30.3 C
Jakarta
Monday, April 22, 2024

Cinta Absurd di Sekitar Yamato dan Kematian Mallaby

Bukan kekalahan Jepang di Perang Dunia II yang membuat hati Qomar berbunga-bunga. Bukan pula karena Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bukan itu! Bunga-bunga tumbuh di kepala Qomar saat berkenalan dengan Hanum, beberapa hari sebelum peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato. Hanum sanggup meredam ketakutan Qomar kala menghadapi perang yang berkecamuk.

QOMAR tahu, di hati Hanum ada Nurdin yang sudah bersemayam sejak Belanda angkat kaki dari tanah air. Hanum dan Nurdin menjalin hubungan tanpa status. Qomar memang terlambat dan salah waktu: Pada pandangan pertama, Qomar langsung mencintai Hanum. Oleh sebab belum ada ikatan resmi antara Hanum dan Nurdin, Qomar pun pantang menyerah. Setiap manusia berhak memperjuangkan cintanya, begitu renung Qomar.

”Sembari berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta, aku akan terus berjuang mendapatkan cinta Hanum,” ceracau Qomar saat melihat kawannya merobek warna biru bendera di Hotel Yamato, 19 September 1945.

Situasi di depan Hotel Yamato terasa mencekam. Para pejuang menyemut menutupi permukaan jalan, diselimuti bau mesiu dan kecut keringat. Sedangkan di dalam hotel, entah apa yang terjadi? Para pejuang mencoba menduga-duga. Sementara di pucuk tiang bendera hotel, dwiwarna Merah Putih melambai-lambai disapu angin.

”Belanda memang kurang ajar. Tak tahu malu. Sudah terusir dari negeri ini, eh nekat datang lagi. Jancok!” umpat Qomar lantang. Otomatis, umpatan itu terdengar oleh orang-orang, termasuk juru foto yang baru saja berhasil mengabadikan insiden perobekan bendera.

”Semuanya, Cak! Belanda, Jepang, Inggris, Amerika, sekutu. Semuanya kurang ajar!” balas sang juru foto. ”Ngomong-ngomong, itu tadi, siapa nama si perobek bendera warna biru?”

”Aku tak tahu namanya, Cak! Kini di kepalaku hanya ada nama Hanum,” kata Qomar.

Mendengar jawaban Qomar, sang juru foto itu terbengong agak lama. Dahinya terlihat berkerut. Lalu terbit tawa kecil di wajahnya.

”Baiklah! Semoga Sampean berhasil mendapatkan Hanum!” kata sang juru foto, kemudian ngacir ke sebuah arah sambil menenteng kameranya.

Di hari yang sama, pada malam gulita, selepas memastikan keluarganya aman, Qomar pergi menemui Hanum, mengantarkannya ke suaka aman yang jauh dari suara desing pertempuran. Pergilah mereka menuju pinggiran sungai yang terletak di Asemrowo, tempat para pengungsi mencari selamat.

Di pinggiran sungai itulah, untuk kali pertama Qomar melakukan kontak fisik dengan Hanum. Qomar menggandeng tangan Hanum. Mesra dan hangat. Namun, lagi-lagi, Qomar paham, di kepala Hanum sedang berkelebat sosok Nurdin.

”Kau masih mengharapkannya?” tanya Qomar. Hanum hanya diam.

”Kawin saja denganku, Hanum!” suara Qomar terdengar lirih, tapi tertangkap jelas di telinga Hanum. ”Lelaki macam dia, yang suka nyemplung dalam ketidakpastian, tak akan berani mengawinimu. Kau cuma dijadikan sandaran sementara. Lagi pula, ibu dan bapakmu tak suka dengan lelaki macam dia.”

”Aku belum ada niat untuk kawin, Mas,” balas Hanum. ”Kita berkawan saja!”

Qomar melepas gandengan tangan ketika langkah kaki mereka mendekati barak pengungsian. Hanum terlihat membetulkan letak kerudung dengan kedua tangannya, sambil telinganya menyadap pembicaraan para pengungsi.

”Kau dengar, Mas?” tanya Hanum. Qomar menganggukkan kepala. ”Situasi bakal tambah kacau. Belanda dan sekutu marah besar.” Hanum menerawang sambil memandangi Qomar dari samping. ”Semoga ibu dan bapakku aman di pengungsian luar kota sana.”

 

Qomar hanya bisa mematung, tak sanggup mengeluarkan satu kata pun. Entah oleh apa, tiba-tiba di kepalanya melintas bayang-bayang Rahma, perempuan yang mencintainya tapi Qomar belum membalas cintanya. Dalam pikiran Qomar, sempat tebersit niat untuk menjalin hubungan dengan Rahma demi melakoni siasat melupakan Hanum.

”Kau sedang memikirkan apa, Mas?” tanya Hanum.

Baca Juga :  Komisi Kebenaran (Sebuah Reportase)

”Semoga peperangan ini segera selesai, Dek!” jawab Qomar seadanya.

Pikiran tentang Hanum dan Rahma terus menggerogoti kepala Qomar. Bahkan, ketika Brigadir Jenderal Mallaby datang ke Surabaya, 25 Oktober 1945, Qomar masih terombang-ambing dalam gelombang cinta yang absurd. Pertempuran bukanlah sesuatu yang mengerikan, bagi Qomar. Kehilangan Hanum-lah yang dirasanya sangat mengerikan.

Namun, pikir Qomar, manusia pasti akan kehilangan sesuatu, dan tak ada salahnya ia menjalin hubungan dengan Rahma. Maka, datanglah Qomar menemui Rahma untuk mengajaknya berpacaran.

”Aku mau, Mas,” jawab Rahma kepada Qomar, sehari setelah kedatangan Mallaby.

”Iya!” ucap Qomar. ”Tapi, sekarang peperangan lebih penting. Kedaulatan negeri ini harus dipertahankan.”

Dalam hati Qomar, sebenarnya muncul gejolak lain yang mengingkari ucapannya. Yang terpenting bukanlah peperangan, tapi melupakan atau mendapatkan Hanum seutuhnya.

Qomar berharap Rahma menjadi suaka cintanya jikalau gagal menaklukkan hati Hanum. Atau, muncul siasat lain di kepala Qomar; sambil menunggu Hanum, Qomar melewatinya dengan memacari Rahma.

”Aku akan setia menunggumu, Mas!” kata Rahma. Qomar hanya mengangguk sambil tangannya tetap siaga menggenggam bambu runcing. ”Berhati-hatilah dalam berperang, Mas!”

Tanggal 30 Oktober 1945, Qomar terlibat dalam penyergapan di sekitar Jembatan Merah dan Gedung Internatio bersama pejuang lainnya. Mereka mengintai mobil Buick dari jarak lumayan dekat. Dalam pengintaian ini, Qomar melihat Nurdin, saingannya, yang telah menjamah hati Hanum terlebih dahulu. Nurdin menunjukkan gelagat yang mencurigakan.

”Heh, kau mau ke mana?” pekik Qomar, kemudian disusul bunyi letusan senjata api.

”Itu bukan urusanmu! Aku tak mau mati di medan perang,” sambar Nurdin.

”Bukankah kau kawan dekat Hanum?”

”Ah, persetan dengan Hanum. Dia yang mendekatiku,” kalimatnya berhenti sejenak. ”Maka kujadikan dia cadangan, sembari aku mencari cewek yang lebih sempurna darinya.”

”Asu!” sembur Qomar.

”Sudahlah!”

Nurdin lari tunggang-langgang meninggalkan pejuang lainnya. Sikap pengecutnya memicu cibiran di antara para pejuang. ”Biarkan dia pergi! Di otaknya cuma ada selangkangan perempuan,” kata seorang pejuang yang berada di sebelah Qomar.

Situasi di sekitar Jembatan Merah dan Gedung Internatio bertambah panas dan mencekam. Caci maki tersembur dari mulut para pejuang. Mereka bernafsu menyerang mobil Buick yang ditumpangi petinggi kaum penjajah.

”Intai, lalu sergap dan serang!” kata seseorang.

Tak lama kemudian terdengar suara dentuman. Api menjilat-jilat udara, disusul asap yang membubung. Pada insiden inilah, Mallaby ditemukan tewas dalam mobil Buick yang sudah hangus.

Kematian Mallaby disambut sukacita oleh para pejuang, kecuali Qomar. Ia terlihat rapuh digerogoti cinta yang absurd. Setelah menyendiri sekian jam di bawah Jembatan Merah, akhirnya Qomar mantap mengambil sikap dan jalan yang harus dilakoni.

Qomar meluncur ke sebuah arah, menumpang truk, menuju tempat pengungsian di dekat stasiun kota untuk menemui Rahma. Melihat kedatangan Qomar, Rahma tampak girang sembari melemparkan senyum termanis yang ia miliki. Senyum itu terlihat jelas, meskipun sinar rembulan terlihat murung.

”Alhamdulillah kau baik-baik saja, Mas. Aku…”

”Rahma,” Qomar langsung memotong. ”Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu. Sebaiknya kita akhiri saja!”

Qomar dan Rahma sama-sama membisu. Senyum di wajah Rahwa mendadak padam. Sedangkan pedalaman hati Qomar berkecamuk tak keruan diterjang badai kebingungan. Sejurus kemudian, Rahma memegang lengan Qomar sambil mengambil ancang-ancang untuk bicara. Namun, kalimat yang akan dilontarkan Rahma tak kunjung keluar dari mulutnya.

”Maafkan aku, Rahma!”

Berhari-hari kemudian, selepas mengakhiri hubungannya dengan Rahma, Qomar melewatinya tanpa berbicara dengan siapa pun. Hingga pada akhirnya ia berpapasan dengan Hanum di Asemrowo. Qomar sengaja tidak melihatnya, memilih untuk langsung melengos. Pikirannya terombang-ambing.

Baca Juga :  Liang Kubur Eksekutif

”Mas Qomar!” pekik Hanum memanggil namanya. Selanjutnya, karena panggilan itu tidak digubris, Hanum berlari kecil mengejar Qomar.

”Kau dengar suaraku, kan?”

”Dengar, Dek.” Qomar membalikkan badan, dan langsung mencium kening Hanum.

”Mengapa kau mencium keningku, Mas?”

”Karena aku mencintaimu!”

”Aku tahu.”

”Kau tidak marah aku cium?”

”Tidak! Aku menganggapnya sebagai ciuman seorang kakak terhadap adiknya.”

Qomar punya niat untuk menyampaikan perkataan Nurdin sewaktu dalam masa penyergapan itu kepada Hanum. Namun, Qomar mengurungkannya. Pikir Qomar, biarlah nanti Hanum mengetahui dengan sendirinya bahwa Nurdin adalah lelaki berengsek

”Kau terlihat banyak pikiran dan lelah, Mas.

”Sepertinya memang begitu.”

”Kau,” Hanum berpikir sejenak. ”Kau…” Qomar menunggu Hanum menuntaskannya. ”Kau sempat melihat atau bertemu Nurdin sewaktu penyergapan Mallaby?”

”Tidak. Aku tidak melihatnya.”

”Kukira kalian bertemu, sebab kalian masuk dalam regu yang sama.”

”Kau benar-benar suka dia?”

”Iya!”

”Semoga dilancarkan dan dia bisa menjadi yang terbaik untukmu, Dek.”

”Qomar! Qomar!” Tiba-tiba meledak teriakan dari arah seberang sungai. Kontan saja, Qomar dan Hanum melemparkan pandang ke arah sana.

”Kau sudah membaca ultimatum ini?” teriak seseorang di seberang sana sambil melambaikan secarik kertas.

”Belum! Ultimatum apa?” balas Qomar sambil berteriak. Lantas, seseorang itu mengikat kertas itu pada sebuah batu, lalu melemparkannya ke arah Qomar. Qomar menangkapnya, dan membacanya.

”Apa isinya, Mas?” tanya Hanum.

”Sekarang tanggal 9 November, kan?” Qomar balik bertanya.

”Benar. Apa isinya, Mas?”

”Ultimatum dari Mayor Jenderal Mansergh. Kita semua disuruh menyerahkan senjata hasil rampasan dari Jepang kepada sekutu. Kita diharuskan mengangkat kedua tangan,” jawab Qomar sambil merobek kertas itu. ”Lancang betul. Tidak! Kita tidak boleh menyerah! Kita harus mempertahankan kedaulatan negeri ini.”

Secepat kijang melesat, kertas-kertas berisi ultimatum yang dijatuhkan tentara sekutu dari udara langsung menyebar ke seantero kota. Tapi bukannya takut, para pejuang kian kesetanan terjun ke gelanggang pertempuran. Mereka siap mati melawan sekutu yang mengusik kedaulatan negeri.

”Kau jaga diri baik-baik, Dek. Jangan tinggalkan kamp ini!”

”Mas juga harus hati-hati.”

Qomar lantas meninggalkan lokasi pengungsian setelah melumat bibir Hanum. Ada perasaan janggal juga pertanyaan yang menyerbu kepala Qomar. Mengapa Hanum tidak menghindari ciuman itu?

”Ah, entahlah. Semua bisa terjadi dalam situasi perang seperti ini,” batin Qomar.

”Mengapa aku pasrah dicium?” Hanum juga membatin. ”Apakah aku juga mencintai Qomar? Gusti, mohon beri petunjuk-Mu!”

Keesokan harinya, 10 November 1945. Sutomo, tokoh masyarakat yang piawai dalam seni retorika, mengumandangkan pidatonya lewat corong radio. Pidato ini mampu membakar semangat para pejuang untuk mengusir penjajah. Fokus para pejuang hanya satu: menumpas sekutu. Tapi lain halnya dengan Qomar. Fokusnya terbelah antara menumpas sekutu dan mendapatkan cinta Hanum. Qomar mantap membatalkan niat melupakan Hanum.

Di lokasi pengungsian, Hanum disergap rasa bimbang. Ia dihadapkan pada dua pilihan: Nurdin atau Qomar. Hingga pada akhirnya Hanum menemukan jawaban atas dua pilihan itu. Malam hari, ketika perang belum padam, tanpa disengaja Hanum memergoki Nurdin sedang menyetubuhi gadis bule di sebuah barak. Amarah Hanum meledak. Ia lari menuju pinggir sungai untuk menenangkan diri.

”Qomar, semoga kau selamat dalam peperangan ini,” batin Hanum menjerit sekencang-kencangnya. ”Akan aku serahkan kesucianku untukmu dalam ikatan resmi,” air mata Hanum tumpah membasahi bumi. (*)

EKO DARMOKO, Prosais kelahiran Surabaya. Buku kumpulan cerpennya Revolusi Nuklir (Basabasi, 2021) masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Buku lainnya yang sudah terbit adalah novel Anak Gunung (Pelangi Sastra, 2022) dan kumpulan cerpen Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015).

Bukan kekalahan Jepang di Perang Dunia II yang membuat hati Qomar berbunga-bunga. Bukan pula karena Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bukan itu! Bunga-bunga tumbuh di kepala Qomar saat berkenalan dengan Hanum, beberapa hari sebelum peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato. Hanum sanggup meredam ketakutan Qomar kala menghadapi perang yang berkecamuk.

QOMAR tahu, di hati Hanum ada Nurdin yang sudah bersemayam sejak Belanda angkat kaki dari tanah air. Hanum dan Nurdin menjalin hubungan tanpa status. Qomar memang terlambat dan salah waktu: Pada pandangan pertama, Qomar langsung mencintai Hanum. Oleh sebab belum ada ikatan resmi antara Hanum dan Nurdin, Qomar pun pantang menyerah. Setiap manusia berhak memperjuangkan cintanya, begitu renung Qomar.

”Sembari berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta, aku akan terus berjuang mendapatkan cinta Hanum,” ceracau Qomar saat melihat kawannya merobek warna biru bendera di Hotel Yamato, 19 September 1945.

Situasi di depan Hotel Yamato terasa mencekam. Para pejuang menyemut menutupi permukaan jalan, diselimuti bau mesiu dan kecut keringat. Sedangkan di dalam hotel, entah apa yang terjadi? Para pejuang mencoba menduga-duga. Sementara di pucuk tiang bendera hotel, dwiwarna Merah Putih melambai-lambai disapu angin.

”Belanda memang kurang ajar. Tak tahu malu. Sudah terusir dari negeri ini, eh nekat datang lagi. Jancok!” umpat Qomar lantang. Otomatis, umpatan itu terdengar oleh orang-orang, termasuk juru foto yang baru saja berhasil mengabadikan insiden perobekan bendera.

”Semuanya, Cak! Belanda, Jepang, Inggris, Amerika, sekutu. Semuanya kurang ajar!” balas sang juru foto. ”Ngomong-ngomong, itu tadi, siapa nama si perobek bendera warna biru?”

”Aku tak tahu namanya, Cak! Kini di kepalaku hanya ada nama Hanum,” kata Qomar.

Mendengar jawaban Qomar, sang juru foto itu terbengong agak lama. Dahinya terlihat berkerut. Lalu terbit tawa kecil di wajahnya.

”Baiklah! Semoga Sampean berhasil mendapatkan Hanum!” kata sang juru foto, kemudian ngacir ke sebuah arah sambil menenteng kameranya.

Di hari yang sama, pada malam gulita, selepas memastikan keluarganya aman, Qomar pergi menemui Hanum, mengantarkannya ke suaka aman yang jauh dari suara desing pertempuran. Pergilah mereka menuju pinggiran sungai yang terletak di Asemrowo, tempat para pengungsi mencari selamat.

Di pinggiran sungai itulah, untuk kali pertama Qomar melakukan kontak fisik dengan Hanum. Qomar menggandeng tangan Hanum. Mesra dan hangat. Namun, lagi-lagi, Qomar paham, di kepala Hanum sedang berkelebat sosok Nurdin.

”Kau masih mengharapkannya?” tanya Qomar. Hanum hanya diam.

”Kawin saja denganku, Hanum!” suara Qomar terdengar lirih, tapi tertangkap jelas di telinga Hanum. ”Lelaki macam dia, yang suka nyemplung dalam ketidakpastian, tak akan berani mengawinimu. Kau cuma dijadikan sandaran sementara. Lagi pula, ibu dan bapakmu tak suka dengan lelaki macam dia.”

”Aku belum ada niat untuk kawin, Mas,” balas Hanum. ”Kita berkawan saja!”

Qomar melepas gandengan tangan ketika langkah kaki mereka mendekati barak pengungsian. Hanum terlihat membetulkan letak kerudung dengan kedua tangannya, sambil telinganya menyadap pembicaraan para pengungsi.

”Kau dengar, Mas?” tanya Hanum. Qomar menganggukkan kepala. ”Situasi bakal tambah kacau. Belanda dan sekutu marah besar.” Hanum menerawang sambil memandangi Qomar dari samping. ”Semoga ibu dan bapakku aman di pengungsian luar kota sana.”

 

Qomar hanya bisa mematung, tak sanggup mengeluarkan satu kata pun. Entah oleh apa, tiba-tiba di kepalanya melintas bayang-bayang Rahma, perempuan yang mencintainya tapi Qomar belum membalas cintanya. Dalam pikiran Qomar, sempat tebersit niat untuk menjalin hubungan dengan Rahma demi melakoni siasat melupakan Hanum.

”Kau sedang memikirkan apa, Mas?” tanya Hanum.

Baca Juga :  Komisi Kebenaran (Sebuah Reportase)

”Semoga peperangan ini segera selesai, Dek!” jawab Qomar seadanya.

Pikiran tentang Hanum dan Rahma terus menggerogoti kepala Qomar. Bahkan, ketika Brigadir Jenderal Mallaby datang ke Surabaya, 25 Oktober 1945, Qomar masih terombang-ambing dalam gelombang cinta yang absurd. Pertempuran bukanlah sesuatu yang mengerikan, bagi Qomar. Kehilangan Hanum-lah yang dirasanya sangat mengerikan.

Namun, pikir Qomar, manusia pasti akan kehilangan sesuatu, dan tak ada salahnya ia menjalin hubungan dengan Rahma. Maka, datanglah Qomar menemui Rahma untuk mengajaknya berpacaran.

”Aku mau, Mas,” jawab Rahma kepada Qomar, sehari setelah kedatangan Mallaby.

”Iya!” ucap Qomar. ”Tapi, sekarang peperangan lebih penting. Kedaulatan negeri ini harus dipertahankan.”

Dalam hati Qomar, sebenarnya muncul gejolak lain yang mengingkari ucapannya. Yang terpenting bukanlah peperangan, tapi melupakan atau mendapatkan Hanum seutuhnya.

Qomar berharap Rahma menjadi suaka cintanya jikalau gagal menaklukkan hati Hanum. Atau, muncul siasat lain di kepala Qomar; sambil menunggu Hanum, Qomar melewatinya dengan memacari Rahma.

”Aku akan setia menunggumu, Mas!” kata Rahma. Qomar hanya mengangguk sambil tangannya tetap siaga menggenggam bambu runcing. ”Berhati-hatilah dalam berperang, Mas!”

Tanggal 30 Oktober 1945, Qomar terlibat dalam penyergapan di sekitar Jembatan Merah dan Gedung Internatio bersama pejuang lainnya. Mereka mengintai mobil Buick dari jarak lumayan dekat. Dalam pengintaian ini, Qomar melihat Nurdin, saingannya, yang telah menjamah hati Hanum terlebih dahulu. Nurdin menunjukkan gelagat yang mencurigakan.

”Heh, kau mau ke mana?” pekik Qomar, kemudian disusul bunyi letusan senjata api.

”Itu bukan urusanmu! Aku tak mau mati di medan perang,” sambar Nurdin.

”Bukankah kau kawan dekat Hanum?”

”Ah, persetan dengan Hanum. Dia yang mendekatiku,” kalimatnya berhenti sejenak. ”Maka kujadikan dia cadangan, sembari aku mencari cewek yang lebih sempurna darinya.”

”Asu!” sembur Qomar.

”Sudahlah!”

Nurdin lari tunggang-langgang meninggalkan pejuang lainnya. Sikap pengecutnya memicu cibiran di antara para pejuang. ”Biarkan dia pergi! Di otaknya cuma ada selangkangan perempuan,” kata seorang pejuang yang berada di sebelah Qomar.

Situasi di sekitar Jembatan Merah dan Gedung Internatio bertambah panas dan mencekam. Caci maki tersembur dari mulut para pejuang. Mereka bernafsu menyerang mobil Buick yang ditumpangi petinggi kaum penjajah.

”Intai, lalu sergap dan serang!” kata seseorang.

Tak lama kemudian terdengar suara dentuman. Api menjilat-jilat udara, disusul asap yang membubung. Pada insiden inilah, Mallaby ditemukan tewas dalam mobil Buick yang sudah hangus.

Kematian Mallaby disambut sukacita oleh para pejuang, kecuali Qomar. Ia terlihat rapuh digerogoti cinta yang absurd. Setelah menyendiri sekian jam di bawah Jembatan Merah, akhirnya Qomar mantap mengambil sikap dan jalan yang harus dilakoni.

Qomar meluncur ke sebuah arah, menumpang truk, menuju tempat pengungsian di dekat stasiun kota untuk menemui Rahma. Melihat kedatangan Qomar, Rahma tampak girang sembari melemparkan senyum termanis yang ia miliki. Senyum itu terlihat jelas, meskipun sinar rembulan terlihat murung.

”Alhamdulillah kau baik-baik saja, Mas. Aku…”

”Rahma,” Qomar langsung memotong. ”Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu. Sebaiknya kita akhiri saja!”

Qomar dan Rahma sama-sama membisu. Senyum di wajah Rahwa mendadak padam. Sedangkan pedalaman hati Qomar berkecamuk tak keruan diterjang badai kebingungan. Sejurus kemudian, Rahma memegang lengan Qomar sambil mengambil ancang-ancang untuk bicara. Namun, kalimat yang akan dilontarkan Rahma tak kunjung keluar dari mulutnya.

”Maafkan aku, Rahma!”

Berhari-hari kemudian, selepas mengakhiri hubungannya dengan Rahma, Qomar melewatinya tanpa berbicara dengan siapa pun. Hingga pada akhirnya ia berpapasan dengan Hanum di Asemrowo. Qomar sengaja tidak melihatnya, memilih untuk langsung melengos. Pikirannya terombang-ambing.

Baca Juga :  Liang Kubur Eksekutif

”Mas Qomar!” pekik Hanum memanggil namanya. Selanjutnya, karena panggilan itu tidak digubris, Hanum berlari kecil mengejar Qomar.

”Kau dengar suaraku, kan?”

”Dengar, Dek.” Qomar membalikkan badan, dan langsung mencium kening Hanum.

”Mengapa kau mencium keningku, Mas?”

”Karena aku mencintaimu!”

”Aku tahu.”

”Kau tidak marah aku cium?”

”Tidak! Aku menganggapnya sebagai ciuman seorang kakak terhadap adiknya.”

Qomar punya niat untuk menyampaikan perkataan Nurdin sewaktu dalam masa penyergapan itu kepada Hanum. Namun, Qomar mengurungkannya. Pikir Qomar, biarlah nanti Hanum mengetahui dengan sendirinya bahwa Nurdin adalah lelaki berengsek

”Kau terlihat banyak pikiran dan lelah, Mas.

”Sepertinya memang begitu.”

”Kau,” Hanum berpikir sejenak. ”Kau…” Qomar menunggu Hanum menuntaskannya. ”Kau sempat melihat atau bertemu Nurdin sewaktu penyergapan Mallaby?”

”Tidak. Aku tidak melihatnya.”

”Kukira kalian bertemu, sebab kalian masuk dalam regu yang sama.”

”Kau benar-benar suka dia?”

”Iya!”

”Semoga dilancarkan dan dia bisa menjadi yang terbaik untukmu, Dek.”

”Qomar! Qomar!” Tiba-tiba meledak teriakan dari arah seberang sungai. Kontan saja, Qomar dan Hanum melemparkan pandang ke arah sana.

”Kau sudah membaca ultimatum ini?” teriak seseorang di seberang sana sambil melambaikan secarik kertas.

”Belum! Ultimatum apa?” balas Qomar sambil berteriak. Lantas, seseorang itu mengikat kertas itu pada sebuah batu, lalu melemparkannya ke arah Qomar. Qomar menangkapnya, dan membacanya.

”Apa isinya, Mas?” tanya Hanum.

”Sekarang tanggal 9 November, kan?” Qomar balik bertanya.

”Benar. Apa isinya, Mas?”

”Ultimatum dari Mayor Jenderal Mansergh. Kita semua disuruh menyerahkan senjata hasil rampasan dari Jepang kepada sekutu. Kita diharuskan mengangkat kedua tangan,” jawab Qomar sambil merobek kertas itu. ”Lancang betul. Tidak! Kita tidak boleh menyerah! Kita harus mempertahankan kedaulatan negeri ini.”

Secepat kijang melesat, kertas-kertas berisi ultimatum yang dijatuhkan tentara sekutu dari udara langsung menyebar ke seantero kota. Tapi bukannya takut, para pejuang kian kesetanan terjun ke gelanggang pertempuran. Mereka siap mati melawan sekutu yang mengusik kedaulatan negeri.

”Kau jaga diri baik-baik, Dek. Jangan tinggalkan kamp ini!”

”Mas juga harus hati-hati.”

Qomar lantas meninggalkan lokasi pengungsian setelah melumat bibir Hanum. Ada perasaan janggal juga pertanyaan yang menyerbu kepala Qomar. Mengapa Hanum tidak menghindari ciuman itu?

”Ah, entahlah. Semua bisa terjadi dalam situasi perang seperti ini,” batin Qomar.

”Mengapa aku pasrah dicium?” Hanum juga membatin. ”Apakah aku juga mencintai Qomar? Gusti, mohon beri petunjuk-Mu!”

Keesokan harinya, 10 November 1945. Sutomo, tokoh masyarakat yang piawai dalam seni retorika, mengumandangkan pidatonya lewat corong radio. Pidato ini mampu membakar semangat para pejuang untuk mengusir penjajah. Fokus para pejuang hanya satu: menumpas sekutu. Tapi lain halnya dengan Qomar. Fokusnya terbelah antara menumpas sekutu dan mendapatkan cinta Hanum. Qomar mantap membatalkan niat melupakan Hanum.

Di lokasi pengungsian, Hanum disergap rasa bimbang. Ia dihadapkan pada dua pilihan: Nurdin atau Qomar. Hingga pada akhirnya Hanum menemukan jawaban atas dua pilihan itu. Malam hari, ketika perang belum padam, tanpa disengaja Hanum memergoki Nurdin sedang menyetubuhi gadis bule di sebuah barak. Amarah Hanum meledak. Ia lari menuju pinggir sungai untuk menenangkan diri.

”Qomar, semoga kau selamat dalam peperangan ini,” batin Hanum menjerit sekencang-kencangnya. ”Akan aku serahkan kesucianku untukmu dalam ikatan resmi,” air mata Hanum tumpah membasahi bumi. (*)

EKO DARMOKO, Prosais kelahiran Surabaya. Buku kumpulan cerpennya Revolusi Nuklir (Basabasi, 2021) masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Buku lainnya yang sudah terbit adalah novel Anak Gunung (Pelangi Sastra, 2022) dan kumpulan cerpen Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015).

Terpopuler

Artikel Terbaru