33.8 C
Jakarta
Wednesday, April 17, 2024

Hikmah Ramadan dari Dalam Jeruji Besi

Momentum Berharga untuk Merubah Menjadi Lebih Baik

Hidup di penjara betul-betul tidak gampang. Segalanya serba terbatas. Namun, bulan Ramadan 1443 Hijriah ini, menjadi hikmah tersendiri bagi para penghuni jeruji besi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Palangka Raya. Mereka tetap bisa merasakan keberkahan dengan menjalankan ibadah secara khidmat.

Oleh: Muhammad Hafidz/Prokalteng.co

ADZAN Isya terdengar menggema dari Masjid At Taubah Rutan Kelas IIA Palangka Raya, Selasa (5/4), menandakan waktu salat Isya telah tiba. Suara lantunan itu merupakan suara dari salah satu warga binaan pemasyarakatan (WBP), yang kini sedang menjalani masa tahanan. Suaranya merdu mendayu-dayu.

Selagi azan berkumandang, para WBP lainnya bersiap datang ke masjid untuk menjalankan salat Isya dan Tarawih bersama. Sesampainya di masjid, mereka segera bergegas mengambil air wudhu yang ada di dekat masjid. Satu per satu memasuki masjid dan mengisi saf yang telah disediakan petugas.

Para penghuni Rutan Kelas IIA Palangka Raya ini, membentuk saf salat berjamaah dengan tertib. Bahkan beberapa WBP berebut barisan tepat di belakang imam yang konon pahalanya lebih banyak. Pakaian mereka pun beragam. Ada yang memakai baju koko dan kaus berkerah.

Tak hanya itu, sarung dan peci pun dikenakan untuk mempermanis penampilan. Tidak banyak menggunakan kaus napi dari Rutan. Sama sekali tak ada kesan mereka orang pernah melakukan tindak kejahatan.

Baca Juga :  Dukung Pemulihan Ekonomi, Agustiar Sabran Gelar Pasar Ramadan

Sebelum salat Isya dilaksanakan, ada beberapa WBP yang salat sunah qobliyah terlebih dahulu. Mereka tampak khusyuk menjalankan salat yang tidak wajib itu. Tidak semua memang, namun sebagian besar menjalankannya.

Singkat cerita, setelah melaksanakan salat Isya berjamaah, para WBP kemudian melanjutkan dengan salat tarawih berjamaah. Sepintas tidak ada yang berbeda dengan jamaah salat tarawih pada umumnya. Mereka menjalankannya dengan khusyuk.

Selesai tarawih, semua WBP dikumpulkan di sebuah lapangan luas untuk mendengarkan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas. Mereka berbaris dengan sangat rapi, dan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan.

Setelahnya, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tadarus bersama yang diikuti beberapa WBP. Mereka membentuk lingkaran kecil. Setiap orang mendapat giliran sak rai atau satu halaman Al-Qur’an. Membacanya pun bergiliran sesuai dengan urutan lingkaran. Mereka membaca dengan fasih sama seperti tadarus di masjid dan musala kebanyakan. Nuansa Ramadan benar-benar jelas terasa di sana.

Kepala Rutan Kelas IIA Palangka Raya, Suwarto mengatakan, pihaknya selalu memberikan ruang bagi WBP untuk menjalankan ibadah. WBP diberikan waktu khusus pada malam hari untuk melaksanakan sholat tarawih berjamaah dan tadarus Al-Qur’an.

Baca Juga :  Jualan di Pasar Ramadan Omzetnya Menggiurkan

“Ini dilakukan untuk memenuhi hak beribadah WBP. Pada saat beribadah secara tidak langsung WBP juga telah mengikuti pembinaan kerohanian, dengan tujuan meningkatkan iman dan takwa mereka,” katanya belum lama ini.

Suwarto mengajak kepada seluruh WBP untuk dapat memaknai bulan penuh berkah Ramadan sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, dan memperbanyak amal ibadah.

“Kita harus memaknai bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Harus ada yang berubah setelah bulan Ramadan ini. Kita harus meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, agar menjadi manusia yang lebih baik lagi,” imbau Suwarto kepada WBP.

Sementara itu, Kasudbsi Pelayanan Tahanan, Hadiyanto Prabowo menambahkan, selama bulan Ramadan 1443 Hijriah para WBP akan diberikan pembinaan berupa pengajian rutin setiap hari.

Menurutnya, pembinaan keagamaan di Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan sangat membantu mereka yang ingin belajar agama lebih mendalam. Ia berharap para WBP akan menyadari akan kesalahannya dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi ketika bebas.

“Pembinaan keagamaan memang sudah menjadi kewajiban kami, untuk memberikan bimbingan rohani kepada WBP. Pembinaan keagamaan seperti ini diperlukan untuk membantu para WBP yang ingin mendalami ilmu agama,” pungkasnya.(*)

Hidup di penjara betul-betul tidak gampang. Segalanya serba terbatas. Namun, bulan Ramadan 1443 Hijriah ini, menjadi hikmah tersendiri bagi para penghuni jeruji besi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Palangka Raya. Mereka tetap bisa merasakan keberkahan dengan menjalankan ibadah secara khidmat.

Oleh: Muhammad Hafidz/Prokalteng.co

ADZAN Isya terdengar menggema dari Masjid At Taubah Rutan Kelas IIA Palangka Raya, Selasa (5/4), menandakan waktu salat Isya telah tiba. Suara lantunan itu merupakan suara dari salah satu warga binaan pemasyarakatan (WBP), yang kini sedang menjalani masa tahanan. Suaranya merdu mendayu-dayu.

Selagi azan berkumandang, para WBP lainnya bersiap datang ke masjid untuk menjalankan salat Isya dan Tarawih bersama. Sesampainya di masjid, mereka segera bergegas mengambil air wudhu yang ada di dekat masjid. Satu per satu memasuki masjid dan mengisi saf yang telah disediakan petugas.

Para penghuni Rutan Kelas IIA Palangka Raya ini, membentuk saf salat berjamaah dengan tertib. Bahkan beberapa WBP berebut barisan tepat di belakang imam yang konon pahalanya lebih banyak. Pakaian mereka pun beragam. Ada yang memakai baju koko dan kaus berkerah.

Tak hanya itu, sarung dan peci pun dikenakan untuk mempermanis penampilan. Tidak banyak menggunakan kaus napi dari Rutan. Sama sekali tak ada kesan mereka orang pernah melakukan tindak kejahatan.

Baca Juga :  Dukung Pemulihan Ekonomi, Agustiar Sabran Gelar Pasar Ramadan

Sebelum salat Isya dilaksanakan, ada beberapa WBP yang salat sunah qobliyah terlebih dahulu. Mereka tampak khusyuk menjalankan salat yang tidak wajib itu. Tidak semua memang, namun sebagian besar menjalankannya.

Singkat cerita, setelah melaksanakan salat Isya berjamaah, para WBP kemudian melanjutkan dengan salat tarawih berjamaah. Sepintas tidak ada yang berbeda dengan jamaah salat tarawih pada umumnya. Mereka menjalankannya dengan khusyuk.

Selesai tarawih, semua WBP dikumpulkan di sebuah lapangan luas untuk mendengarkan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas. Mereka berbaris dengan sangat rapi, dan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan.

Setelahnya, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tadarus bersama yang diikuti beberapa WBP. Mereka membentuk lingkaran kecil. Setiap orang mendapat giliran sak rai atau satu halaman Al-Qur’an. Membacanya pun bergiliran sesuai dengan urutan lingkaran. Mereka membaca dengan fasih sama seperti tadarus di masjid dan musala kebanyakan. Nuansa Ramadan benar-benar jelas terasa di sana.

Kepala Rutan Kelas IIA Palangka Raya, Suwarto mengatakan, pihaknya selalu memberikan ruang bagi WBP untuk menjalankan ibadah. WBP diberikan waktu khusus pada malam hari untuk melaksanakan sholat tarawih berjamaah dan tadarus Al-Qur’an.

Baca Juga :  Jualan di Pasar Ramadan Omzetnya Menggiurkan

“Ini dilakukan untuk memenuhi hak beribadah WBP. Pada saat beribadah secara tidak langsung WBP juga telah mengikuti pembinaan kerohanian, dengan tujuan meningkatkan iman dan takwa mereka,” katanya belum lama ini.

Suwarto mengajak kepada seluruh WBP untuk dapat memaknai bulan penuh berkah Ramadan sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, dan memperbanyak amal ibadah.

“Kita harus memaknai bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Harus ada yang berubah setelah bulan Ramadan ini. Kita harus meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, agar menjadi manusia yang lebih baik lagi,” imbau Suwarto kepada WBP.

Sementara itu, Kasudbsi Pelayanan Tahanan, Hadiyanto Prabowo menambahkan, selama bulan Ramadan 1443 Hijriah para WBP akan diberikan pembinaan berupa pengajian rutin setiap hari.

Menurutnya, pembinaan keagamaan di Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan sangat membantu mereka yang ingin belajar agama lebih mendalam. Ia berharap para WBP akan menyadari akan kesalahannya dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi ketika bebas.

“Pembinaan keagamaan memang sudah menjadi kewajiban kami, untuk memberikan bimbingan rohani kepada WBP. Pembinaan keagamaan seperti ini diperlukan untuk membantu para WBP yang ingin mendalami ilmu agama,” pungkasnya.(*)

Terpopuler

Artikel Terbaru