28.4 C
Jakarta
Saturday, July 20, 2024
spot_img

Sosok Aipda Fahri: Dekat dengan Ulama, Sering Bantu Lansia

Aipda Fahriansyah (39) berdinas di Polres Hulu Sungai Tengah (HST). Bertugas menjadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Kalimantan Selatan. Sosoknya dikenal ikhlas dan bertanggung jawab.

***

AIPDA Fahri (sapaan akrab) sudah empat tahun menjadi Bhabinkamtibmas. Dia ikhlas menolong warga, caranya menyisihkan gaji untuk dibelikan berbagai kebutuhan pokok.

Salah satu warga yang rutin dibantu bernama Misbah (53). Misbah seorang janda tua dan tunawisma. Tinggal di gubuk beralas tanah beratap karung berdinding kain spanduk. Gubuk itu berdiri di lahan bekas pabrik karet milik warga.

Ironinya, lokasi tersebut di wilayah perkotaan. Jarak dari kantor pemerintah setempat hanya tiga menit menggunakan sepeda motor.

“Saya sudah minta izin agar nenek Misbah boleh tinggal di situ. Gubuknya juga tidak permanen. Juga tidak mengganggu aktivitas,” kata Aipda Fahri ditemui penulis, Rabu (12/6/2024).

Misbah hidup sebatang kara. Hanya bisa bekomunikasi dengan orang tertentu. Hal itulah membuat Aipda Fahri iba. “Untuk makan saja mengharap bantuan orang lain. Ada bantuan pemerintah tapi tidak menentu,” ceritanya.

Dalam satu bulan, dia bisa empat sampai lima kali mengunjungi Misbah. Mengantarkan bantuan, atau sekadar melihat kondisi kesehatan. Sebab diusianya yang renta, Misbah sering dilanda sakit.

Keluarga Misbah sendiri sudah tak peduli. Mereka tidak mau lagi mengurus. Sekarang, hanya Aipda Fahri yang mau merawat dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Baca Juga :  Kue Kering Laris Manis, Pernak Pernik Natal Diburu Pembeli

“Sudah saya anggap ibu sendiri, siapa yang diharapkan kalau bukan kita,” katanya.
Mulanya kebiasaan membagikan sembako dia lakukan diam-diam. Istri dan keluarga tak tahu jika yang dipakai uang gaji pribadi. Lambat laun, hal itu terungkap. Tapi, dengan penuh pengertian kini istrinya mendukung apa yang dilakukan Aipda Fahri.

“Sekarang istri yang beli bahan pokok itu, kemudian di rumah dia yang membungkusnya dibantu anak-anak. Saya yang mengantar ke warga-warga,” ceritanya dengan wajah semringah.

Setiap bulannya ada sepuluh sampai lima belas paket sembako yang dibagikan. Sasarannya anak yatim, lansia, dan warga ekonomi rendah. “Niat saya hanya ingin membantu. Di dalam gaji kita ada hak orang lain 2,5 persen disedekahkan untuk membersihkan harta kita,” katanya.

Dalam perjalanan karirnya, Aipda Fahri sudah melewati masa bitter sweet menjadi Bhabinkamtibmas. Dedikasinya melayani masyarakat tak bisa dikecilkan. Ada beberapa pengalaman yang paling membekas.
Kala itu, Aipda Fahri harus membawa warga untuk berobat. Di dompetnya hanya tersisa uang Rp50 ribu. Dalam perjalana ia gundah, takut uangnya tidak cukup.

“Alhamdulillah saat itu cukup, walaupun uang di dompet langsung habis,” bebernya.

Kemudian dia pernah membantu warga terlantar. Sebenarnya warga tersebut memiliki anak dan istri. Tapi mereka tidak mengurusnya. Warga terlantar itu dulu orang kaya, kemudian sakit strok dan ditinggal sendiri di rumah.

Baca Juga :  Vaksin Booster Mulai Disuntikkan , Sasarannya Masih untuk Lansia

Aipda Fahri sempat wira-wiri ke rumah sakit mengantar berobat selama dua bulan. Namun karena keterbatasan dana, lambat laun nyawa warga itu tidak tertolong. Dia juga yang menanggung proses pemakaman.

“Air mata saya menetes meratapi nasibnya. Kenapa keluarganya setega itu meninggalkan. Hanya karena faktor ekonomi mengesampingkan sisi kemanusiaan,” ujarnya.

Selain dikenal ikhlas dan bertanggung jawab. Aipda Fahri juga sosok yang religius. Dia selalu hadir di majelis guru Bhakiet (ulama besar asal HST di Kalimantan Selatan). Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Muhibbin, memiliki jamaah hinga puluhan ribu. Sudah sepuluh tahun dia ikut dan mendampingi dakwahnya.

“Pesan khusus dari guru yang selalu saya ingat, berbuat baiklah selama kamu mampu,” ucapnya.

Kehadirannya dipandang terhormat oleh warga. Sosoknya begitu hangat dan bisa merangkul. “Sesuai perintah Pak Kapolri, polisi harus berubah dan disenangi masyarakat. Yang penting kita berbuat baik untuk masyarakat,” pungkasnya.

Kelurahan Barabai Darat tercatat memiliki penduduk sebanyak 12.000. Wajar jika masalah yang dihadapinya cukup beragam. Dengan penduduk sebanyak itu tentu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk bermasyarakat, menolong warga dan sebagainya.

Ditambah biaya kehidupan keluarga Bhabinkamtibmas itu sendiri. Seandainya tunjangan Bhabinkamtibmas bisa ditambah mungkin pekerjaan mereka akan menjadi lebih ringan. (jpg)

Aipda Fahriansyah (39) berdinas di Polres Hulu Sungai Tengah (HST). Bertugas menjadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Kalimantan Selatan. Sosoknya dikenal ikhlas dan bertanggung jawab.

***

AIPDA Fahri (sapaan akrab) sudah empat tahun menjadi Bhabinkamtibmas. Dia ikhlas menolong warga, caranya menyisihkan gaji untuk dibelikan berbagai kebutuhan pokok.

Salah satu warga yang rutin dibantu bernama Misbah (53). Misbah seorang janda tua dan tunawisma. Tinggal di gubuk beralas tanah beratap karung berdinding kain spanduk. Gubuk itu berdiri di lahan bekas pabrik karet milik warga.

Ironinya, lokasi tersebut di wilayah perkotaan. Jarak dari kantor pemerintah setempat hanya tiga menit menggunakan sepeda motor.

“Saya sudah minta izin agar nenek Misbah boleh tinggal di situ. Gubuknya juga tidak permanen. Juga tidak mengganggu aktivitas,” kata Aipda Fahri ditemui penulis, Rabu (12/6/2024).

Misbah hidup sebatang kara. Hanya bisa bekomunikasi dengan orang tertentu. Hal itulah membuat Aipda Fahri iba. “Untuk makan saja mengharap bantuan orang lain. Ada bantuan pemerintah tapi tidak menentu,” ceritanya.

Dalam satu bulan, dia bisa empat sampai lima kali mengunjungi Misbah. Mengantarkan bantuan, atau sekadar melihat kondisi kesehatan. Sebab diusianya yang renta, Misbah sering dilanda sakit.

Keluarga Misbah sendiri sudah tak peduli. Mereka tidak mau lagi mengurus. Sekarang, hanya Aipda Fahri yang mau merawat dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Baca Juga :  Kue Kering Laris Manis, Pernak Pernik Natal Diburu Pembeli

“Sudah saya anggap ibu sendiri, siapa yang diharapkan kalau bukan kita,” katanya.
Mulanya kebiasaan membagikan sembako dia lakukan diam-diam. Istri dan keluarga tak tahu jika yang dipakai uang gaji pribadi. Lambat laun, hal itu terungkap. Tapi, dengan penuh pengertian kini istrinya mendukung apa yang dilakukan Aipda Fahri.

“Sekarang istri yang beli bahan pokok itu, kemudian di rumah dia yang membungkusnya dibantu anak-anak. Saya yang mengantar ke warga-warga,” ceritanya dengan wajah semringah.

Setiap bulannya ada sepuluh sampai lima belas paket sembako yang dibagikan. Sasarannya anak yatim, lansia, dan warga ekonomi rendah. “Niat saya hanya ingin membantu. Di dalam gaji kita ada hak orang lain 2,5 persen disedekahkan untuk membersihkan harta kita,” katanya.

Dalam perjalanan karirnya, Aipda Fahri sudah melewati masa bitter sweet menjadi Bhabinkamtibmas. Dedikasinya melayani masyarakat tak bisa dikecilkan. Ada beberapa pengalaman yang paling membekas.
Kala itu, Aipda Fahri harus membawa warga untuk berobat. Di dompetnya hanya tersisa uang Rp50 ribu. Dalam perjalana ia gundah, takut uangnya tidak cukup.

“Alhamdulillah saat itu cukup, walaupun uang di dompet langsung habis,” bebernya.

Kemudian dia pernah membantu warga terlantar. Sebenarnya warga tersebut memiliki anak dan istri. Tapi mereka tidak mengurusnya. Warga terlantar itu dulu orang kaya, kemudian sakit strok dan ditinggal sendiri di rumah.

Baca Juga :  Vaksin Booster Mulai Disuntikkan , Sasarannya Masih untuk Lansia

Aipda Fahri sempat wira-wiri ke rumah sakit mengantar berobat selama dua bulan. Namun karena keterbatasan dana, lambat laun nyawa warga itu tidak tertolong. Dia juga yang menanggung proses pemakaman.

“Air mata saya menetes meratapi nasibnya. Kenapa keluarganya setega itu meninggalkan. Hanya karena faktor ekonomi mengesampingkan sisi kemanusiaan,” ujarnya.

Selain dikenal ikhlas dan bertanggung jawab. Aipda Fahri juga sosok yang religius. Dia selalu hadir di majelis guru Bhakiet (ulama besar asal HST di Kalimantan Selatan). Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Muhibbin, memiliki jamaah hinga puluhan ribu. Sudah sepuluh tahun dia ikut dan mendampingi dakwahnya.

“Pesan khusus dari guru yang selalu saya ingat, berbuat baiklah selama kamu mampu,” ucapnya.

Kehadirannya dipandang terhormat oleh warga. Sosoknya begitu hangat dan bisa merangkul. “Sesuai perintah Pak Kapolri, polisi harus berubah dan disenangi masyarakat. Yang penting kita berbuat baik untuk masyarakat,” pungkasnya.

Kelurahan Barabai Darat tercatat memiliki penduduk sebanyak 12.000. Wajar jika masalah yang dihadapinya cukup beragam. Dengan penduduk sebanyak itu tentu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk bermasyarakat, menolong warga dan sebagainya.

Ditambah biaya kehidupan keluarga Bhabinkamtibmas itu sendiri. Seandainya tunjangan Bhabinkamtibmas bisa ditambah mungkin pekerjaan mereka akan menjadi lebih ringan. (jpg)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru