MATA lelaki itu seperti ingin keluar, dia meneliti pakaian yang
digunakan perempuan di depannya. Perempuan yang setiap hari dilihat berpakaian
tertutup dan anggun itu, kini hanya memakai kemben dari kain jarit yang
terjulur mulai bawah ketiak hingga di atas lutut.
Dia ingin tidak mempercayai
penglihatannya, tapi nyatanya indranya seperti meyakinkan apa yang dilihatnya.
Perempuan anggun yang ia hormati, nyatanya ia temukan di sini. Di tenda di
samping rel kereta.
Kecewa, pasti. Tapi dia pun tahu
perempuan itu juga sangat kecewa padanya. Dia tahu, perempuan cantik di
depannya yang sama terkejutnya dengannya lebih kecewa terhadapnya. Dia ingin
marah pada perempuan yang sudah membohonginya ini, tapi apa haknya saat dia
juga sama saja bermain-main di tempat ini.
Perempuan yang sering dipanggil
Astri itu seperti menggigil menemukan lelaki jantung hatinya di tempat ini.
kakinya tiba-tiba melemas saat tatapan mata mereka bertemu di tenda dekil di
samping rel kereta.
Tangis Astri teredam oleh
bisingnya suara kereta yang lalu lalang di depan tenda. Tangannya mencekram
erat pakaian yang hanya menyisakan kain jarit. Di depannya, seorang pemuda
duduk dengan menekuk lutut sambil menenggelamkan wajah pada kedua tangannya.
“Kamu sering ke sini?†tanya
Astri di sela tangisnya. Namun lelaki di depannya tak kunjung menjawab. Seperti
tak ingin memperlihatkan wajahnya, lelaki itu semakin menunduk menyembunyikan
wajahnya.
“Jawab, sering kamu ke sini?â€
suara Astri menyaratkan keterlukaan yang sangat dalam. Lelaki di depannya hanya
sanggup mengangguk tanpa melepaskan tangan dari wajahnya.
“Kenapa?†air mata yang tadi
mulai berhenti, kini mengalir lagi hingga beranak pinak. Astri tergugu, hatinya
terluka dalam. Ini jauh lebih sakit dari saat dia harus menjual harga dirinya
di tempat ini, rasanya dunia Astri saat ini berhenti, apa yang
dibangga-banggakannya hancur di hadapannya. Apa yang menjadi harapannya, seakan
musnah tak tersisa.
Sedang lelaki di depannya
menangis tanpa suara, bahunya bergetar, tapi wajahnya tak juga terangkat dari
sana.
“Maaf,†suara lelaki itu
terdengar lirih karena teredam lipatan tangannya.
Penyesalan, kekecewaan, sakit,
dan terluka menumpuk semua di hati Astri. Lelaki belahan jiwanya tega
mengecewakannya sedalam ini. Lelaki yang selalu dia puja, nyatanya melukainya
sedalam ini.
Pelan Astri memakai kembali
kebayanya. Hasratnya untuk bekerja malam ini sudah hilang. Lelaki yang ada di
hadapannya ini menghilangkan semuanya. Menghilangkan kepercayaannya,
menghilangkan masa depannya, dan saat ini menghilangkan hasratnya untuk
bekerja.
Iya, Astri di sini bekerja.
Bekerja melayani pelanggannya yang mampir ke tenda-tenda di samping rel kerata.
Hanya satu yang tak pernah ada dalam bayangan Astri, lelaki yang ada di
depannya ini akan menjadi pelanggannya. Kecewa, sangat. Semua yang dia bangun
baik-baik harus hancur hari ini, di depan lelaki muda itu, lelakinya.
“Sejak kapan kerja di sini?â€
kepala lelaki itu terangkat sepenuhnya, tapi pandangannya tidak lagi ke Astri,
tapi ke ujung tenda dekat pintu masuk. Dia juga kecewa mengetahui orang dihormatinya
adalah perempuan malam yang menjajakan tubuhnya di tenda samping rel kereta.
***
Asap mengepul dari tenda warung
kopi di samping rel kereta, seorang wanita paro baya menghisap gulungan
tembakau penuh khidmat. Astri duduk di depannya membenarkan riasan di wajahnya.
Di sampingnya, Sri yang merapikan kebayanya sembari menikmati kopi hitam yang
tersaji hangat di dalam cangkir.
“Kemarin kamu kok gak datang,
Tri?†tanya Tumini sambil ngudut.
“Aku kemarin nyambangi Mas Eep di
penjara, Yu. Biasa, jadwal kunjungan,†jawab Astri sambil memakai pensil alis
pada alis sebelah kiri.
“Suamimu iku dipenjara perkara
apa tho, Tri?†tanya Sri penasaran.
“Mbajing,†jawab Astri enteng
sambil membenarkan alis sebelah kanannya.
“Dipenjara berapa tahun?†Sri
belum puas mengorek informasi dari Astri. Di antara mereka bertiga, Sri memang
yang baru gabung. Sedangkan Astri dan Tumini sudah lama bekerja di sana.
“Sepuluh tahun, Yu,†kini Astri
memakai gincu merah di bibirnya.
“Oalah, Lama ya, Tri,†Astri
hanya tersenyum menjawab pertanyaan Sri itu.
“Romi masih mondok, Tri?†kini
Tumini menanyakan anak lelaki semata wayang Astri.
“Masih, Yu. Aku takut seperti
bapake, jadi tak modokno,†Astri sibuk memasukkan peralatan riasnya ke dalam
tas kecil.
“Romi wis gede ya, Tri?†Tumini
menerawang membayangkan anak Astri yang sudah dewasa. Dia berteman dengan Astri
sejak perempuan itu tersesat di tenda ini lima tahun lalu.
“Wis 17 tahun, Yu,†Astri berdiri
merapikan kebaya yang digunakannya.
“Anakmu wis gede, Tri? Padahal
kamu masih muda,†Sri memperhatikan penampilan Astri yang lebih muda darinya.
“Lha aku kawin umur 16, Yu. Punya
anak Romi umur 18,†Astri mengecek hape jadulnya, lalu beranjak pergi
meninggalkan dua temannya. “Aku dulu ya, Yuk. Sudah ada tamu di tenda Cak
Dikin,†pamit Astri pada dua wanita yang kini sibuk merapikan diri.
***
Astri memasuki tenda yang sudah
disiapkan Cak Dikin. Tenda kecil berukuran 2 kali 2 meter dengan alas karton
bekas dan selimut kumal sudah tergelar di sana. Astri membuka kebayanya,
menyisakan kemben dari jarit.
Sambil menunggu tamu yang sudah
order ke Cak Dikin, Astri sesekali merapikan dandannya, menyemprot parfum
andalannya ke seluruh tubuh, dan merapikan kembennya. Sebelum tamunya datang,
Astri menyempatkan mengirim pesan untuk anaknya yang di pondok. Dia berharap
anaknya baik-baik saja di dalam pondok.
Tiga puluh menit telah berlalu,
tamu yang ditunggu Astri pun membuka pintu tenda. Seorang laki-laki tampan yang
masih muda mematung di sana. Pandangannya bertubrukan dengan Astri.
“Romi,†mata Astri membesar
seakan memastikan lelaki di depannya.
“E…mak,†Romi bergetar mengetahui
wanita yang di dalam tenda itu adalah ibunya.(*)
Jatiroto, 5 Maret 2021