulkan, itulah salah satu faktor yang membuat si pelaku sering mem-bully
temannya di kelas. Mulai faktor ekonomi, keluarga, hingga lingkungan.
Akibatnya, anak tersebut merasa gelisah ketika sampai di sekolah. Pelaku tidak
senang melihat temannya belajar atau bermain, bahkan ingin menguasai kelas atau
barang milik temannya. Karena itu, menurut Elly, anak-anak seperti itu harus
lebih diperhatikan.

Ketika
terjadi kasus bullying, perhatian harus berfokus kepada korban dan pelaku.
Semua perlu dilihat dari dua sisi agar penanganannya tepat. Bisa jadi, pelaku
perundungan adalah korban perundungan di tempat lain. Menurut Koordinator
Peneliti Pendidikan id.Edu Adjat Wiratma, pelaku tetap harus mendapat
pengawasan dan pendekatan dari sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

PERAN
ORANG TUA

Jadilah
orang tua yang mau mendengarkan keluhan anak.

Jalin
komunikasi efektif dengan sekolah.

Selalu
berbuat baik kepada orang yang ditemui ketika bersama anak.

Akui
kelemahan anak dan kembangkan rasa percaya diri bahwa setiap orang memiliki
kemampuan di bidangnya.

Baca Juga :  ASN MTsN 2 Diingatkan Bekerja Sesuai Tupoksi

CIRI-CIRI
PELAKU PERUNDUNGAN

·        
Anak broken home. Keluarganya membenahi diri.

·        
Mencontoh ledek-ledekan yang ditonton di TV atau yang dilakukan
orang dewasa.

·        
Anak yang tidak mau kalah saing.

·        
Anak yang cemburu karena merasa gagal dalam hal akademik.

·        
Anak yang terlalu manja di rumah.

·        
Anak yang ingin mendapat pengakuan.

HUKUMAN
YANG DISARANKAN

·        
Mengajak pelaku ke rumah korban untuk membantu pekerjaan rumah
orang tua korban. Misalnya, membantu mencuci piring setelah makan atau
membersihkan toilet.

·        
Bina di panti sosial dengan tenaga pendidik yang kompeten.

PERAN
SEKOLAH

·        
Guru peka terhadap kekurangan atau perubahan siswa.

·        
Yakinkan anak didik, setiap orang memiliki kelebihan.

·        
Tanamkan bahwa perbedaan itu biasa.

·        
Menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk berani berbicara dan
mengambil sikap ketika melihat perundungan.

·        
Bentuk nilai-nilai persahabatan.

·        
Membangun komunikasi efektif antara siswa, guru, dan orang tua.

·        
Memberdayakan siswa untuk prososial, aktif, dan berprestasi.

·        
Penguatan pendidikan agama.

BENTUK-BENTUK
PERUNDUNGAN

FISIK: Memukul,
menendang, mengeroyok, merusak barang, memalak, dan merampas.

SOSIAL: Mengucilkan,
tidak mau mengajak teman lain untuk belajar atau bermain bersama.

CYBERBULLYING Segala
sesuatu yang terjadi di media sosial. Baik update status maupun komentar.

VERBAL: Menertawakan,
memanggil dengan julukan yang buruk, berteriak, menyebarkan berita bohong,
mengancam, menggoda, hingga marah.(jpc)

 

Perundungan
harus menjadi perhatian penting. Efeknya makin besar. Baik terhadap korban
maupun pelaku. Bagaimana sebaiknya mencegah anak menjadi perundung?

—

PERUNDUNGAN atau
bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang.
Biasanya, pelaku memiliki tingkat empati yang rendah. Selain itu, tidak ada
rasa menyesal setelah pelaku melakukan perundungan.

Konselor
Clara Yanthy Pangaribuan menjelaskan, bibit merundung bisa tumbuh pada anak
usia dini. Mengejek teman, misalnya. Mereka meniru apa yang dilakukan orang
dewasa di depannya. Mereka menganggap bahwa mengejek boleh dilakukan. Misalnya,
ketika berkumpul dengan para orang tua dan anak-anak mereka. Lalu, ada salah
seorang orang tua yang menyebut fisik anak lain berbeda.

’’Eh
kamu, si pendek! Kemudian, semuanya tertawa. Nah, anak yang melihat hal seperti
ini akan berpikir bahwa berkata seperti itu lumrah. Mereka menganggap hal itu
bisa membuat orang lain senang,’’ jelas Clara saat ditemui di id.edu Talk,
Workroom Coffee, Cikini, Jumat (28/2).

Pelaku
perundungan, lanjut dia, bisa dideteksi dari jenis kelamin. Pelaku laki-laki
melakukannya karena iseng dan mencari perhatian. Berbeda dengan perempuan yang
biasa beralasan dendam, sakit hati, dan ketidaksukaan atau cemburu.

Untuk
mencegahnya, orang tua harus menjalin komunikasi intens setiap hari dengan
anak-anak. Terutama ibu. Meski sibuk, ibu harus sempat menanyakan keseharian
anak di sekolah. ’’Bagaimana harinya, perasaannya, dan teman-temannya. Itulah
tiga pertanyaan yang harus rutin ditanyakan,’’ tutur Clara. Dengan begitu, anak
merasa nyaman dan mau terbuka.

Saat
weekend, ayah bisa ikut berperan mendekatkan diri pada anak. Misalnya, saat
menjelang tidur, makan, nonton TV, atau olahraga bareng. ’’Komunikasi intens
antarsuami dan istri juga diperlukan untuk membangun karakter baik pada anak,’’
tegasnya.

Baca Juga :  Kehadiran Mobil Listrik Harus Diimbangi Infrastruktur Memadai

Sementara
itu, pihak sekolah juga perlu memiliki catatan khusus tentang anak didiknya.
Baik itu prestasi maupun kesalahan anak. Dengan begitu, pihak sekolah bisa
mengidentifikasinya.

Kepala
SDN Kota Bambu 03 Elly Suryana mengakui, perundungan dilakukan siswanya. Namun,
pihaknya tidak serta-merta mengeluarkan si pelaku. Pihaknya mencari tahu alasan
si pelaku melakukan perundungan. Termasuk latar belakang keluarganya. Sebab, dia
menyadari biasanya pelaku perundungan adalah anak-anak yang kurang mendapat
perhatian orang tua. ’’Ada yang orang tuanya pisah karena ekonomi, macem-macem.
Intinya bermasalah,’’ terangnya.

Dia
menyimpulkan, itulah salah satu faktor yang membuat si pelaku sering mem-bully
temannya di kelas. Mulai faktor ekonomi, keluarga, hingga lingkungan.
Akibatnya, anak tersebut merasa gelisah ketika sampai di sekolah. Pelaku tidak
senang melihat temannya belajar atau bermain, bahkan ingin menguasai kelas atau
barang milik temannya. Karena itu, menurut Elly, anak-anak seperti itu harus
lebih diperhatikan.

Ketika
terjadi kasus bullying, perhatian harus berfokus kepada korban dan pelaku.
Semua perlu dilihat dari dua sisi agar penanganannya tepat. Bisa jadi, pelaku
perundungan adalah korban perundungan di tempat lain. Menurut Koordinator
Peneliti Pendidikan id.Edu Adjat Wiratma, pelaku tetap harus mendapat
pengawasan dan pendekatan dari sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

PERAN
ORANG TUA

Jadilah
orang tua yang mau mendengarkan keluhan anak.

Jalin
komunikasi efektif dengan sekolah.

Selalu
berbuat baik kepada orang yang ditemui ketika bersama anak.

Akui
kelemahan anak dan kembangkan rasa percaya diri bahwa setiap orang memiliki
kemampuan di bidangnya.

Baca Juga :  Upts! Mendadak Mengeras saat Lihat Istri Orang, Normalkah?

CIRI-CIRI
PELAKU PERUNDUNGAN

·        
Anak broken home. Keluarganya membenahi diri.

·        
Mencontoh ledek-ledekan yang ditonton di TV atau yang dilakukan
orang dewasa.

·        
Anak yang tidak mau kalah saing.

·        
Anak yang cemburu karena merasa gagal dalam hal akademik.

·        
Anak yang terlalu manja di rumah.

·        
Anak yang ingin mendapat pengakuan.

HUKUMAN
YANG DISARANKAN

·        
Mengajak pelaku ke rumah korban untuk membantu pekerjaan rumah
orang tua korban. Misalnya, membantu mencuci piring setelah makan atau
membersihkan toilet.

·        
Bina di panti sosial dengan tenaga pendidik yang kompeten.

PERAN
SEKOLAH

·        
Guru peka terhadap kekurangan atau perubahan siswa.

·        
Yakinkan anak didik, setiap orang memiliki kelebihan.

·        
Tanamkan bahwa perbedaan itu biasa.

·        
Menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk berani berbicara dan
mengambil sikap ketika melihat perundungan.

·        
Bentuk nilai-nilai persahabatan.

·        
Membangun komunikasi efektif antara siswa, guru, dan orang tua.

·        
Memberdayakan siswa untuk prososial, aktif, dan berprestasi.

·        
Penguatan pendidikan agama.

BENTUK-BENTUK
PERUNDUNGAN

FISIK: Memukul,
menendang, mengeroyok, merusak barang, memalak, dan merampas.

SOSIAL: Mengucilkan,
tidak mau mengajak teman lain untuk belajar atau bermain bersama.

CYBERBULLYING Segala
sesuatu yang terjadi di media sosial. Baik update status maupun komentar.

VERBAL: Menertawakan,
memanggil dengan julukan yang buruk, berteriak, menyebarkan berita bohong,
mengancam, menggoda, hingga marah.(jpc)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/