Pedagang UMKM Menjerit karena Elpiji Mahal, Rela Pangkas Untung demi Pertahankan Pelanggan

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Melonjaknya harga gas elpiji 3 kilo (subsidi) di tingkat eceran. Membuat para pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjerit.

Di tengah kenaikan sejumlah harga bahan pokok lainnya, harga gas elpiji di tingkat pengecer bahkan sempat menembus angka Rp45.000 hingga Rp50.000 per tabung.

Kondisi ini memaksa para pedagang kecil untuk memutar otak. Daripada kehilangan pelanggan, mereka memilih untuk menekan margin keuntungan alih-alih menaikkan harga jual dagangan.

Seorang pedagang gorengan di lingkungan kampus Universitas Palangka Raya, Hasan (26), mengungkapkan bahwa harga normal di tingkat pangkalan biasanya berada di kisaran Rp28.000. Namun, ketika pasokan di pangkalan kosong, ia terpaksa membeli di eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi.

“Baru-baru ini di eceran gas elpiji 3kg sekitar Rp30.000, tapi ada yang sampai Rp40.000, Rp45.000, bahkan kata orang ada yang sampai Rp50.000. Pas langka awal bulan kemarin, kami terpaksa beli yang harga Rp45.000,” ujar Hasan saat ditemui dilapak dagangannya, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga :  BRI Targetkan Penyaluran 20.000 Unit KPR FLPP di 2024, Simak Persyaratannya!

Meski biaya produksi membengkak, Hasan memilih tetap menjual dagangannya di harga Rp1.500 per gorengan Keputusan ini berdampak pada penyusutan omzet hariannya sekitar 20 persen.

“Lebih baik mempertahankan pelanggan daripada mereka menjauh. Kalau harga naik, takut pelanggan kecewa,” tambahnya.

Electronic money exchangers listing

Keluhan serupa datang dari penjual gorengan lainnya yang berdagang di kawasan pasar mini jl. pangeran samudra, Ani Purwati (51). Tingginya harga gas elpiji semakin mencekik usahanya karena berbarengan dengan naiknya harga bahan baku lain seperti minyak goreng, tepung, dan plastik pembungkus.

“Nggak bisa naikin harga, Ini wilayah anak kuliah, kasihan. Ini saja jual Rp5.000 dapat empat masih sering ditawar. Kalau harga dinaikkan, nanti kurang laku,” keluh Ani.

Baca Juga :  Madu Trigona BeeFam’s Kini Tembus Pasar Antar Pulau, Tumbuh Bersama LinkUMKM BRI

Kesulitan mendapatkan pasokan gas juga memaksanya mencari hingga jauh dari lokasi jualan.

“Sulit memang, sampai lari nyari gas ke Jalan Rajawali dari pasar sana. Pernah juga sampai nggak dapat sama sekali, akhirnya pinjam tabung gas tetangga, nanti kalau sudah ada baru diganti,” tuturnya menceritakan kejadian baru-baru ini.

Dalam sehari, baik Hasan maupun Ani bisa menghabiskan satu tabung gas untuk berjualan. Tingginya ketergantungan pada bahan bakar ini membuat mereka sangat rentan terhadap fluktuasi harga di pasaran.

Ke depannya, para pedagang kecil ini sangat berharap harga dan ketersediaan gas elpiji dapat kembali stabil.

Saat ini, harga ideal yang masih bisa dijangkau oleh pedagang kecil adalah suplai langsung dari truk distributor atau pangkalan resmi yang berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per tabung. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Melonjaknya harga gas elpiji 3 kilo (subsidi) di tingkat eceran. Membuat para pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjerit.

Di tengah kenaikan sejumlah harga bahan pokok lainnya, harga gas elpiji di tingkat pengecer bahkan sempat menembus angka Rp45.000 hingga Rp50.000 per tabung.

Kondisi ini memaksa para pedagang kecil untuk memutar otak. Daripada kehilangan pelanggan, mereka memilih untuk menekan margin keuntungan alih-alih menaikkan harga jual dagangan.

Electronic money exchangers listing

Seorang pedagang gorengan di lingkungan kampus Universitas Palangka Raya, Hasan (26), mengungkapkan bahwa harga normal di tingkat pangkalan biasanya berada di kisaran Rp28.000. Namun, ketika pasokan di pangkalan kosong, ia terpaksa membeli di eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi.

“Baru-baru ini di eceran gas elpiji 3kg sekitar Rp30.000, tapi ada yang sampai Rp40.000, Rp45.000, bahkan kata orang ada yang sampai Rp50.000. Pas langka awal bulan kemarin, kami terpaksa beli yang harga Rp45.000,” ujar Hasan saat ditemui dilapak dagangannya, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga :  BRI Targetkan Penyaluran 20.000 Unit KPR FLPP di 2024, Simak Persyaratannya!

Meski biaya produksi membengkak, Hasan memilih tetap menjual dagangannya di harga Rp1.500 per gorengan Keputusan ini berdampak pada penyusutan omzet hariannya sekitar 20 persen.

“Lebih baik mempertahankan pelanggan daripada mereka menjauh. Kalau harga naik, takut pelanggan kecewa,” tambahnya.

Keluhan serupa datang dari penjual gorengan lainnya yang berdagang di kawasan pasar mini jl. pangeran samudra, Ani Purwati (51). Tingginya harga gas elpiji semakin mencekik usahanya karena berbarengan dengan naiknya harga bahan baku lain seperti minyak goreng, tepung, dan plastik pembungkus.

“Nggak bisa naikin harga, Ini wilayah anak kuliah, kasihan. Ini saja jual Rp5.000 dapat empat masih sering ditawar. Kalau harga dinaikkan, nanti kurang laku,” keluh Ani.

Baca Juga :  Madu Trigona BeeFam’s Kini Tembus Pasar Antar Pulau, Tumbuh Bersama LinkUMKM BRI

Kesulitan mendapatkan pasokan gas juga memaksanya mencari hingga jauh dari lokasi jualan.

“Sulit memang, sampai lari nyari gas ke Jalan Rajawali dari pasar sana. Pernah juga sampai nggak dapat sama sekali, akhirnya pinjam tabung gas tetangga, nanti kalau sudah ada baru diganti,” tuturnya menceritakan kejadian baru-baru ini.

Dalam sehari, baik Hasan maupun Ani bisa menghabiskan satu tabung gas untuk berjualan. Tingginya ketergantungan pada bahan bakar ini membuat mereka sangat rentan terhadap fluktuasi harga di pasaran.

Ke depannya, para pedagang kecil ini sangat berharap harga dan ketersediaan gas elpiji dapat kembali stabil.

Saat ini, harga ideal yang masih bisa dijangkau oleh pedagang kecil adalah suplai langsung dari truk distributor atau pangkalan resmi yang berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per tabung. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru