27 C
Jakarta
Sunday, March 29, 2026

Berawal dari Baso Aci Rumahan, Tercabaikan Naik Kelas Lewat Pemberdayaan BRI

BANDUNG – Brand kuliner lokal Tercabaikan di Bandung terus mencuri perhatian lewat inovasi menu berbasis tepung aci seperti baso aci, cimol bojot, hingga cireng kuah. Mengusung konsep kuliner tradisional dengan sentuhan modern, Tercabaikan menghadirkan variasi menu kekinian yang relevan dengan selera pasar dan mudah ditemukan pencinta kuliner Bandung.

Tak sekadar menjual baso aci, Tercabaikan juga menawarkan beragam menu seperti mie kocok, kupat tahu, mie ayam, hingga cilok dengan pilihan topping dan kuah yang variatif. Inovasi rasa menjadi kunci, mulai dari baso aci kuah keju, seblak, soto, hingga kupat tahu dengan sambal geprek dan chili oil.

Pemilik Tercabaikan, Inggra DP, mengatakan ide usaha ini muncul saat melihat tingginya minat masyarakat terhadap baso aci di Garut. Pengalaman itu memicu dirinya untuk mencoba membuat versi sendiri di rumah.

Baca Juga :  Berkat Pemberdayaan BRI, Pengusaha UMKM Asal Sidoarjo Sukses Tembus Pasar Ekspor

“Awalnya saya berhenti kerja. Ide baso aci muncul waktu ke Garut, lihat ada toko ramai banget, orang sampai antre subuh. Dari situ saya penasaran, coba bikin sendiri di rumah, lalu saya jadikan oleh-oleh untuk keluarga,” kata Inggra.

Respons positif dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi titik awal berkembangnya usaha ini. Pada 2017, saat acara syukuran pernikahan, Inggra membagikan baso aci buatannya. Dari situ mulai berdatangan pesanan pre-order yang kemudian berkembang menjadi bisnis kuliner.

Di fase awal, Inggra menjalankan usahanya seorang diri, mulai dari belanja bahan baku, produksi, hingga pemasaran. Seiring waktu, pemasaran diperluas lewat kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, hingga WhatsApp Business dan layanan pesan antar.

Untuk meningkatkan kapasitas usaha, Inggra juga aktif mengikuti pelatihan, salah satunya melalui platform LinkUMKM BRI di Rumah BUMN Bandung.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  BRI Dukung Program Sapi Merah Putih, Dorong Swasembada Pangan Nasional

“Saya kenal LinkUMKM sekitar 2020 saat ikut pelatihan di Rumah BUMN. Programnya sangat membantu karena gratis dan materinya sesuai kebutuhan pelaku usaha, bahkan sampai topik kekinian seperti kecerdasan buatan,” ujarnya.

Hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha berbasis digital. Platform ini memiliki enam fitur utama, yakni UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB, serta didukung 750 modul pembelajaran.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyebut LinkUMKM dirancang sebagai ekosistem pembelajaran berkelanjutan bagi pelaku UMKM.

“Melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis lewat pelatihan yang relevan. Ekosistem ini juga membuka peluang memperluas jejaring dan pasar di era digital, sehingga UMKM bisa naik kelas dan berkontribusi lebih besar ke perekonomian,” kata Akhmad. ***

BANDUNG – Brand kuliner lokal Tercabaikan di Bandung terus mencuri perhatian lewat inovasi menu berbasis tepung aci seperti baso aci, cimol bojot, hingga cireng kuah. Mengusung konsep kuliner tradisional dengan sentuhan modern, Tercabaikan menghadirkan variasi menu kekinian yang relevan dengan selera pasar dan mudah ditemukan pencinta kuliner Bandung.

Tak sekadar menjual baso aci, Tercabaikan juga menawarkan beragam menu seperti mie kocok, kupat tahu, mie ayam, hingga cilok dengan pilihan topping dan kuah yang variatif. Inovasi rasa menjadi kunci, mulai dari baso aci kuah keju, seblak, soto, hingga kupat tahu dengan sambal geprek dan chili oil.

Pemilik Tercabaikan, Inggra DP, mengatakan ide usaha ini muncul saat melihat tingginya minat masyarakat terhadap baso aci di Garut. Pengalaman itu memicu dirinya untuk mencoba membuat versi sendiri di rumah.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Berkat Pemberdayaan BRI, Pengusaha UMKM Asal Sidoarjo Sukses Tembus Pasar Ekspor

“Awalnya saya berhenti kerja. Ide baso aci muncul waktu ke Garut, lihat ada toko ramai banget, orang sampai antre subuh. Dari situ saya penasaran, coba bikin sendiri di rumah, lalu saya jadikan oleh-oleh untuk keluarga,” kata Inggra.

Respons positif dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi titik awal berkembangnya usaha ini. Pada 2017, saat acara syukuran pernikahan, Inggra membagikan baso aci buatannya. Dari situ mulai berdatangan pesanan pre-order yang kemudian berkembang menjadi bisnis kuliner.

Di fase awal, Inggra menjalankan usahanya seorang diri, mulai dari belanja bahan baku, produksi, hingga pemasaran. Seiring waktu, pemasaran diperluas lewat kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, hingga WhatsApp Business dan layanan pesan antar.

Untuk meningkatkan kapasitas usaha, Inggra juga aktif mengikuti pelatihan, salah satunya melalui platform LinkUMKM BRI di Rumah BUMN Bandung.

Baca Juga :  BRI Dukung Program Sapi Merah Putih, Dorong Swasembada Pangan Nasional

“Saya kenal LinkUMKM sekitar 2020 saat ikut pelatihan di Rumah BUMN. Programnya sangat membantu karena gratis dan materinya sesuai kebutuhan pelaku usaha, bahkan sampai topik kekinian seperti kecerdasan buatan,” ujarnya.

Hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha berbasis digital. Platform ini memiliki enam fitur utama, yakni UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB, serta didukung 750 modul pembelajaran.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyebut LinkUMKM dirancang sebagai ekosistem pembelajaran berkelanjutan bagi pelaku UMKM.

“Melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis lewat pelatihan yang relevan. Ekosistem ini juga membuka peluang memperluas jejaring dan pasar di era digital, sehingga UMKM bisa naik kelas dan berkontribusi lebih besar ke perekonomian,” kata Akhmad. ***

Terpopuler

Artikel Terbaru