NANGA BULIK, PROKALTENG.CO -Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tingkat pengecer memicu antrean kendaraan yang mengular hingga berkilo-kilometer di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Lamandau, Rabu (12/8/2026).
Penumpukan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, terlihat padat merayap sejak pagi hari dan mengganggu arus lalu lintas di sekitar area SPBU.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi antrean panjang ini terjadi akibat habisnya pasokan BBM di tingkat kios eceran. Fenomena tersebut memaksa masyarakat berbondong-bondong beralih ke SPBU resmi untuk mengisi bahan bakar, sehingga volume kendaraan melonjak drastis melebihi kapasitas area pengisian.
Situasi ini memicu gelombang keluhan dari para pengguna jalan. Banyak pengendara sepeda motor dan pengemudi mobil mengaku terpaksa mengorbankan waktu kerja dan aktivitas harian mereka demi mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan alokasi BBM.
Para warga menyatakan bahwa antrean yang tidak mengalir lancar ini mulai mengganggu stabilitas kegiatan ekonomi lokal. Para pekerja, pengangkut logistik, hingga penyedia jasa transportasi umum menjadi pihak yang paling terdampak karena mobilitas mereka terhambat secara signifikan.
“Kosongnya persediaan di tingkat pengecer ini menjadi pemicu utama kami warga lebih memilih bertahan di antrean SPBU demi mendapatkan harga resmi, dari pada beli di pengecer walaupun ada jualnya melambung tinggi sampai 15 ribu dan 20 ribu,” ungkap Anto, kepada Wartawan.
Melonjaknya permintaan di SPBU resmi dalam waktu bersamaan akhirnya menciptakan kemacetan panjang hingga memakan sebagian bahu jalan utama.
Masyarakat Kabupaten Lamandau kini berharap pemerintah daerah dan pihak berwenang segera turun tangan melakukan evaluasi distribusi serta penertiban pasokan BBM.
“Langkah cepat dari pemangku kebijakan sangat dibutuhkan agar kondisi pasokan kembali stabil dan lalu lintas di sekitar SPBU dapat berjalan normal,” pungkasnya. (bib)
NANGA BULIK, PROKALTENG.CO -Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tingkat pengecer memicu antrean kendaraan yang mengular hingga berkilo-kilometer di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Lamandau, Rabu (12/8/2026).
Penumpukan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, terlihat padat merayap sejak pagi hari dan mengganggu arus lalu lintas di sekitar area SPBU.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi antrean panjang ini terjadi akibat habisnya pasokan BBM di tingkat kios eceran. Fenomena tersebut memaksa masyarakat berbondong-bondong beralih ke SPBU resmi untuk mengisi bahan bakar, sehingga volume kendaraan melonjak drastis melebihi kapasitas area pengisian.
Situasi ini memicu gelombang keluhan dari para pengguna jalan. Banyak pengendara sepeda motor dan pengemudi mobil mengaku terpaksa mengorbankan waktu kerja dan aktivitas harian mereka demi mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan alokasi BBM.
Para warga menyatakan bahwa antrean yang tidak mengalir lancar ini mulai mengganggu stabilitas kegiatan ekonomi lokal. Para pekerja, pengangkut logistik, hingga penyedia jasa transportasi umum menjadi pihak yang paling terdampak karena mobilitas mereka terhambat secara signifikan.
“Kosongnya persediaan di tingkat pengecer ini menjadi pemicu utama kami warga lebih memilih bertahan di antrean SPBU demi mendapatkan harga resmi, dari pada beli di pengecer walaupun ada jualnya melambung tinggi sampai 15 ribu dan 20 ribu,” ungkap Anto, kepada Wartawan.
Melonjaknya permintaan di SPBU resmi dalam waktu bersamaan akhirnya menciptakan kemacetan panjang hingga memakan sebagian bahu jalan utama.
Masyarakat Kabupaten Lamandau kini berharap pemerintah daerah dan pihak berwenang segera turun tangan melakukan evaluasi distribusi serta penertiban pasokan BBM.
“Langkah cepat dari pemangku kebijakan sangat dibutuhkan agar kondisi pasokan kembali stabil dan lalu lintas di sekitar SPBU dapat berjalan normal,” pungkasnya. (bib)