33.4 C
Jakarta
Friday, June 21, 2024
spot_img

Banyak Ajarkan Life Skill, Tiap Pertemuan Berlangsung 25 Menit

Pandemi Covid-19 membuat pembelajaran di
sekolah terhenti. Siswa diminta belajar dari rumah secara daring. Tapi, tak
semuanya bisa mengakses internet. Guru di Sumenep ini memutuskan mengunjungi
mereka satu persatu. Setiap hari, kecuali hari libur.

M HILMI SETIAWAN, Jakarta
Hampir sama dengan sekolah-sekolah lain di seluruh negeri ini, sejak 16 Maret
lalu proses belajar-mengajar di SDN Batuputih Laok III, Kecamatan Batuputih,
Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berhenti. Pertemuan tatap muka dihindari untuk
mencegah penularan Covid-19. Para siswa belajar dari rumah dengan mengandalkan
pertemuan secara daring (dalam jaringan).
Salah seorang guru SDN Batuputih Laok III itu adalah Avan Fathurrahman. Sekitar
sepekan proses belajar dari rumah berjalan, dia menelepon orang tua murid.
’’Saya minta tugas difoto untuk dikirim melalui WhatsApp,’’ katanya Jumat
(12/6).
Ternyata hampir seluruh orang tua tidak punya telepon pintar. Para orang tua
yang kebanyakan buruh tani itu hanya punya telepon genggam sederhana. Belum
dilengkapi jaringan internet. Tak sedikit di antara mereka yang tak tahu apa
itu WhatsApp.
Tanpa mengurangi rasa hormat, Avan mengatakan, sebagian besar orang tua
muridnya tersebut kurang begitu mengikuti perkembangan teknologi. Wali kelas VI
itu segera menyadari, sekolah daring tidak bisa diterapkan.
Namun, guru lulusan STKIP PGRI Sumenep tersebut tak mau muridnya ketinggalan
pelajaran. Dia memutuskan berkunjung ke rumah siswa. Jarak rumah Avan ke
sekolah sekitar 20 km. Dalam kondisi normal, dia kerap menginap di rumah dinas
milik sekolah kalau sedang kelelahan pulang-pergi.
Sementara itu, jarak rumah siswa dari sekolah sekitar 1–2 km. Guru berusia 40
tahun tersebut menuturkan, total murid di sekolahnya 19 anak. Sendiri, dia
mendatangi rumah semua siswa dari berbagai kelas itu. ”Guru lain berstatus
honorer. Kasihan kalau mereka harus ikut muter-muter, keluar ongkos besar,”
katanya.
Awal-awal cuaca sedang sering hujan. Dalam kondisi seperti itu, sehari dia
hanya bisa berkunjung ke rumah lima sampai enam murid. Avan menceritakan, akses
ke rumah siswa cukup sulit jika hujan turun. ’’Jalannya becek dan licin,’’
jelasnya.
Motor tidak bisa berjalan sampai di depan rumah siswa. Harus dititipkan di
rumah warga lain yang ada di pinggir jalan. Baru kemudian dia berjalan kaki
menuju rumah muridnya.
Murid Avan, antara lain, Wardah, siswi kelas III, dan Moh. Dayat, siswa kelas
IV. Keduanya saudara sepupu. Rumahnya jadi satu. Proses belajar dilakukan
sekaligus di langgar keluarga.
Pria yang menjadi guru PNS sejak 2010 itu menuturkan, proses belajar tidak
monoton. Kadang dia selingi dengan dongeng. Supaya lebih menarik, Avan membawa
boneka. Cerita-cerita yang dia bawakan umumnya menanamkan karakter.
Terkait isi pembelajaran, Avan mengatakan, di era pandemi sudah keluar surat
edaran bahwa kurikulum bukan satu-satunya yang harus dicapai. Proses
pembelajaran ditekankan pada menciptakan kondisi yang menyenangkan, bermakna,
serta aplikatif.
Materi pembelajaran lebih menekankan pada kemampuan atau life skill dan
pendidikan karakter. Karena itu, Avan selalu meminta siswanya melakukan banyak
kegiatan di rumah. Mungkin membantu orang tua merontokkan gabah, mencari rumput
untuk pakan ternak, atau menjaga adik. Itu sudah bagian dari melatih life
skill. Siswa tidak perlu tahu bahwa yang dia lakukan bagian dari kecakapan
hidup. ’’Saya tidak harus bilang, oh itu adalah life skill. Yang penting
dibiasakan,’’ jelasnya.
Untuk menunjang pembelajaran pendidikan karakter, dia juga membawa buku-buku
bacaan. Di antaranya, buku cerita dan ensiklopedia. Buku tersebut dibaca
bergantian oleh para siswa. Biasanya dipinjamkan selama dua sampai tiga
hari.
Syarat bagi yang meminjam adalah bisa menceritakan kembali isi buku saat
mengembalikan. Kemudian, Avan akan mengajak siswanya berdiskusi. ’’Tentunya
diskusi yang ringan,’’ katanya. Dengan cara itu, siswa dilatih untuk
bertanggung jawab.
Rata-rata proses pembelajaran di rumah siswa tersebut berlangsung sekitar 25
menit. Kegiatan berjalan Senin sampai Sabtu. Mulanya, pengurus Persatuan Guru
Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Bantuputih itu tidak menerapkan protokol
pencegahan Covid-19 saat datang ke rumah siswa. Misalnya, jaga jarak, cuci
tangan, dan menggunakan masker. Apalagi, pada saat itu Sumenep masih berstatus
daerah hijau.
Dari foto kegiatan mengajar yang beredar, Avan kemudian menerima masukan dari
kolega. Yakni, tetap menerapkan protokol kesehatan meski merasa aman berkunjung
ke rumah siswa. Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan, kegiatan Avan dan
banyak guru lainnya yang mengajar door-to-door ke rumah siswa menunjukkan sikap
tanggung jawab.
’’Kadang-kadang melebihi keselamatan dirinya,’’ tuturnya.
Dia sering kasihan mendengar para guru yang mengajar door-to-door itu. Apalagi,
ada yang statusnya masih honorer. Mereka harus mengeluarkan ongkos dan tenaga
ekstra untuk sampai di rumah siswa. ’’Kadang-kadang pulang dibawain singkong,’’
ujarnya. Kemudian, para guru itu juga harus berbagi waktu. Ada yang harus tetap
berkebun untuk kelangsungan hidup.
Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut mengungkapkan, tidak ada
alasan lagi untuk tidak memperluas akses internet dan listrik. Juga, akses
internet yang murah atau terjangkau sehingga semakin banyak siswa yang bisa
merasakan akses internet dan tidak kesulitan untuk menjalankan pembelajaran
online.
Selain itu, PGRI mengusulkan pemerintah merancang kurikulum sekolah era pandemi
(KSEP). ’’Atau apa pun namanya nanti,’’ katanya.
Isi kurikulum tersebut harus praktis dan aplikatif dengan target pembelajaran
yang rasional. Bagi dia, kurikulum sekarang ini terlalu padat konten. Sulit
mendorong anak untuk belajar secara mandiri di rumah.

Baca Juga :  Kisah Pahit Ojol Saat Mendapat Order Fiktif

Pandemi Covid-19 membuat pembelajaran di
sekolah terhenti. Siswa diminta belajar dari rumah secara daring. Tapi, tak
semuanya bisa mengakses internet. Guru di Sumenep ini memutuskan mengunjungi
mereka satu persatu. Setiap hari, kecuali hari libur.

M HILMI SETIAWAN, Jakarta
Hampir sama dengan sekolah-sekolah lain di seluruh negeri ini, sejak 16 Maret
lalu proses belajar-mengajar di SDN Batuputih Laok III, Kecamatan Batuputih,
Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berhenti. Pertemuan tatap muka dihindari untuk
mencegah penularan Covid-19. Para siswa belajar dari rumah dengan mengandalkan
pertemuan secara daring (dalam jaringan).
Salah seorang guru SDN Batuputih Laok III itu adalah Avan Fathurrahman. Sekitar
sepekan proses belajar dari rumah berjalan, dia menelepon orang tua murid.
’’Saya minta tugas difoto untuk dikirim melalui WhatsApp,’’ katanya Jumat
(12/6).
Ternyata hampir seluruh orang tua tidak punya telepon pintar. Para orang tua
yang kebanyakan buruh tani itu hanya punya telepon genggam sederhana. Belum
dilengkapi jaringan internet. Tak sedikit di antara mereka yang tak tahu apa
itu WhatsApp.
Tanpa mengurangi rasa hormat, Avan mengatakan, sebagian besar orang tua
muridnya tersebut kurang begitu mengikuti perkembangan teknologi. Wali kelas VI
itu segera menyadari, sekolah daring tidak bisa diterapkan.
Namun, guru lulusan STKIP PGRI Sumenep tersebut tak mau muridnya ketinggalan
pelajaran. Dia memutuskan berkunjung ke rumah siswa. Jarak rumah Avan ke
sekolah sekitar 20 km. Dalam kondisi normal, dia kerap menginap di rumah dinas
milik sekolah kalau sedang kelelahan pulang-pergi.
Sementara itu, jarak rumah siswa dari sekolah sekitar 1–2 km. Guru berusia 40
tahun tersebut menuturkan, total murid di sekolahnya 19 anak. Sendiri, dia
mendatangi rumah semua siswa dari berbagai kelas itu. ”Guru lain berstatus
honorer. Kasihan kalau mereka harus ikut muter-muter, keluar ongkos besar,”
katanya.
Awal-awal cuaca sedang sering hujan. Dalam kondisi seperti itu, sehari dia
hanya bisa berkunjung ke rumah lima sampai enam murid. Avan menceritakan, akses
ke rumah siswa cukup sulit jika hujan turun. ’’Jalannya becek dan licin,’’
jelasnya.
Motor tidak bisa berjalan sampai di depan rumah siswa. Harus dititipkan di
rumah warga lain yang ada di pinggir jalan. Baru kemudian dia berjalan kaki
menuju rumah muridnya.
Murid Avan, antara lain, Wardah, siswi kelas III, dan Moh. Dayat, siswa kelas
IV. Keduanya saudara sepupu. Rumahnya jadi satu. Proses belajar dilakukan
sekaligus di langgar keluarga.
Pria yang menjadi guru PNS sejak 2010 itu menuturkan, proses belajar tidak
monoton. Kadang dia selingi dengan dongeng. Supaya lebih menarik, Avan membawa
boneka. Cerita-cerita yang dia bawakan umumnya menanamkan karakter.
Terkait isi pembelajaran, Avan mengatakan, di era pandemi sudah keluar surat
edaran bahwa kurikulum bukan satu-satunya yang harus dicapai. Proses
pembelajaran ditekankan pada menciptakan kondisi yang menyenangkan, bermakna,
serta aplikatif.
Materi pembelajaran lebih menekankan pada kemampuan atau life skill dan
pendidikan karakter. Karena itu, Avan selalu meminta siswanya melakukan banyak
kegiatan di rumah. Mungkin membantu orang tua merontokkan gabah, mencari rumput
untuk pakan ternak, atau menjaga adik. Itu sudah bagian dari melatih life
skill. Siswa tidak perlu tahu bahwa yang dia lakukan bagian dari kecakapan
hidup. ’’Saya tidak harus bilang, oh itu adalah life skill. Yang penting
dibiasakan,’’ jelasnya.
Untuk menunjang pembelajaran pendidikan karakter, dia juga membawa buku-buku
bacaan. Di antaranya, buku cerita dan ensiklopedia. Buku tersebut dibaca
bergantian oleh para siswa. Biasanya dipinjamkan selama dua sampai tiga
hari.
Syarat bagi yang meminjam adalah bisa menceritakan kembali isi buku saat
mengembalikan. Kemudian, Avan akan mengajak siswanya berdiskusi. ’’Tentunya
diskusi yang ringan,’’ katanya. Dengan cara itu, siswa dilatih untuk
bertanggung jawab.
Rata-rata proses pembelajaran di rumah siswa tersebut berlangsung sekitar 25
menit. Kegiatan berjalan Senin sampai Sabtu. Mulanya, pengurus Persatuan Guru
Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Bantuputih itu tidak menerapkan protokol
pencegahan Covid-19 saat datang ke rumah siswa. Misalnya, jaga jarak, cuci
tangan, dan menggunakan masker. Apalagi, pada saat itu Sumenep masih berstatus
daerah hijau.
Dari foto kegiatan mengajar yang beredar, Avan kemudian menerima masukan dari
kolega. Yakni, tetap menerapkan protokol kesehatan meski merasa aman berkunjung
ke rumah siswa. Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan, kegiatan Avan dan
banyak guru lainnya yang mengajar door-to-door ke rumah siswa menunjukkan sikap
tanggung jawab.
’’Kadang-kadang melebihi keselamatan dirinya,’’ tuturnya.
Dia sering kasihan mendengar para guru yang mengajar door-to-door itu. Apalagi,
ada yang statusnya masih honorer. Mereka harus mengeluarkan ongkos dan tenaga
ekstra untuk sampai di rumah siswa. ’’Kadang-kadang pulang dibawain singkong,’’
ujarnya. Kemudian, para guru itu juga harus berbagi waktu. Ada yang harus tetap
berkebun untuk kelangsungan hidup.
Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut mengungkapkan, tidak ada
alasan lagi untuk tidak memperluas akses internet dan listrik. Juga, akses
internet yang murah atau terjangkau sehingga semakin banyak siswa yang bisa
merasakan akses internet dan tidak kesulitan untuk menjalankan pembelajaran
online.
Selain itu, PGRI mengusulkan pemerintah merancang kurikulum sekolah era pandemi
(KSEP). ’’Atau apa pun namanya nanti,’’ katanya.
Isi kurikulum tersebut harus praktis dan aplikatif dengan target pembelajaran
yang rasional. Bagi dia, kurikulum sekarang ini terlalu padat konten. Sulit
mendorong anak untuk belajar secara mandiri di rumah.

Baca Juga :  Kisah Pahit Ojol Saat Mendapat Order Fiktif
spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru