Kementerian Koperasi (Kemenkop) menjalin sinergi strategis dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Hal ini guna memperkuat upaya pengelolaan lingkungan hidup melalui pemberdayaan sektor koperasi.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, salah satu fokus utama kolaborasi ini adalah menggerakkan koperasi untuk mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat.
“Salah satu contohnya adalah bagaimana nanti minyak jelantah itu bisa dikumpulkan melalui kooperasi bisa melalui kooperasi-kooperasi desa, kelurahan,” ujar Ferry dalam Forum Ekonomi Hijau 2026 di Jakarta, Rabu (17/6).
Ferry, mengatakan minyak jelantah tersebut nantinya akan digunakan oleh PT Pertamina Patra Niaga, untuk membuat produk bahan bakar ramah lingkungan atau bioavtur.
Sebagaimana diketahui, bioavtur juga dikenal sebagai Sustainable Aviation Fuel atau SAF adalah bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang terbuat dari sumber daya hayati seperti minyak nabati seperti kelapa sawit, lemak hewan, atau limbah biomassa seperti minyak jelantah.
“Nanti minyak jelantahnya itu dibeli ole PT Pertamina Patra Niaga sebagai bioavtur,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menegaskan komitmen perusahaan sebagai penggerak utama dalam rantai pasok SAF nasional, mulai dari pengumpulan bahan baku dan penyimpanan lewat UCOllect Box hingga penyediaan bahan bakar bagi maskapai penerbangan.
“Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu penghasil minyak jelantah terbesar, dan SAF menjadi solusi untuk mengubah limbah sehari-hari menjadi energi berkelanjutan yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung masa depan yang lebih hijau,” ujar Mars Ega melalui siaran pers.
Sebagai wujud komitemen terhadap penggunaan SAF, pada tahun 2024 Pertamina Patra Niaga telah meraih sertifikasi ISCC CORSIA dan ISCC EU untuk Aviation Fuel Terminal di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, menandai kepatuhan terhadap standar keberlanjutan global serta menjadi pelopor di Asia Tenggara.
Kemudian pada 2025, Pertamina Patra Niaga juga sukses memasok SAF berbasis minyak jelantah produksi dalam negeri dari PT KPI untuk Pelita Air di Bandara Soekarno-Hatta, serta memperluas sertifikasi ISCC CORSIA dan ISCC EU ke Aviation Fuel Terminal di Bandara Halim Perdanakusuma.
“Jadi, minyak jelantah itu awalnya diekspor ke negara-negara tetangga. Nah, tapi mulai beberapa bulan terakhir ini ternyata Pertamina udah bisa mengolah sendiri dengan memanfaatkan minyak jelantah ini sebagai campuran (bahan bakar pesawat) ya. Dan itu sudah bisa dibuktikan dengan penerbangan pertama Jakarta-Bali,” tutur Mars Ega.(jpc)


