PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemadaman listrik yang belakangan ini kerap terjadi di Kota Palangka Raya, mulai mengancam roda perekonomian lokal, khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sektor Food and Beverage, terutama Kedai Kopi (coffee shop), yang menjadi salah satu yang paling merasakan dampak kerugian dari pemadaman yang dinilai minim sosialisasi tersebut.

Salah satu Kedai Kopi dipalangka Raya,di Jl. Hendrik Timang Komplek Kampus Universitas Palangka Raya (UPR). Mengeluhkan bahwa durasi pemadaman yang tidak menentu sangat memukul operasional usahanya. Terlebih, pemadaman kerap terjadi pada waktu-waktu sibuk pelanggan.
“Pengaruh utamanya pada low customer itu berasa banget. Customer yang sudah ingin nongkrong akhirnya terganggu. Apalagi bagi kami yang posisinya lagi merintis dan sedang mencari market pasar, sangat terganggu dengan adanya kejadian mati lampu ini,” ungkap headbar kedai kopi tersebut, Fernando, Senin (29/6/2026).
Selain hilangnya potensi pendapatan dari pelanggan harian, Fernando menyoroti ancaman teknis yang bisa berujung pada kerugian finansial yang lebih besar. Mesin-mesin pembuat kopi yang membutuhkan daya listrik stabil sangat rentan mengalami kerusakan fatal jika listrik padam secara tiba-tiba tanpa penurunan daya bertahap.
“Tiba-tiba mati lampu, itu sangat berpengaruh pada maintenance (perawatan) mesin. Mesin kopi ini kan tidak bisa yang langsung kejeglek (padam mendadak) begitu. Otomatis bisa ada kerusakan parah yang cost nya (biaya perbaikan) juga mahal. Kami sebagai pelaku usaha harus berpikir keras mengantisipasi kejadian-kejadian seperti ini,” tegasnya.
Tidak hanya berdampak pada operasional bar, pemadaman listrik turut melumpuhkan sistem pembayaran digital di kasir. Hal ini diperparah dengan hilangnya sinyal dari beberapa penyedia layanan seluler selama pemadaman berlangsung.
“Mati lampunya ini juga memengaruhi beberapa jaringan provider tertentu, itu akhirnya mengganggu (komunikasi). Pembayaran yang sekarang serba cashless , akhirnya terpaksa kami layani secara manual pakai cash (tunai) seperti zaman dulu karena jaringan terganggu,” keluh Fernando.
Lebih lanjut, Fernando menyayangkan pemadaman yang memakan waktu hingga berjam-jam ini merusak agenda kedai yang telah disusun, termasuk acara nonton bareng (nobar) yang diproyeksikan menjadi penyumbang omzet terbesar hari itu.
“Biasanya sehabis Magrib itu customer pasti penuh. Nanti juga ada rencana nobar, kalau lampunya masih mati terus, padahal di situlah pundi-pundi kami mencari cuan (keuntungan), ya sangat disayangkan,” tambahnya.
Merespons ketidakjelasan informasi dari pihak PLN, Fernando menilai pesan siaran (broadcast) yang beredar terkait estimasi pemadaman hingga pukul 22.00 WIB tidak memberikan kejelasan karena minimnya pemberitahuan awal.
Ia menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya dan pihak penyedia layanan listrik untuk segera memperbaiki sistem komunikasi publik mereka.
“Harapannya untuk Pemkot Palangka Raya dan PLN terkait pemadaman listrik berkala ini, informasinya harus lebih meluas dan transparan lagi. Khususnya bagi coffee shop dan UMKM lain, agar kami yang sedang berusaha mencari pendapatan ini setidaknya bisa mengantisipasi apabila ada kejadian seperti ini agar tidak dadakan,” pungkas Fernando.
Pada saat ini, ditengah kegelapan malam, yang hanya diterangi cahaya bulan, pihak kedai hanya bisa memberikan lilin pada tiap meja pelanggan untuk penerangan,karena belum tersedianya genset untuk listirik.
Fernando juga mengingatkan agar krisis energi ini tidak dibiarkan berlarut-larut layaknya fenomena antrean BBM di masa lalu. (her)


