alexametrics
23.1 C
Palangkaraya
Wednesday, August 17, 2022

Ketahui Penyebab Speech Delay pada Anak

Speech
delay atau keterlambatan bicara adalah kondisi kemampuan bicara anak yang tidak
berkembang sesuai dengan usianya. Gangguan perkembangan ini cukup umum ditemui.
Diperkirakan, 1 dari 10 anak usia prasekolah akan mengalami keterlambatan
bicara. Karena mungkin saja ini terjadi pada si Kecil, orang tua perlu tahu apa
saja penyebab speech delay pada anak berikut tanda-tandanya.

Tanda-tanda anak mengalami speech delay
Orang tua harus waspada jika menemukan tanda-tanda keterlambatan bicara pada
anak seperti di bawah ini. Anak tidak mampu mengucapkan kata sederhana
(misalnya “mama” atau “papa”) saat berusia 12-15 bulan

Anak tidak bisa memahami kata sederhana (misalnya “jangan”)
saat berusia 18 bulan

Anak tidak bisa berbicara dalam kalimat pendek (3-4 kata)
saat berusia 3 tahun

Anak tidak mampu bercerita secara sederhana saat berusia
4-5 tahun

Kenali faktor penyebab speech delay

Selain
mengenali gejala speech delay, Anda sebaiknya juga mengetahui penyebab gangguan
perkembangan ini agar dapat melakukan pencegahan dan penanganan sedini mungkin.
Kemungkinan penyebabnya antara lain:

1. Ada gangguan pendengaran

Salah satu penyebab yang mudah ditemukan, tapi sering kali
terlupakan, adalah gangguan pendengaran. Misalnya, anak mengalami infeksi
kronis di telinganya. Jika anak tidak dapat mendengar dengan baik, maka akan
sulit baginya untuk mempelajari kata-kata yang diperlukan untuk berbicara.
Otomatis, ia mengalami keterlambatan bicara.

Baca Juga :  Tanggulangi Kenakalan Remaja

2. Ada gangguan perkembangan bicara dan bahasa 

Penyebab lainnya adalah gangguan perkembangan bicara dan
bahasa, yang juga termasuk penyebab umum speech delay pada anak. Pada kondisi
ini, otak anak bekerja dengan cara yang berbeda dari anak lainnya, sehingga
menimbukan permasalahan bicara. 

Pada
kondisi ini, speech delay sering kali merupakan gejala awal gangguan belajar.
Selain itu, gangguan perkembangan juga mungkin disebabkan oleh prematuritas
(kelahiran yang berlangsung pada usia kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari
pertama), yang juga sering menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak.

 3. Gangguan struktur di area mulut

Speech delay dapat disebabkan permasalahan pada struktur di
area mulut. Misalnya saja masalah pada lidah dan langit-langit mulut atau bisa
juga karena frenulum lidah yang pendek (yang mengganggu gerakan lidah sehingga
menyulitkan untuk menghasilkan kata-kata).

4. Masalah di sistem saraf

Berbagai masalah pada sistem saraf juga berpotensi
menyebabkan speech delay, karena dapat memengaruhi otot-otot yang diperlukan
untuk proses bicara. Misalnya saja cedera otak (traumatic brain injury),
cerebral palsy (lumpuh otak), dan distrofi otot (pengurusan otot akibat
kekurangan zat gizi).

Baca Juga :  MTsN 1 Kota Rayakan Milad ke-42

5. Autisme

Anak dengan autisme biasanya juga akan memiliki masalah
komunikasi, sehingga dapat menyebabkan timbulnya speech delay. Terkadang, anak
juga dapat memilih untuk tidak bicara pada situasi-situasi tertentu, umumnya di
sekolah. Kondisi ini dikenal juga dengan selective mutism.

6. Anak tidak diacuhkan

Tidak hanya masalah pada anak, faktor lingkungan juga
sangat berperan penting. Pada anak yang tidak diacuhkan atau tidak terurus
misalnya, mungkin ditemukan kondisi anak jarang mendengar orang dewasa di
sekitarnya berbicara. Akibatnya, ia tidak distimulasi untuk belajar bicara
sehingga terjadilah speech delay.

7. Lingkungan bilingual

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan bilingual atau
multilingual juga dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk menggunakan salah
satu, atau bahkan kedua bahasa tersebut. Hal ini disebabkan otak anak perlu
bekerja lebih keras untuk mengartikan dan menggunakan dua atau lebih bahasa
yang berbeda.

Ada banyak faktor yang dapat jadi penyebab speech delay
pada anak. Untuk mencegahnya, orang tua dapat menstimulasi kemampuan berbicara
anak dengan beberapa cara. Antara lain dengan rutin berbicara dengan anak (walaupun
masih bayi), sering-sering bercerita atau membacakan buku cerita, bernyanyi
untuk anak, ataupun merespons si Kecil saat ia berusaha untuk berkomunikasi.(HNS/RN/klikdokter)

 

Speech
delay atau keterlambatan bicara adalah kondisi kemampuan bicara anak yang tidak
berkembang sesuai dengan usianya. Gangguan perkembangan ini cukup umum ditemui.
Diperkirakan, 1 dari 10 anak usia prasekolah akan mengalami keterlambatan
bicara. Karena mungkin saja ini terjadi pada si Kecil, orang tua perlu tahu apa
saja penyebab speech delay pada anak berikut tanda-tandanya.

Tanda-tanda anak mengalami speech delay
Orang tua harus waspada jika menemukan tanda-tanda keterlambatan bicara pada
anak seperti di bawah ini. Anak tidak mampu mengucapkan kata sederhana
(misalnya “mama” atau “papa”) saat berusia 12-15 bulan

Anak tidak bisa memahami kata sederhana (misalnya “jangan”)
saat berusia 18 bulan

Anak tidak bisa berbicara dalam kalimat pendek (3-4 kata)
saat berusia 3 tahun

Anak tidak mampu bercerita secara sederhana saat berusia
4-5 tahun

Kenali faktor penyebab speech delay

Selain
mengenali gejala speech delay, Anda sebaiknya juga mengetahui penyebab gangguan
perkembangan ini agar dapat melakukan pencegahan dan penanganan sedini mungkin.
Kemungkinan penyebabnya antara lain:

1. Ada gangguan pendengaran

Salah satu penyebab yang mudah ditemukan, tapi sering kali
terlupakan, adalah gangguan pendengaran. Misalnya, anak mengalami infeksi
kronis di telinganya. Jika anak tidak dapat mendengar dengan baik, maka akan
sulit baginya untuk mempelajari kata-kata yang diperlukan untuk berbicara.
Otomatis, ia mengalami keterlambatan bicara.

Baca Juga :  Intip Kacamata Baca Priyanka Chopra Saat Santai Bersama Keponakan

2. Ada gangguan perkembangan bicara dan bahasa 

Penyebab lainnya adalah gangguan perkembangan bicara dan
bahasa, yang juga termasuk penyebab umum speech delay pada anak. Pada kondisi
ini, otak anak bekerja dengan cara yang berbeda dari anak lainnya, sehingga
menimbukan permasalahan bicara. 

Pada
kondisi ini, speech delay sering kali merupakan gejala awal gangguan belajar.
Selain itu, gangguan perkembangan juga mungkin disebabkan oleh prematuritas
(kelahiran yang berlangsung pada usia kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari
pertama), yang juga sering menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak.

 3. Gangguan struktur di area mulut

Speech delay dapat disebabkan permasalahan pada struktur di
area mulut. Misalnya saja masalah pada lidah dan langit-langit mulut atau bisa
juga karena frenulum lidah yang pendek (yang mengganggu gerakan lidah sehingga
menyulitkan untuk menghasilkan kata-kata).

4. Masalah di sistem saraf

Berbagai masalah pada sistem saraf juga berpotensi
menyebabkan speech delay, karena dapat memengaruhi otot-otot yang diperlukan
untuk proses bicara. Misalnya saja cedera otak (traumatic brain injury),
cerebral palsy (lumpuh otak), dan distrofi otot (pengurusan otot akibat
kekurangan zat gizi).

Baca Juga :  Mahalnya Biaya Tampil di Pekan Mode, Sekali Show Capai Rp 350 Juta

5. Autisme

Anak dengan autisme biasanya juga akan memiliki masalah
komunikasi, sehingga dapat menyebabkan timbulnya speech delay. Terkadang, anak
juga dapat memilih untuk tidak bicara pada situasi-situasi tertentu, umumnya di
sekolah. Kondisi ini dikenal juga dengan selective mutism.

6. Anak tidak diacuhkan

Tidak hanya masalah pada anak, faktor lingkungan juga
sangat berperan penting. Pada anak yang tidak diacuhkan atau tidak terurus
misalnya, mungkin ditemukan kondisi anak jarang mendengar orang dewasa di
sekitarnya berbicara. Akibatnya, ia tidak distimulasi untuk belajar bicara
sehingga terjadilah speech delay.

7. Lingkungan bilingual

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan bilingual atau
multilingual juga dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk menggunakan salah
satu, atau bahkan kedua bahasa tersebut. Hal ini disebabkan otak anak perlu
bekerja lebih keras untuk mengartikan dan menggunakan dua atau lebih bahasa
yang berbeda.

Ada banyak faktor yang dapat jadi penyebab speech delay
pada anak. Untuk mencegahnya, orang tua dapat menstimulasi kemampuan berbicara
anak dengan beberapa cara. Antara lain dengan rutin berbicara dengan anak (walaupun
masih bayi), sering-sering bercerita atau membacakan buku cerita, bernyanyi
untuk anak, ataupun merespons si Kecil saat ia berusaha untuk berkomunikasi.(HNS/RN/klikdokter)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/