25.4 C
Jakarta
Sunday, January 11, 2026

Sirrul Cholil

Rahasia kekasih. Musim hujan yang datang lebih dini tidak hanya membuat banjir lebih besar. Juga membuat roda petani buah berputar ke bawah. Jambu air Madura yang terkenal itu pun kini sulit didapat. Kalau pun ada, rasanya tidak semanis dan sesegar biasanya.

Tapi durian Madura tetap enak. Durian Lerpak. Kecil-kecil tapi istimewa.

Lerpak adalah sebuah dusun di kecamatan Banjar (baca: benjeur), Bangkalan. Setelah Anda turun dari jembatan Suramadu teruslah berjalan lurus. Sampai mentok. Lalu belok kanan ke arah Sampang –jangan belok kiri, itu  ke arah Bangkalan.

Beberapa kilometer dari belokan itu sampailah Anda ke kota kecil: Tanah Merah. Setelah itu ada pertigaan. Anda belok kiri ke jalan kecil di pertigaan itu.

Itulah jalan yang diperbaiki oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Sampai pelosok Desa Lerpak, di atas bukit pedalaman Bangkalan.

Saat perbaikan jalan selesai tibalah masa kampanye Pilpres. Cawapres dari PDI-Perjuangan, tokoh Madura, Mahfud MD, ke pesantren Sirrul Cholil nun di ujung jalan itu. Padahal dengan memperbaiki jalan tersebut Khofifah ingin sekali merangkul Muqtafi Aschal –kiai muda di Sirrul Cholil.

Akhirnya Khofifah –pendukung Prabowo Subianto– tidak jadi ke Sirrul Cholil. Juga tidak pernah ada peresmian jalan yang kini mulus itu.

Electronic money exchangers listing

Sayalah yang menikmatinya: bulan lalu. Alam pedesaan Madura, di kanan kiri jalan itu, sangat rindang. Mungkin karena musim basah. Pedesaan alami. Rumah-rumah di sela pepohonannya banyak yang bercorak modern –pakai pilar-pilar putih model mini Romawi di depannya.

Agak tiba-tiba saya minta Kang Sahidin meminggirkan mobil ke jalan sempit itu: banyak yang berjualan durian. Musim durian di Madura mendahului Sidikalang. Nafsu tidak bisa ditahan lagi. Durian pun dibelah. Lalu masuklah banyak butiran berduri itu ke mobil. Sepanjang jalan aroma durian melekat di Denza.

Di situlah memang pusat durian Madura. Kecil-kecil. Bundar-bundar. Warnanya biru-daun –menimbulkan curiga: seperti durian masih muda. Ternyata rasanya sudah musangking. Hanya dagingnya tipis.

Di pesantren Sirrul Cholil saya bertemu Muqtafi. Ia keturunan ulama besar Madura, Syaichona Cholil –dari jalur istri yang lain. Begitu terpencil Desa Lerpak. Ayah Muqtafi-lah yang mendirikan pondok pesantren di situ. Tingkatnya, awalnya, hanya madrasah diniyah –hanya belajar agama.

Baca Juga :  Terowongan Hasidic

Waktu itu Muqtafi masih kecil. Nakal. Selalu membantah orang tua. Karena itu sang ayah menitipkan anak itu ke pondok pesantren di Pasuruan: Sidogiri.

 

Di sana Muqtafi tetap nakal. Tidak mau salat. Ia lebih suka nonton film. Dan jadi Boneknya Persebaya.

Tapi kiai di Sidogiri tidak mau menghukum atau menegur Muqtafi. Itu karena Muqtafi anak seorang kiai dan keturunan ulama besar.

Titik balik Muqtafi terjadi ketika salah satu kiai di Sidogiri, Mas Mohammad, memberinya kitab kecil ”Dalail”.

Muqtafi disuruh membacanya. Ia tertarik. Karena kecil. Ternyata menyukainya. Sangat menyukai. Mas Mohammad masih sepupu kiai utama Sidogiri, Cholil Nawawi.

Dalail adalah “buku wajib” di pesantren-pesantren NU. Isinya salawat untuk Nabi Muhammad. Penulisnya: ulama sufi terkemuka dari Maroko: Imam Jazuli. Lengkapnya: Imam Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli Al Simlali (meninggal 1465M). Nama lengkap kitab itu: Dalail Al Khairat.

Anda sudah tahu beda Dalail dan Barzanji. Dalail adalah murni berisi salawat (doa) untuk Nabi. Sedang Barzanji adalah bacaan riwayat hidup Nabi.

Dalail sangat populer di Indonesia. Isi seluruh kitab harus dibaca (umumnya dihafal) sampai selesai dalam waktu satu minggu. Itu sama dengan Anda membaca salawat terbanyak dalam hidup Anda.

Buku itu memang menomorsatukan salawat. Penulisnya sendiri menceritakan khasiat salawat yang menakjubkan. Di literatur pesantren selalu dikenang. Suatu saat Imam Jazuli mencari air untuk wudu –bersuci sebelum salat. Sumur yang ia temukan di dekat masjid  lagi mengering.

Ada anak kecil, wanita, melihat ulama besar itu seperti sangat membutuhkan air untuk wudu. Maka Si anak berkomat-kamit di dekat sumur. Tiba-tiba saja sumur itu penuh dengan air.

“Apa yang Anda komat-kamitkan sehingga sumur ini berisi air?”.

“Salawat pada Nabi,” jawab si anak.

Selesai berwudu Imam Jazuli langsung salat. Usai salat ia ingin mencari anak wanita tadi: sudah tidak terlihat. Sebagai ulama besar Imam Jazuli merasa “ditegur” oleh anak kecil: kurang membaca salawat.

Muqtafi-remaja terus membaca Dalail-nya Imam Jazuli. Ia berubah. Ayahnya tahu perubahan itu. Lalu diajak ke Makkah.

Baca Juga :  Kanjuruhan Mangindaan

Di Makkah ia belajar ke ulama-ulama besar di sana. Anda sudah tahu: santri dari Indonesia dikenal sangat sopan dan tawaduk –sampai merasa tidak sopan untuk mengajukan pertanyaan ke ulama di sana.

 

Muqtafi beda. Ia sering mengajukan pertanyaan. Saking seringnya sampai ia dicela banyak santri dari Indonesia.

Sang guru ternyata cukup terbuka: justru memuji kualitas pertanyaan Muqtafi. Bahkan akhirnya sang guru menyampaikan “fatwa” di depan murid-muridnya: “kunci ilmu ada di pertanyaan”.

Empat tahun Muqtafi di Makkah.

Pulang ke Madura ia menghadapi budaya lokal: dikawinkan saat masih muda. Dijodoh-jodohkan. Untuk anak kiai biasanya dijodohkan sesama anak kiai.

Muqtafi menolak tradisi dijodohkan itu. Ia menghindar. Caranya: berkelana. Ke berbagai daerah di Indonesia. Lalu ke Jakarta.

Di Jakarta itulah Muqtafi bergaul dengan berbagai intelektual muda Islam masa kini –saat itu. Sampai ke Paramadina –di situ bertemu Anies Baswedan. Juga dengan tokoh-tokoh Islam liberal seperti Ulil Abshar. Dengan orang-orang NU tingkat pusat. Dengan tokoh-tokoh Front Pembela Islam seperti Habib Riziq. Jakarta mengubah cara berpikir keagamaannya.

Di Jakarta pula Muqtafi jatuh cinta. Ia kenal putri lima ”i” tamatan SMA Sudirman Jakarta. Si putri sudah hampir jadi artis. Sudah ikut audisi untuk jadi bintang sinetron. Sudah seleksi tahap akhir.

Sang putri juga sedang menolak dijodohkan. Sedang dalam tahap akan dipaksa. Maka  hubungannyi dengan Muqtafi tidak direstui. “Kami ini praktis kawin lari,” ujar Muqtafi sambil menunjuk sang istri.

Setelah sang istri hamil barulah orang tua mereka merestui. Anak dalam kandungan itu kini baru saja diwisuda sebagai sarjana psikologi Universitas Airlangga Surabaya: Salwa Humairo. Cantik seperti ibunyi. Sudah pula punya adik tiga.

Salwa tidak terlihat mewarisi kenakalan ayahnyi. Karena itu tidak perlu menitipkan Salwa ke kiai teman ayahnya.

“Jangan menitipkan anak kiai ke kiai temannya. Kalau nakal dibiarkan. Tidak ditegur. Tidak dihukum,” ujar Muqtafi.

Sirrul Cholil tersembunyi di pelosok Bangkalan. Juga tersembunyi dari nama besar Syaichona Cholil. Kelihatannya kata “sirrul” sengaja dipilih karena maknanya itu: rahasia kekasih.(Dahlan Iskan)

 

Rahasia kekasih. Musim hujan yang datang lebih dini tidak hanya membuat banjir lebih besar. Juga membuat roda petani buah berputar ke bawah. Jambu air Madura yang terkenal itu pun kini sulit didapat. Kalau pun ada, rasanya tidak semanis dan sesegar biasanya.

Tapi durian Madura tetap enak. Durian Lerpak. Kecil-kecil tapi istimewa.

Lerpak adalah sebuah dusun di kecamatan Banjar (baca: benjeur), Bangkalan. Setelah Anda turun dari jembatan Suramadu teruslah berjalan lurus. Sampai mentok. Lalu belok kanan ke arah Sampang –jangan belok kiri, itu  ke arah Bangkalan.

Electronic money exchangers listing

Beberapa kilometer dari belokan itu sampailah Anda ke kota kecil: Tanah Merah. Setelah itu ada pertigaan. Anda belok kiri ke jalan kecil di pertigaan itu.

Itulah jalan yang diperbaiki oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Sampai pelosok Desa Lerpak, di atas bukit pedalaman Bangkalan.

Saat perbaikan jalan selesai tibalah masa kampanye Pilpres. Cawapres dari PDI-Perjuangan, tokoh Madura, Mahfud MD, ke pesantren Sirrul Cholil nun di ujung jalan itu. Padahal dengan memperbaiki jalan tersebut Khofifah ingin sekali merangkul Muqtafi Aschal –kiai muda di Sirrul Cholil.

Akhirnya Khofifah –pendukung Prabowo Subianto– tidak jadi ke Sirrul Cholil. Juga tidak pernah ada peresmian jalan yang kini mulus itu.

Sayalah yang menikmatinya: bulan lalu. Alam pedesaan Madura, di kanan kiri jalan itu, sangat rindang. Mungkin karena musim basah. Pedesaan alami. Rumah-rumah di sela pepohonannya banyak yang bercorak modern –pakai pilar-pilar putih model mini Romawi di depannya.

Agak tiba-tiba saya minta Kang Sahidin meminggirkan mobil ke jalan sempit itu: banyak yang berjualan durian. Musim durian di Madura mendahului Sidikalang. Nafsu tidak bisa ditahan lagi. Durian pun dibelah. Lalu masuklah banyak butiran berduri itu ke mobil. Sepanjang jalan aroma durian melekat di Denza.

Di situlah memang pusat durian Madura. Kecil-kecil. Bundar-bundar. Warnanya biru-daun –menimbulkan curiga: seperti durian masih muda. Ternyata rasanya sudah musangking. Hanya dagingnya tipis.

Di pesantren Sirrul Cholil saya bertemu Muqtafi. Ia keturunan ulama besar Madura, Syaichona Cholil –dari jalur istri yang lain. Begitu terpencil Desa Lerpak. Ayah Muqtafi-lah yang mendirikan pondok pesantren di situ. Tingkatnya, awalnya, hanya madrasah diniyah –hanya belajar agama.

Baca Juga :  Terowongan Hasidic

Waktu itu Muqtafi masih kecil. Nakal. Selalu membantah orang tua. Karena itu sang ayah menitipkan anak itu ke pondok pesantren di Pasuruan: Sidogiri.

 

Di sana Muqtafi tetap nakal. Tidak mau salat. Ia lebih suka nonton film. Dan jadi Boneknya Persebaya.

Tapi kiai di Sidogiri tidak mau menghukum atau menegur Muqtafi. Itu karena Muqtafi anak seorang kiai dan keturunan ulama besar.

Titik balik Muqtafi terjadi ketika salah satu kiai di Sidogiri, Mas Mohammad, memberinya kitab kecil ”Dalail”.

Muqtafi disuruh membacanya. Ia tertarik. Karena kecil. Ternyata menyukainya. Sangat menyukai. Mas Mohammad masih sepupu kiai utama Sidogiri, Cholil Nawawi.

Dalail adalah “buku wajib” di pesantren-pesantren NU. Isinya salawat untuk Nabi Muhammad. Penulisnya: ulama sufi terkemuka dari Maroko: Imam Jazuli. Lengkapnya: Imam Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli Al Simlali (meninggal 1465M). Nama lengkap kitab itu: Dalail Al Khairat.

Anda sudah tahu beda Dalail dan Barzanji. Dalail adalah murni berisi salawat (doa) untuk Nabi. Sedang Barzanji adalah bacaan riwayat hidup Nabi.

Dalail sangat populer di Indonesia. Isi seluruh kitab harus dibaca (umumnya dihafal) sampai selesai dalam waktu satu minggu. Itu sama dengan Anda membaca salawat terbanyak dalam hidup Anda.

Buku itu memang menomorsatukan salawat. Penulisnya sendiri menceritakan khasiat salawat yang menakjubkan. Di literatur pesantren selalu dikenang. Suatu saat Imam Jazuli mencari air untuk wudu –bersuci sebelum salat. Sumur yang ia temukan di dekat masjid  lagi mengering.

Ada anak kecil, wanita, melihat ulama besar itu seperti sangat membutuhkan air untuk wudu. Maka Si anak berkomat-kamit di dekat sumur. Tiba-tiba saja sumur itu penuh dengan air.

“Apa yang Anda komat-kamitkan sehingga sumur ini berisi air?”.

“Salawat pada Nabi,” jawab si anak.

Selesai berwudu Imam Jazuli langsung salat. Usai salat ia ingin mencari anak wanita tadi: sudah tidak terlihat. Sebagai ulama besar Imam Jazuli merasa “ditegur” oleh anak kecil: kurang membaca salawat.

Muqtafi-remaja terus membaca Dalail-nya Imam Jazuli. Ia berubah. Ayahnya tahu perubahan itu. Lalu diajak ke Makkah.

Baca Juga :  Kanjuruhan Mangindaan

Di Makkah ia belajar ke ulama-ulama besar di sana. Anda sudah tahu: santri dari Indonesia dikenal sangat sopan dan tawaduk –sampai merasa tidak sopan untuk mengajukan pertanyaan ke ulama di sana.

 

Muqtafi beda. Ia sering mengajukan pertanyaan. Saking seringnya sampai ia dicela banyak santri dari Indonesia.

Sang guru ternyata cukup terbuka: justru memuji kualitas pertanyaan Muqtafi. Bahkan akhirnya sang guru menyampaikan “fatwa” di depan murid-muridnya: “kunci ilmu ada di pertanyaan”.

Empat tahun Muqtafi di Makkah.

Pulang ke Madura ia menghadapi budaya lokal: dikawinkan saat masih muda. Dijodoh-jodohkan. Untuk anak kiai biasanya dijodohkan sesama anak kiai.

Muqtafi menolak tradisi dijodohkan itu. Ia menghindar. Caranya: berkelana. Ke berbagai daerah di Indonesia. Lalu ke Jakarta.

Di Jakarta itulah Muqtafi bergaul dengan berbagai intelektual muda Islam masa kini –saat itu. Sampai ke Paramadina –di situ bertemu Anies Baswedan. Juga dengan tokoh-tokoh Islam liberal seperti Ulil Abshar. Dengan orang-orang NU tingkat pusat. Dengan tokoh-tokoh Front Pembela Islam seperti Habib Riziq. Jakarta mengubah cara berpikir keagamaannya.

Di Jakarta pula Muqtafi jatuh cinta. Ia kenal putri lima ”i” tamatan SMA Sudirman Jakarta. Si putri sudah hampir jadi artis. Sudah ikut audisi untuk jadi bintang sinetron. Sudah seleksi tahap akhir.

Sang putri juga sedang menolak dijodohkan. Sedang dalam tahap akan dipaksa. Maka  hubungannyi dengan Muqtafi tidak direstui. “Kami ini praktis kawin lari,” ujar Muqtafi sambil menunjuk sang istri.

Setelah sang istri hamil barulah orang tua mereka merestui. Anak dalam kandungan itu kini baru saja diwisuda sebagai sarjana psikologi Universitas Airlangga Surabaya: Salwa Humairo. Cantik seperti ibunyi. Sudah pula punya adik tiga.

Salwa tidak terlihat mewarisi kenakalan ayahnyi. Karena itu tidak perlu menitipkan Salwa ke kiai teman ayahnya.

“Jangan menitipkan anak kiai ke kiai temannya. Kalau nakal dibiarkan. Tidak ditegur. Tidak dihukum,” ujar Muqtafi.

Sirrul Cholil tersembunyi di pelosok Bangkalan. Juga tersembunyi dari nama besar Syaichona Cholil. Kelihatannya kata “sirrul” sengaja dipilih karena maknanya itu: rahasia kekasih.(Dahlan Iskan)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru

/